Showing posts with label tulang tangan retak. Show all posts
Showing posts with label tulang tangan retak. Show all posts

Tuesday, October 28, 2014

Cerita tentang Tulang Jari Retak

Sekedar membagi informasi dan pengalaman, mana tahu ada pembaca atau teman-teman yang sedang mengalami hal serupa. Semua cerita saya mengenai tulang jari yang retak ini bisa dijadikan referensi berpikir, mengambil keputusan atau berobat. Semoga bermanfaat.

Kronologi kejadian
Bulan Agustus 2014 lalu, saat saya terjun dari kapal untuk berenang di Pulau—disertai dengan perasaan takut kelelep—tak sengaja jari saya terbentur kayu (mirip ayunan—biasa digunakan sebagai alat panjat untuk naik ke kapal atau turun ke laut). Entah karena waktu itu ombak lagi lumayan besar, atau momentum ketika saya terjun ke bawah yang lumayan kencang, saya mendapati jari tengah saya bengkok ke kiri dengan nyeri seperti kram. Teman saya bilang, itu kram karena saya terlalu panik. Akhirnya, saya pun menuruti sarannya untuk menggerak-gerakkan jari di air sambil terus berenang, namun nyerinya tak kunjung hilang, dan jari saya tidak lurus lagi. Sampai akhirnya kembali ke kapal, jari saya jadi semakin bengkak dan membiru. Teman-teman menyarankan mencari tukang urut (di mana juga susah banget nyari tukang urut di daerah pulau Lampung), dan saya sendiri yang terlalu takut diurut karena merasa akan memperparah. Akhirnya, berbekal informasi sekilas yang saya baca dari internet, saya pun mengompres jari saya dengan es, dan harus menunggu pulang Jakarta untuk ke Rumah Sakit. FYI, setelah dikompres dengan es-pun, bengkak di jari saya tidak mengempes, malah makin membiru dan tidak bisa ditekuk lagi.

Foto ini diambil dalam kapal pulang ke Jakarta, bengkak dan bengkok. Sakit banget.

Pulang ke Jakarta
Keesokan harinya, saya pun menuju ke Rumah Sakit swasta yang cukup terkenal di daerah Jakarta Barat, niatnya sih hanya ingin rontgen untuk memastikan apakah ada tulang yang retak, atau hanya engsel jari yang bergeser. Tapi, prosedur rumah sakit mengharuskan surat referensi dari dokter tulang—(seperti biasa) LAMA banget, hanya untuk divonis harus operasi dan jangan ke tukang urut, karena yah, benar, tulang jari tengah saya patah. Begitu kata dokternya.

Perhatikan yang dilingkar merah

Begitu melihat rincian biaya operasi (yang entah kenapa dikategorikan di golongan besar), saya langsung lemas. 15 juta, bo. belom juga termasuk obatnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari nyokap temen yang koneksinya luas, yang akhirnya mengantarkan saya pada pengobatan alternatif aka. Sin She. (FYI, waktu saya kelas 5 SD, saya juga pernah jatuh dari sepeda, akibatnya tulang di lengan kiri saya retak, dan juga sembuh dengan pengobatan dari Sin She legendaris di Pekanbaru). Berbekal nekat, kami pun menyambangi rumah Sin She, sore-sore, untung prakteknya belom tutup. Sin She tersebut mempelajari hasil rontgen saya, berkata bahwa ini hanya retak, dan ia sanggup menyembuhkannya, asal tahan sakit. Saya pikir, sakit itu sudah pasti, apalagi dengan keadaan jari saya yang sudah didiamkan seharian, tetap saja harus saya alami. Sin She membalut jari tengah dan jari manis saya dengan sanggaan bambu dan ramuan herbal, memberi saya obat, dan menyuruh saya untuk datang 3 hari kemudian.

jari udah kayak pisang

Setelah berobat sekitar 5 kali, Sin She berkata tidak perlu datang lagi karena jari saya akan sembuh seperti sedia kala, asal rutin latihan gerak saja. Saya pun pergi ke retret di Mega Mendung, Puncak yang lembab dan dingin, berbekal obat dari Sin She juga. Retret berlangsung selama 9 hari, dan di sela-sela itu, saya juga rajin latihan menggerak-gerakkan jari saya di dalam air hangat yang berisi larutan garam. Saking rajinnya, kulit saya sampai melepuh dan menggembung, sepertinya faktor iklim dingin di sana juga. Pulang dari Puncak, saya sempat penasaran dan akhirnya memutuskan untuk pergi rontgen sekali lagi (di rumah sakit yang berbeda—namun masih di kawasan Jakarta Barat), dengan hasil yang mengecewakan lagi. Dokter tulang tetap menyarankan saya untuk operasi ditambah fisioterapi, karena jari saya masih belum sembuh total. Jadilah saya galau lagi (kayaknya emang ngga boleh nih ke rumah sakit sendirian, bisa diserang penyakit bimbang mendadak, hehehe). Untung saja, saya orangnya memang kepo dan suka mengobrol, bahkan ketika di rumah sakit saja, saya berkenalan dengan sepasang suami istri, dan si ibu dengan pede menyarankan saya tidak usah mengikuti saran si dokter. Usut punya usut, suaminya juga pernah mengalami kecelakaan parah di mana tulangnya juga pada patah, dan sembuh tanpa harus operasi.

perhatikan lingkaran merah, ada perubahan ngga?

Keesokan harinya, saya nyamperin Sin She saya lagi, dan ia pun terheran-heran dengan kedatangan saya. Sin She melihat hasil rontgen ke dua saya, berkata bahwa tulangnya sudah nyambung kembali, dan garis yang terlihat di rontgen itu hanyalah bekas retakan tulang. Ia menyarankan saya untuk tetap rajin latihan gerak, konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kalsium, dan dijaga baik-baik.


Tips dan Saran:
Sifat alami tulang adalah dapat sembuh sendiri, dengan jangka waktu yang lumayan panjang tentunya. Sekitar 3 bulan sampai setahun. Tergantung tingkat keparahannya. Tujuan pemberian obat dari Sin She maupun dokter adalah untuk mempercepat proses tersebut. Bahkan, tanpa diobati pun, tulang yang retak bisa sembuh sendiri. Hanya saja, untuk posisi tulang yang bergeser, dibutuhkan ‘profesional’ untuk ‘merapikannya.’

pasca buka perban. masih hitam dan banyak kulit mati yang belom 'mengelopek.'
  • Menurut Sin She, orang yang tulangnya lagi terluka tidak boleh mengangkat barang yang berat, tersenggol, terbentur, dan makan atau minum yang dingin-dingin (baik itu es atau makanan ‘dingin’ seperti kol, bayam, sayur putih, dll). Tapi, kata teman saya yang notabenenya adalah dokter, itu hanyalah mitos. Well, kembali lagi ke pribadi masing-masing untuk percaya atau tidak.
  • Perbanyak konsumsi makanan atau minuman yang mengandung kalsium, seperti susu, ikan teri medan, kacang-kacangan, dll
  • Jari adalah alat gerak yang sangat, sangat bermakna. Mulai dari mengetik, mengupil, mandi, dan kawan-kawan. Disarankan untuk jangan terlalu stres ketika hanya mampu menggunakan satu tangan untuk beraktivitas (which is pasti jadi lebih lamban). Bersabarlah, dan perbanyak mengobrol dengan orang-orang terdekat. Jangan terlalu memikirkan kondisi tulang, apalagi tidak sabaran—karena tulang juga butuh waktu untuk menyembuhkan diri. “Orang sakit itu harus hepi, dengan begitu sel-sel di tubuhnya akan lebih cepat beregenerasi”dikutip dari nasehat temen saya yang gemes melihat saya stres kala itu.
  • Dengan mengobrol dan saling berbagi, saya juga sadar ternyata banyak sekali orang di sekitar saya yang juga pernah mengalami tulang yang patah atau retak—bahkan sodara tukang taksi yang saya tumpangi! Mostly, mereka juga tidak operasi. No offense, anyway.
  • Untuk meredakan nyeri dan melemaskan otot, disarankan untuk merendam bagian yang sakit ke dalam air garam yang hangat (saya sendiri juga merasa sangat nyaman dan ringan begitu sudah direndam, dan ketika selesai, tangan saya kembali kebas karena masih memar dan aliran darah belum begitu lancar. Tidak apa-apa, lakukanlah dengan rutin).
  • Yang paling penting: Rajin-rajin cari informasi, batasi ruang gerak bagian tubuh yang terluka untuk sementara waktu, dan berdoa. Stay happy!

kondisi jari tengah setelah hampir 3 bulan. masih sedikit bengkak, tapi sudah bisa ditekuk sempurna.

Overall, pilihan untuk operasi atau pengobatan alternatif kembali lagi pada kondisi luka dan pertimbangan masing-masing. Ini hanya sekedar pengalaman saya, berharap ini bermanfaat dan ingatlah terus... kamu tidak sendiri! Mengutip kata-kata teman saya, “Seseorang pasti pernah mengalami tulang yang patah atau retak—at least sekali seumur hidupnya.”

Ya, kalo perlu sih jangan pernah, tapi kalau sudah kejadian, ingatlah untuk tetap tersenyum, karena ini hal yang wajar dan tidak perlu diresahkan secara berlebihan. Semoga cepat sembuh!

Oh ya, saya pun merasa termotivasi berkat membaca sharing pengalaman dari sini.


sekedar referensi saja, saya percaya selain Sin She Iwan (yang menangani saya),
masih banyak 'dokter alternatif' yang bisa teman-teman pertimbangkan