Sunday, January 11, 2015

The TEDx Talks' After Effect: Oh-so Magicalitas!

Beberapa saat yang lalu, saya lagi-lagi mendapat email dari TEDx Talks Jakarta yang dengan ramah menanyakan kabar dan follow up  event TEDx lalu dengan link video TED yang pernah ditayangkan. Tergerak oleh email tersebut, saya yang memang sudah sejak lama ingin sekali menulis - lebih tepatnya memberi testimoni kereeeeen untuk acara TEDx yang digelar di Tzu Chi Centre, PIK ini... tapi karena kurang pandai mengatur waktu... Ah, sudahlah, here is it! (finally!) Judulnya pun tidak akan review-review lagi, tapi bagaimana acara ini sukses 'menampol' kecenderungan hidup saya, terutama di sisi social media yang biasanya hanya saya isi dengan 'pameran-sana-sini.' 



The TEDx Talks' After Effect: Oh-so Magicalitas!

Magicalitas memang tidak ada di kamus, tapi begitu ikut acara ini... oke, kata ini eksis. Kata ini disebut oleh salah satu pembicara, dan menurut saya cukup mewakilkan apa yang saya rasakan. Judul acara TEDx di penghujung tahun 2014 lalu adalah New Endings. Di kala orang-orang sudah bersiap-siap say bye-bye pada tahun 2014, pembicara-pembicara di TEDx malah menawarkan akhir yang baru. Semua pembicara yang hadir di kala itu masing-masing sangat unik, sesi-sesi yang tak pernah membosankan, dan terus memberikan perspektif baru yang meledakkan benak. Beberapa yang susah lupa adalah ungkapan pemilik Namaaz Dining, Andrian Ishak yang menampangkan foto seorang tukang sate, seraya berkata, "Saat itu saya berpikir, kalau saja tukang sate ini membuat makanan dengan passion, maka tidak hanya kebutuhan hidupnya yang terpenuhi; namun juga kebutuhan jiwanya." Dan, sulit sekali melupakan aksi chef ganteng dengan lilin yang ternyata adalah pisang bakar, dan juga bagaimana nitrogen menyulap makanan enak. Tentu saja, di balik semua itu, kata-katanya tentang tukang sate... akan saya simpan baik-baik sebagai acuan ketika hidup terasa seperti robot. Begitu juga dengan pengalaman hidupnya yang ketuaan saat melamar pekerjaan di hotel, belajar otodidak dan melakukan eksperimen... ternyata untuk menjadi chef handal, sekolah kuliner ke luar negeri bukanlah satu-satunya pilihan.

Cerita lain yang menginspirasi datang dari Pinot and Neverland Family. Di sesi mereka, saya sempat terheran-heran dengan tiga anak kecil yang duduk sambil jungkir balik di atas panggung tanpa merasa canggung ataupun menangis nyariin orangtua mereka. Awalnya saya pikir Arwen, Leia, dan Neo hanya anak-anak menggemaskan yang senang dengan mainan-mainan yang dibikin orangtua mereka. Tapi, sepanjang Pinot dan Dita bercerita mengenai kehidupan mereka di padang pasir, para krucil-krucil ini berhasil menyuguhkan film pendek SUPERKEREN yang dibuat hanya dalam waktu 18 menit! WOW! Lalu, ungkapan Dita berhasil 'menoyor' kepala saya, dan melejitkan ide: "Saya selalu bilang ke anak-anak, boleh bikin akun social media, tapi jangan untuk pamer foto selfie. Pamer itu pamerin karya."

Bareng Pinot and Neverland Family minus Mbak Dita.
Waktu itu, Mbak Dita lagi asik ngobrol. Next time mesti lengkap, nih!

Benar juga, ya. Kenapa tidak menguras otak kita untuk membuat karya-karya yang patut dibagikan dibanding sekedar foto restoran mana yang makanannya enak; tempat hang out mana yang dikunjungi weekend ini. I can do more, and let people inspired too! Seperti halnya karya-karya unik Pinot dan Dita (dan juga alien-alien kecilnya :3) yang menghibur dan menginspirasi, maybe i can do it with my way, too!

Lalu, dimulailah dari Instagram saya yang tidak lagi berisi foto ke-mana-lagi-ngapain melulu, dan dimulai jugalah kata-kata #NyarisPuitis yang kadang melenggang santai di benak saya, yang selalu tak sempat saya sergap, sampai akhirnya saya ikut TEDx Talks ini. Mungkin terlihat sederhana dan amatir, namun saya mulai menyukai kebiasaan baru saya... membawa notebook ke mana-mana, kalau tidak post it... atau apapun yang bisa ditulisi!

Tulisan ini terjadi begitu saja saat saya sedang menunggu jemputan teman.
Tujuannya sih makan-makan cantik, tapi kalau bisa sekaligus begini? ;)

Iseng-iseng di kantor. Senin terakhir di tahun 2014, hawa liburan di mana-mana.
Rupa-rupanya, senin yang satu ini bikin super malas;
tapi malah ngga malas nulis beginian, ya.

#JatuhCinta itu sejoli dengan post it warna pink.
Kata-kata indah selalu ditutup dengan bunyi yang sama pula.

Histeria setelah menonton Merry Riana!


Lagi-lagi hasil iseng di kantor. Kontradiktif yang manis, eh?

Inilah impact dari acara positif seperti TEDx Talks, mengarahkan haluan hidup ke arah yang memang benar. Mungkin saja, kita semua punya kreativitas dan kelebihan yang bisa kita eksplorasi lebih luas lagi, dan acara seperti ini bisa menjadi bohlam, yang mungkin saja... tidak hanya menerangi kepalamu sendiri, namun juga menerangi hidup orang-orang di sekitarmu! Why not? ;)

Semoga masih berkesempatan untuk terus ikut TEDx Talks, tidak hanya karena haus akan ide-ide yang patut disebarluaskan, tapi juga janji ketemuan lagi sama... teman-teman baru yang didapat dari acara ini juga! Yey! Fingercrossed! See ya in the next event!

Saturday, December 27, 2014

Merry Christmas with Merry Riana The Movie! (A Review)

Merry Riana bukan lagi sosok asing bagi saya. Hampir 3 tahun yang lalu, masih segar di benak saya, ketika ia datang ke kampus saya dan berbagi 'tips cantik' tentang Mimpi Sejuta Dolar, Merry Riana benar-benar cantik yang menginspirasi; dengan semangat yang mampu meledakkan seisi auditorium. Saya ingat sekali, ia meminta para penonton untuk meneriakkan mimpi kita masing-masing, dengan lantang, dengan berani. Mungkin, kalau saya tidak menghadiri seminarnya saat itu, saya tidak akan berani menerbitkan novel saya sendiri dan sampai kepada pekerjaan yang saya cintai. From the deepest of my heart, i would like to thank you, Miss Merry Riana. You're such an inspiration for pursuing my dreams.

Foto sebelah kiri bukan foto saya maupun teman saya, waktu itu masih malu-malu. 
Kita cuma berani foto sama tiketnya ajah :3

Anyway, lewat seminar kala itu, saya pun mulai tergelitik dengan kisahnya yang konon katanya akan diangkat ke layar lebar. Dan akhirnya, yes. Film ini berhasil membuat saya menangis dari menit ke-10 sampai... entahlah. Chelsea Islan berhasil memerankan Merry Riana dengan sangat optimal, mulai dari gestur, cara bicara yang tegas, tajam dan berapi-api, lari-larian yang bikin geleng-geleng kepala (ngga cape apa ya ini cewek, hahaha), sampai ekspresinya yang 'ngenes' aja masih terlihat cantik dan teutep bikin orang terenyuh. Penampilannya, mulai dari rambut yang lepek dan kusut, mukanya yang kena polusi, baju, tas, dan kets-nya yang 'mahasiswa banget,' semuanya terlihat nyata, wajar, dan (herannya) tetep cakep. Didukung dengan Dion Wiyoko sebagai Alva (well, the Alva has another story in this movie anyway, which is totally different with the novel) yang sangat kece jugakkk (walaupun hitam dan dekil), ditambah Kymberly Rider yang flawless, doi memang pas banget meranin ciwi kaya yang hobinya shopping.

nonton bareng Koko dan Dede, biar sesama sodara jadi termotivasi. ahey!

Adegan Merry yang berlari keluar-masuk dari satu toko ke toko lain untuk mencari pekerjaan, sampai ia memohon-mohon seorang wanita untuk mempekerjakannya di organisasi non-profit, Papa Merry yang menelepon untuk mengatakan belum bisa menengoknya ke Singapura, lalu mengucapkan selamat ulangtahun, doa Merry ketika ia meniup lilin, stress-nya ketika gagal, ketika terjadi masalah, sampai Merry yang tersenyum lebar sekali di masa-masa kejayaannya, lalu terpuruk lagi, lalu... ah, semua... semuanya begitu menyentuh hati. Film ini... film Indonesia... jarang sekali ada yang begitu dahsyat energinya, yang membuat saya keluar dari Bioskop dengan pipi yang masih sembab dan hati yang meluapkan emosi positif. Saya, akan menyelesaikan apa yang sudah saya pilih. Dengan sukses!

courtesy: xxi

Tentu saja, selain itu, banyak banget adegan lucu yang bikin ngakak. Mulai dari Julia Perez yang tampil sebagai cameo, bos Singapore Flyer yang lebay dengan singlish-nya heboh abis, sampai security indihe yang berhati hello kitty. Belum lagi ungkapan S.H.M.I.L.Y yang 'ah so sweet.' Penasaran? Sudahlah, ketawanya di dalem Bioskop aja, ya. Nyampur mungkin, sama airmatanya :')

courtesy: xxi

Namun sangat disayangkan, film ini terkesan tidak realistis. Dari cara Merry mendapatkan banyak uang sampai menyumbang acara kampus dan dielu-elukan teman-temannya, seingat saya beda dengan kisah Merry asli yang sukses dari asuransi. Ditambah cara Merry di film yang sukses mendapatkan sejuta dolar pertamanya juga agak aneh. Yang sampai terakhirnya, saya sempat terheran-heran, "that's it?" Mungkinkah karena pesan yang ingin disampaikan adalah: Berusahalah sebaik mungkin untuk mengejar impianmu, namun jangan lupa untuk tetap berbuat kebaikan?

Coba tebak, Merry Riana sedang berbicara dengan siapa?
Selain itu, tentu saja quote dalam film yang masih 'nyantol' sampai sekarang. Mengena sekali di hati, terutama yang (kira-kira) ini:
"Sekarang saya mengerti, mengapa saya diberi nama Merry Riana yang berarti Dua Kebahagiaan. Agar saya dapat membahagiakan orang-orang di sekitar saya, agar saya menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka."

dan juga yang ini:

tiketnya saya sayang-sayang.
pesan dari Mama Merry Riana saya tulis di catatan saya.
sampai saya foto di depan pohon natal. :')
Love it, i looooove it.
temukan juga quotes lain di instagram saya: @tanerina42
Film ini recommended banget untuk ditonton, tidak hanya bagi yang penasaran dengan kisah hidup Merry Riana, tapi untuk memantik kembali bara semangat yang mungkin sudah tertidur. Di penghujung tahun, di sela persiapan awal yang baru (lagi). 

And... keep inspire us, dear Miss Merry Riana! :*


PS: Officially fans berat Chelsea Islan mulai sekarang :3

Wednesday, December 24, 2014

Supernova Movie Review: Dongeng yang Tersesat di Sela Kota dan Puisi

Sudah seminggu yang lalu, tapi kadang puisi-puisi di film Supernova itu masih saja menggerayangi benak. Arghh. Beginilah kalau sudah jatuh cinta berat sama fiksi karangan Dewi Lestari. Ya memang, sedikit berlebihan untuk tidak bisa move on (gimana caranya move on kalau di kantor pun ada teman sejenis yang tergila-gila begini). By the way, pertama kali saya membaca Supernova saat masih kelas 2 SMP, 'novel berat' pertama yang membuat saya susah lepas, bahkan untuk pergi membeli bakmi saja harus ditenteng juga--sampai-sampai Mama saya jadi gemes. Sempat menjadi suka sama fisika untuk sesaat, dan makin kepingin belajar filosofi karena novel ini pula. 

ruang kantor Ferre yang seluas cakrawala
Pertama kalinya juga, jatuh cinta sama tokoh Arwin yang tidak mainstream. Helloooo. Suami mana yang akan dengan rela membiarkan istrinya selingkuh?! Dan pertama kalinya juga meleleh melihat tokoh Arwin yang akhirnya mencinta karena sudah begitu berani melepas. Jadiiii. Ketika film ini tayang di layar lebar, tentu saja saya sudah ngebet abissss kepingin nonton, lebih-lebih pada rasa penasaran tentang bagaimana tokoh-tokoh itu akan diperankan.


eksmud, dan pujangga? antik.

Awalnya sempat ragu dengan Herjunot Ali yang didapuk memerankan Ferre. Rasanya jauuuuuh banget sama gambaran di novel, tapi ternyata Ferre yang 'bergerak' ini cukup melelehkan juga. Namun, disayangkan sekali, akting mereka semua KAKU sekaliiiii. Dialog yang terucap seperti hafalan belaka, apalagi di bagian awal perkenalan Ferre dan Rana. Sempat heran sih, Herjunot Ali dan Raline Shah 'kan sudah pernah main film bareng. Tapi seiring plot yang berjalan, dialog antar mereka pun mulai terlihat lugas dan mengalir. Chemistry yang tercipta juga kena banget, begitu juga dengan Fedi Nuril yang memerankan Arwin, terlihat seperti mas-mas kaku yang berusaha membahagiakan istrinya tapi gagal terus. 

tapi saya tetep demen kok, sama mas :3

Tidak bisa dipungkiri, film ini seperti puisi berjalan dengan pemandangan yang memanjakan mata. Mulai dari kantor megah Ferre, lingkungan cluster Ferre dan Diva, LABUAN BAJO KYAAAAA!, dan juga rumah Arwin dan Rana yang antik nan eksotis, namun suram. Artistik yang menarik, puitis yang romantis. (Halah, apa-apaan ini, terbawa suasana Supernova kan kan kan.)


Pasangan homo yang bisa 'dimaklumi'

Sementara itu, pasangan Ruben dan Dhimas cukup menyayat hati dan membuat saya menggeleng-geleng. Gila deh, akting Hamish Daud dan Arifin Putra bagus bangetttt! Ditambah dengan animasi ketika badai serotonin yang (akhirnya ada juga film indonesia yang ngga mirip sama sinetron silat di indo**ar! haha!) memperindah adegan mereka. Demikian juga dengan kisah Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang cukup dramatis dan terlihat hi-tech.

cukup deg-degan di bagian ini. drama abissss.

Ada beberapa bagian skenario yang berbeda dengan novel aslinya. Bagian Arwin yang marah dan menabrak rumah Ferre dengan mobil off-road nya, bawa-bawa pistol dengan kepala mengebul. Haha! Cukup menarik, tapi agak awkward bagi pecinta novel seperti saya. Begitu pula dengan bagian Gio yang sudah saya nanti-nantikan, tapi pria menawan itu tidak muncul sampai akhir film. Argh. Sudahlah, setidaknya scene Ferre yang menodongkan pistol ke kepalanya sendiri dan serentetan dialog untuk dirinya sendiri itu sangat dramatissss and i loooove it so much. Akting Herjunot makin bagus aja nih, apalagi saat dia 'ngomel' ke Rana tentang hubungan mereka di Rumah Sakit. Ferre abissss.


supernova: film yang banjir quote


Quote-quote yang bertebaran di film ini juga kaya pake banget. Melimpah! Sampai-sampai jadi bingung mau inget yang mana, hahaha!

"Kamu mencintaiku dengan tepat, Re." - Rana

"Sudahkah kau benar-benar jatuh, wahai yang sedang jatuh cinta?" - Diva

"Bahkan dalam keadaan yang nampaknya equilibrium atau seimbang, sesungguhnya chaos dan order hadir bersama seperti kue lapis, yang di antaranya terdapat olesan selai sebagai perekat. Selain itu adalah zona kuantum - rimba infinit di mana segalanya relatif, tidak ada yang pasti, hanyalah sekumpulan potensi dan probabilitas."
(credit: http://revi.us/badai-serotonin-fiksi-ilmiah-supernova/)

"Jangan menangis. Aku mohon. Kalau kamu benar-benar mencintainya, aku rela kamu pergi. Aku nggak akan mempersulit keadaanmu. Keadaan kita. Kita sama-sama sudah terlalu sakit. Bukan begitu? Aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Kamu nggak akan pernah tahu betapa besar perasaan ini. Perasaan ini, cukup besar untukku berjalan sendirian tanpa harus kamu ada. Tidak akan mudah, tapi aku nggak mau membuatmu tersiksa lebih lama lagi. Hanya saja, tolong. Jangan menangis lagi. Aku sudah terlalu sering mendengar kamu menangis diam-diam, dan itu sangat menyakitkan. Aku mohon." - Arwin.

"Lalu, idiot mana yang menulis 'Love shall set you free'? Tadinya, saya pikir, cinta seharusnya menjadi tiket menuju kebebasan, bukan pengorbanan." - Ferre.




Setidaknya, Supernova adalah perekat kangen. Yang kangen, boleh merapat. Dijamin menentramkan hati - walaupun hati masih mencelos karena ngga ketemu Gio sampai akhir cerita. Apa kabar film berikutnya? :')