Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Saturday, December 27, 2014

Merry Christmas with Merry Riana The Movie! (A Review)

Merry Riana bukan lagi sosok asing bagi saya. Hampir 3 tahun yang lalu, masih segar di benak saya, ketika ia datang ke kampus saya dan berbagi 'tips cantik' tentang Mimpi Sejuta Dolar, Merry Riana benar-benar cantik yang menginspirasi; dengan semangat yang mampu meledakkan seisi auditorium. Saya ingat sekali, ia meminta para penonton untuk meneriakkan mimpi kita masing-masing, dengan lantang, dengan berani. Mungkin, kalau saya tidak menghadiri seminarnya saat itu, saya tidak akan berani menerbitkan novel saya sendiri dan sampai kepada pekerjaan yang saya cintai. From the deepest of my heart, i would like to thank you, Miss Merry Riana. You're such an inspiration for pursuing my dreams.

Foto sebelah kiri bukan foto saya maupun teman saya, waktu itu masih malu-malu. 
Kita cuma berani foto sama tiketnya ajah :3

Anyway, lewat seminar kala itu, saya pun mulai tergelitik dengan kisahnya yang konon katanya akan diangkat ke layar lebar. Dan akhirnya, yes. Film ini berhasil membuat saya menangis dari menit ke-10 sampai... entahlah. Chelsea Islan berhasil memerankan Merry Riana dengan sangat optimal, mulai dari gestur, cara bicara yang tegas, tajam dan berapi-api, lari-larian yang bikin geleng-geleng kepala (ngga cape apa ya ini cewek, hahaha), sampai ekspresinya yang 'ngenes' aja masih terlihat cantik dan teutep bikin orang terenyuh. Penampilannya, mulai dari rambut yang lepek dan kusut, mukanya yang kena polusi, baju, tas, dan kets-nya yang 'mahasiswa banget,' semuanya terlihat nyata, wajar, dan (herannya) tetep cakep. Didukung dengan Dion Wiyoko sebagai Alva (well, the Alva has another story in this movie anyway, which is totally different with the novel) yang sangat kece jugakkk (walaupun hitam dan dekil), ditambah Kymberly Rider yang flawless, doi memang pas banget meranin ciwi kaya yang hobinya shopping.

nonton bareng Koko dan Dede, biar sesama sodara jadi termotivasi. ahey!

Adegan Merry yang berlari keluar-masuk dari satu toko ke toko lain untuk mencari pekerjaan, sampai ia memohon-mohon seorang wanita untuk mempekerjakannya di organisasi non-profit, Papa Merry yang menelepon untuk mengatakan belum bisa menengoknya ke Singapura, lalu mengucapkan selamat ulangtahun, doa Merry ketika ia meniup lilin, stress-nya ketika gagal, ketika terjadi masalah, sampai Merry yang tersenyum lebar sekali di masa-masa kejayaannya, lalu terpuruk lagi, lalu... ah, semua... semuanya begitu menyentuh hati. Film ini... film Indonesia... jarang sekali ada yang begitu dahsyat energinya, yang membuat saya keluar dari Bioskop dengan pipi yang masih sembab dan hati yang meluapkan emosi positif. Saya, akan menyelesaikan apa yang sudah saya pilih. Dengan sukses!

courtesy: xxi

Tentu saja, selain itu, banyak banget adegan lucu yang bikin ngakak. Mulai dari Julia Perez yang tampil sebagai cameo, bos Singapore Flyer yang lebay dengan singlish-nya heboh abis, sampai security indihe yang berhati hello kitty. Belum lagi ungkapan S.H.M.I.L.Y yang 'ah so sweet.' Penasaran? Sudahlah, ketawanya di dalem Bioskop aja, ya. Nyampur mungkin, sama airmatanya :')

courtesy: xxi

Namun sangat disayangkan, film ini terkesan tidak realistis. Dari cara Merry mendapatkan banyak uang sampai menyumbang acara kampus dan dielu-elukan teman-temannya, seingat saya beda dengan kisah Merry asli yang sukses dari asuransi. Ditambah cara Merry di film yang sukses mendapatkan sejuta dolar pertamanya juga agak aneh. Yang sampai terakhirnya, saya sempat terheran-heran, "that's it?" Mungkinkah karena pesan yang ingin disampaikan adalah: Berusahalah sebaik mungkin untuk mengejar impianmu, namun jangan lupa untuk tetap berbuat kebaikan?

Coba tebak, Merry Riana sedang berbicara dengan siapa?
Selain itu, tentu saja quote dalam film yang masih 'nyantol' sampai sekarang. Mengena sekali di hati, terutama yang (kira-kira) ini:
"Sekarang saya mengerti, mengapa saya diberi nama Merry Riana yang berarti Dua Kebahagiaan. Agar saya dapat membahagiakan orang-orang di sekitar saya, agar saya menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka."

dan juga yang ini:

tiketnya saya sayang-sayang.
pesan dari Mama Merry Riana saya tulis di catatan saya.
sampai saya foto di depan pohon natal. :')
Love it, i looooove it.
temukan juga quotes lain di instagram saya: @tanerina42
Film ini recommended banget untuk ditonton, tidak hanya bagi yang penasaran dengan kisah hidup Merry Riana, tapi untuk memantik kembali bara semangat yang mungkin sudah tertidur. Di penghujung tahun, di sela persiapan awal yang baru (lagi). 

And... keep inspire us, dear Miss Merry Riana! :*


PS: Officially fans berat Chelsea Islan mulai sekarang :3

Friday, October 10, 2014

In the Darkest Time

Kemerdekaan ternyata bisa dicicip dengan rasa lain, di antah berantah yang benar-benar baru, gunung dan pulau, seberang Jakarta. Kemerdekaan tidak berarti segala yang menyenangkan, tapi bertemu kesempatan untuk mencabik segala kesombongan dan kebaikan yang saya pikir telah cukup saya kumpulkan dan saya pamerkan.

Sakit yang mengoyak segala kepercayaan, ketidaknyamanan yang hampir membuat saya gila. Frustasi, karena terkungkung dalam ruang dengan oksigen yang kurang, bagi seekor burung hantu yang gemar berkelana lalu mengeluh lelah... semua bagai neraka. Saya tidak tahu harus bercerita kepada siapa, dan kalaupun saya sudah bercerita kepada teman-teman dekat saya, semua penghiburan mereka akan bertahan sejenak, lalu saya kembali tenggelam lagi dalam emosi yang menghimpit kebebasan untuk bernafas. Ini sebenarnya aneh, bahkan catatan-catatan akan masa berjaya, segala carik motivasi dan kebenaran yang berlembar-lembar, kadang hanya bertahan beberapa jam saja, lalu ketika saya menatap jari saya yang membengkak dan mulai berpusar dalam kekhawatiran... saya terlalu takut untuk menahan tangis dan... entahlah, mari dinamakan dengan emosi negatif.

Seperti bisa mendengar denyut sakitnya, yang kadang seperti mencubit gemas, kadang menggelitik sampai meringis. Saya hanya terus berusaha untuk menjadi waras, bertekad menjaganya sebaik yang saya bisa. Berkat sakit seperti ini, barulah saya benar-benar berhubungan dengan tangan saya, jari saya, tubuh saya. Satu saja bagian kecil yang terluka, ternyata berpengaruh di seluruh hidup saya. Satu utas jari, di tangan kanan, retak tulangnya dan dibebat sampai kaku. Semua demi kesembuhan, semua demi cinta, dan produktivitas. Kini, bekas bebatannya masih sedikit lebam dan bengkak, namun saya sudah bisa mengetik dan menulis dengan normal, setelah hampir dua bulanan menjadi sangat lamban.

Sakit, bisa membawa diri ke pemahaman diri sendiri pada tahap yang lebih dalam. Sakit, memaksa untuk berdamai dengan diri sendiri, lalu mencintai dan menerimanya apa adanya. Sakit, mendorong untuk melihat segala fenomena seperti adanya, hadir bersama rasa sakit dengan tulus, karena... tidak ada lagi yang bisa diupayakan, selain menerima.

Pelajaran dahsyat bagi saya, setelah bersenang-senang dan huru-hara dengan segala kebaikan yang selalu saya terima; hingga terperanjat ketika terseret dalam ketidakberdayaan. Tiada yang bisa dilakukan, selain menerima bahwa saya pernah sangat sombong, bahwa saya masih terus harus belajar, untuk menjadi tulus dan bersabar... pada diri sendiri, pada keadaan, pada pengalaman dan semua orang.

Menangislah, agar terus kuat.

Lalu berpalinglah dari sosok yang berpaling dari sinar mentari, lalu dengan keyakinan yang telah susah payah dipungut, jadilah percaya diri.

Dan sadar sepenuhnya, bahwa tidak ada yang tidak bisa dihadapi.

In the mean time,
when all my thoughts sink into negativity and lost hopes,
thank you for each occasions that made me realize how lucky i am. 

In the darkest moment,
i realized that it just me who turned aside from the sunshine.
And for every second of struggling with insanity,
i'm thankful for (still) embracing my inner peace inside my heart
... and still counting.


Rise.
Like the Sun.

Lalu,
bagaimana cara menghadapi segala ketidakberdayaan?
Menjadi bersyukur, dan melihat segala yang datang sebagai berkah, manusia-manusia yang membantu pertumbuhan, dan mengulurkan segala bantuan yang diperlukan.

Sulit memang, tapi setidaknya, akan ada lega di sela-sela sesak.

Mungkin itulah alasan, mengapa hati sebaiknya senantiasa terbuka, setiap saatnya.

Tuesday, August 12, 2014

Girls' Talk in the So-called Company.

Jadi, saya sudah merencanakan akan menceritakan buanyak sekali kisah seru yang gila-gila bagai gula-gula, yang gokil bagai ditimpuk kerikil, yang saya alami beberapa bulan terakhir. Siapa bilang bekerja itu tidak bisa dilakukan dengan fun dan penuh candaan dodol?! 
Ya, awalnya kami kira, begitulah nasib kami, akan terperangkap dalam office hour dan berpesta dalam semarak kendaraan ramai di daerah kuningan sewaktu pergi dan pulang kantor (sampai akhirnya kantor kami pindah gedung ke suatu mall), makan siang sambil kebingungan mencari-cari makanan apa lagi yang bisa (alias layak tanpa harus berpanas-panas ria) untuk kami makan (sampai akhirnya kami memutuskan untuk membawa bekal dari rumah; hunting makanan di mall atau sekitar; atau tukar-tukaran lauk masing-masing). Setelah semua yang kami lalui di kantor ini, saya jadi percaya bahwa hobi dan pekerjaan bisa dijalankan bersamaan; kalau beruntung, kita akan bertemu dengan orang-orang yang 'mengerti' dengan diri kita sepenuhnya, tidak sebatas rekan kerja semata, tapi benar-benar sebagai sahabat yang bisa berbagi dan mengomentari, sebagai kakak pemberi saran akan masa depan dan pekerjaan seperti apa yang sebaiknya kami cari berikutnya (karena pekerjaan yang kami lakukan di sini hanya berstatus freelance), dan juga sebagai nenek-nenek yang bawelnya ampun-ampun-deh-sampe-menyembah-nyembah-deh. Orang-orang yang saya temui di sini, terutama yang tiga teratas adalah mereka yang sangat apa-adanya, memang sih ada yang 'memakai topeng' juga, tapi dengan mengakui bahwa ia memakai topeng, bukankah itu sudah membuktikan bahwa ia cukup berani untuk menjadi apa adanya?

Baiklah, mari dikupas satu persatu, anggap saja kamu membacanya sambil mengupas bawang merah dan mengunyah permen karet. 
Santai aja, cuy.*
*berhubung ini adalah rahasia perusahaan, maka saya akan mengganti nama mereka sesuka hati saya. :D

1. Si Penggalau Sejati
Kalau tidak kenal dengan manusia yang satu ini, maka bisa dengan cepat menyimpulkan bahwa dia adalah orang yang pendiam dan kalem. CIH. Untung saja saya sudah mengenalnya sejak awal masuk kuliah, dia adalah anak bungsu kesayangan (dan tentunya juga sangat menyayangi) keluarganya yang seringkali datang membawa makanan (terutama sarapan) ke kantor dengan gayanya yang centil: mengibaskan rambut, menggoyang-goyangkan poninya yang 2 bulan terakhir baru dipotong setelah contemplating dalam jangka waktu yang melebihi tahun-tahun masehi, mengerjap-ngerjapkan mata di balik kacamatanya itu dengan sok polos (dan tentu saja akan membuat kami semua ngakak kalau dia sudah melepas kacamatanya, lucuk!), mengerucutkan bibirnya yang jelas sudah monyong, memutar-mutar rok girly-nya dan sering mengeluhkan saya yang makannya paling telat, ke toiletnya paling lama, tapi ia tidak pernah meninggalkan saya (kecuali ya, kadang-kadang). Salut! Hahaha.. 

Ia sering sekali bercerita tiap pagi, yang dimulai dengan "Eh, tahu ngga, sih?" lalu cerita pun mengalir random, mulai dari supirnya, emaknya, ngko-nya, temen-temennya, TETANGGAnya (eh, sori, capslock-nya kepencet, muahaha!) sampai cowok kece yang tak sengaja ditemuinya di busway. Oh ya, satu lagi yang tidak boleh dilewatkan, tentu saja penggalauan abadinya tentang kosmetik korea mana lagi yang harus ia beli, entah karena diskon atau warnanya bagus. Terutama lip tint, yaowoh deh! Di balik segala kekonyolan yang tercipta dari percakapan dan pekerjaan kami, i do really grateful for having such partner, partner pulang kantor bareng, partner menggalau di sepanjang jalan pulang (which is kadang-kadang obrolan kami yang ngalor-ngidul entah-sejak-kapan bisa mendadak menjadi serius dan meaningful, we talk about everything! Mulai dari harga banyak barang di mall dan website belanja tentunya, pasangan impian, keluarga, persahabatan, semuamuanya!
I found it was not easy to found a friend whom you can honestly tell about your opinions about everything, but thankfully she is one of the kind (jiah, korea lagi, maaf deh. hahhaha). Ngomong-ngomong korea... ah, sudahlah, mari kita bahas tokoh nomor 2.

2. Si Muka Datar Pemilik Segala Ekspresi
Pertama kali saya mengenal manusia ini, saya pikir ia hanyalah kakak-kakak biasa dengan hidup biasa saja. Tapi, setelah kami 'nyambung' gara-gara nonton drama Aa' Do alias Do Min Joon (You Who Came from Another Star)... baiklah, dia adalah kembang api! Hahaha.. Sampai sekarang, saya masih sering dibuat sakit perut karena keseringan ngakak melihat tampangnya yang bisa berubah-ubah sesuai kemauan yang punya. Astaga! She has countless priceless expressions on her face! Ditambah dengan celetukan asal yang spontan dari mulutnya, lengkaplah sudah penobatan kami akan Mr. Bean versi cewek yang paling canggih! Kadang, kalau ia sudah memasang headset, pasti akan terdengar lagu-lagu korea, mulai dari yang baheula sampai yang paling in yang ia nyanyikan dengan urat malu terputus, tentu saja ia punya partner in crime yang menyanyikan versi lagu inggris, rekan kerja cowok satu-satunya di ruangan kami. Oh Em Ji, Hello! (HAHAHA).

Ia adalah music bank berjalan, pemabuk korea yang sampai wallpaper desktop-nya punbergambar cowok-cowok korea yang bergiliran nangkring, sesuai mood dan edisi yang bersangkutan, mulai dari yang imut-sampai yang macho. Lengkap kap! Tapi, walaupun demikian, ia adalah orang yang jarang sekali saya temukan di muka bumi, ia memiliki banyak sekali kosakata indonesia (maupun inggris) yang membuat saya berdecak kagum dan terpesona! Kalau kami menemukan padupadan kalimat sulit di sela-sela pekerjaan, cukup tanyakan saja pada ibu satu ini, voila! Langsung tersulap kata-kata sederhana tapi enak didengar! Wooohoo.. and one thing to admire from our process of this 'light friendship' adalahkami yang mengetahui bahwa ia adalah newly wed, cerita-cerita seru penuh makna tentang membina keluarga baru, keinginannya untuk hamil begitu melihat teman-teman dan tetangga yang sudah menggendong bayi—sampai-sampai menaruh wallpaper anak korea—sampai akhirnya hamil beneran!! Omg, such a touchful happiness :')
Anyway, dia juga suka menaruh banyak barang kecantikan korea di meja kerjanya beserta sebuah cermin, yang sayangnya selalu disabotase oleh makhluk nomor 3 yang akan segera tiba ini...

3. Si Shopaholic yang Alergi Sana-Sini
Awalnya, saya mengenal manusia ini karena sering sekali berada di meja resepsionis dan asik ber-skype-an pakai bahasa inggris. Pikirnya sih hubungan pekerjaan, eeeh malah pacaran ternyata! But, we do impressed by her and her boyfie's story yang bela-belain dateng ke Jakarta sampai sakit, dan sempat main ke kantor kami juga. Well, setelah itu, manusia (sok) ramah ini akhirnya saya kelompokkan menjadi ibu-ibu resik yang doyan makan bayam (but i found out, itu ternyata karena dia juga bohuat sama mbak-nya yang masakin), daaan.. terakhir, ternyata dia mirip banget sama saya! Saya tidak bisa melupakan masa-masa kami bercerita layaknya tidak ada yang mengerti (tentu saja, kami kan cuma mengobrol bertiga, dengan seorang lampu yang lebih mengerti lip tint warna orange, hahaha uppss!), tentang konser, the moffats, boyband-boyband yang eksis di tahun 90an, mantan pacar, hobi dan kesukaan, idealisme, cara memandang hidup, masa-masa sekolah, dan banyak hal lain yang saya pikir tidak bisa dijangkau sembarang orang. Dalam oh dalam. Hahaha..

Ia adalah penasehat yang baik, yang mendorong kita untuk hidup lebih sehat dan berprinsip (walaupun kadang bikin keki), serta nyolotnya minta ampun. Lama-lama, saya berhasil mempelajari sifatnya yang tidak-pernah-merasa-bersalah, berhak-atas-apapun-milik-orang, dan tentu saja semua itu dari sisi lucunya! Siapa coba, siapa yang berani balas memarahi kita?! Siapaaaa?! *jangan lupa, melotot!* hahaha.. tapi belakangan ini, ia tidak berkutik sama ibu hamil, ah such a reliefIa juga teman belanja yang baik, tante yang gila merk, yang sebentar lagi akan meng-upgrade hidupnya ke Minnesota! Tentu saja saya mendoakan yang terbaik untuk masa depannya, yang jelas-jelas udah cemerlang! Amiiiin! Di sana, hanya satu pintaku, Mak, Puhlease, jangan nonton sinetron dan berbicara seperti tokoh hello kitty lagi! Aku mohon sambil berderai airmata! :')) Hahaha..


Lalu, Si Lain-Lain yang Tak Boleh Ketinggalan.
Selain itu, masih ada beberapa teman kantor yang kalau dibahas akan membuat keriting jari. Sebut saja salah seorang kakak dengan penyakit narsistik yang sudah amat sangat akut, belakangan ini ia mencoba gaya rambut terbaru dan masih saja selalu menyempilkan kata-kata "tapi, gantengnya kayak gue dong." di hampir setiap pembicaraan kami mengenai cowok ganteng korea dan sekitarnya, kami pun sudah lelah berusaha menyeretnya kepada kenyataan sebenarnya, kelakuan yang sungguh membuat mata kami menyipit. Kelakuan oh kelakuan. Setahu saya ia adalah penginap setia ruang kantor yang belakangan ini membawa serta banyak sekali perkakas dapur untuk kelangsungan hidup. Well, bagaimana pun juga, ia adalah penggemar drama korea dan segala jenis film yang entah-bagaimana-berhasil ia download, salut! Semoga keinginannya buka warung masakan jepang segera terpenuhi ya!

Tidak lupa juga dengan seorang ibu-ibu royal nan cablak, yang selalu bertanya-tanya akan keberadaan kita, "Mana ke dua tuyul itu?" dengan entengnya. Kami, bagaimanapun, sangat kagum dengan pandangan hidupnya yang simpel, realistis, yang tetap dipresentasikannya dengan easy going dan... nyablak. Udah ngga ketemu kata yang lebih cocok daripada ini deh, haha! Dengan rokok yang disulut lagi dan lagi (oke, saya belajar untuk tidak percaya sama kata-katanya, "Udah, sini dulu aja, sebatang lagi deh, sebatang." yang lebih baik diartikan sebagai "mari-kita-kabur-duluan-aja." hahaha!). Saya salut dengan gayanya yang tidak neko-neko dan berterus-terang. Kalau sudah membicarakan ibu ini, pasti pikiran saya langsung terbang pada seorang manusia IT yang-bisa-segalanya. Mulai dari memperbaiki internet putus, sampai nge-hack QQ account orang! Lulus di kampus yang sama dengan kami (dengan jurusan IT pula), wajar saja kalau dia sangat songong, membuat kami acapkali teringat dengan teman sekelas kami dulu. Kata-kata maupun candaan yang meluncur dari mulutnya sudah setaraf boss di game-game online, tajam tapi kadang banyak benernya. Untung saja dia sudah kehilangan kekuatan sejak teman satu geng-nya, om-om berponi super panjang yang suka banget sama JKT48 menghilang untuk sementara waktu. Tidak lupa juga, seorang bapak yang tengah menunggu kelahiran anak pertamanya, yang membuat saya salut akan pengetahuan muslimnya yang keren. Oh ya, dan seorang kakak penggila travelling yang kerja hanya untuk cuti (baca: berpetualang) hahaha.. apalagi coba! Cool!

Ah, sudahlah. Nostalgia sekali, berhubung sekarang masa kontrak kerjaan kami sudah berakhir di sana, no matter how we wanted to stay, well, we do believe we have better places to see, to be with! Yang paling penting dari sebuah perpisahan, tentu saja adalah menghitung ulang akumulasi momen yang sudah kita ciptakan dengan sukacita, dong! 
And again, i feel grateful to look back and see, how many beautiful, fun yet fascinating moments we've been created, terima kasih sudah membuat saya mengenal diri saya sendiri lebih baik melalui kalian, memberi saya kesempatan untuk menginspirasi (walaupun awalnya saya ragu-ragu), dan juga untuk segala bahak yang masih saja berdengung di kepala kita—yang bisa dipanggil kembali kapan saja—saya senang sudah membagi waktu bersama, dengan sekerat roti, dengan sepotong imajinasi, dengan berbongkah-bongkah kekonyolan dan kekocakan, secuil kata-kata bijak, segentong kata-kata bijak yang akhirnya meleset menjadi ledekan yang telak menghantam hati kami—sakitnya tuh di siniiiiii—dan juga segala makanan yang pernah kita bagi bersama!

Cheers for our keep-in-touch promises!

Let's stay sweet, and having colorful days ahead!

Tuesday, June 10, 2014

menghirup matahari

sudah teramat rindu
akan rintik-rintik sinar
yang menusuk ulu kulit
hangat yang bersahabat
kala menghirup matahari

pagi, pengusir dingin.

Wednesday, April 23, 2014

Ours, PMVBB Tembilahan.

Kemarin, melihat salah satu postingan facebook dari Tembilahan, dan entah kenapa tergerak untuk menulis ini, singkat saja.

Sekitar 3 bulan yang lalu, saya meninggalkan kampung halaman saya (lagi) dan datang ke Jakarta, tentunya setelah cukup 'bermain-main' dan 'bersenang-senang' dengan organisasi yang dulunya pernah membesarkan saya: Persaudaraan Muda Mudi Vihara Budi Bhakti

Sekarang, mereka sudah berganti kepengurusan lagi. Cepat, waktu berlalu dengan sangat cepat dan adik-adik yang dulunya masih mungil di GAB (Gelanggang Anak Buddhis) sudah menjulang menjadi remaja yang memeluk ide-ide berkilau. Dan, PMVBB? Quite touched, mereka menyambut tongkat estafet yang sudah diulur sejak 26 tahun yang lalu dengan penuh keberanian, yang siap dikobarkan dengan semangat lagi.


they ever scratched their braveness, here.

Tentu banyak sekali "bagaimana" yang mencekam, mungkin akan mendistraksi hari-hari mereka di sekolah beserta PR dan tugas mereka. Atau energi mereka yang disorot menjadi semakin banyak aspeknya, tapi percayalah... semua itu worth it.

believe this too,
this is an amazing beginning.
in your way...
it will be storm, 
or excessive heat from sunshine,
and maybe soothing rain.
but believe in, 
when you walk out
you will be completely different,
that's what experiences had taught you.

Alami, nikmati, dan jalani PMVBB sepenuh hati, dan setulus hatimu.
Jadilah berguna, bermanfaat, karena sekarang kalian sudah memegang 'setir' nya. Arahkanlah ke arah yang lebih baik, lebih menyenangkan, dan membuat orang lain berbahagia dalam dharma.
Berterima kasih atas semua kesempatan yang sudah diberikan dan yang sudah diambil. Bantulah dengan segala yang kamu punya, setulus-tulusnya...

pengurus inti PMVBB 26th dan jajarannya, jiayou!

Lalu setelah kamu mengucapkan selamat tinggal kepada PMVBB kelak, kamu bisa berbalik sejenak dan melihat, semuanya tak pernah sia-sia. 

kamu sebelum menjadi pengurus PMVBB, 

kamu setelah menjadi pengurus PMVBB,

adalah dua orang yang berbeda.

Tak usah percaya, buktikanlah.

Sekali lagi, selamat bersenang-senang dalam PMVBB ya, adik-adik tersayang. Percayalah pada diri sendiri yang dipenuhi dengan ide-ide brilian! Semangat!

Sincerely,
mantan pengurus PMVBB yang baru saja bernostalgia :'3

Tuesday, April 15, 2014

Bahagia adalah Kata Sifat, bukan Kata Benda atau Kata Ganti.

Blog  post  ini  dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!



Bahagia adalah kata sifat,
bukan kata benda, atau kata ganti.

Seperti hadirmu di kala gempa,
Jujur dan tanpa bersandiwara...

Kyra menggenggam tiket pesawatnya erat-erat. Suasana hati yang membuncah ceria, jutaan kupu-kupu berkelayapan di perutnya, sampai-sampai wanita berlesung pipi itu menyengir terus. Beberapa jam lagi. Ia bisa membayangkan pria dengan kumis tipis yang lupa dicukur, senyum dan tawa lepas layaknya debur ombak Bali, dan rentangan lengan dari sosok yang tinggi tegap itu... begitu ngangenin.
            “Kyra!” suara lantang memotong segala angannya. Ia mencari sumber suara dan menemukan seseorang tengah menatapnya dengan mata hampir tenggelam dalam pelupuk—lengkap dengan setetes besar keringat—persis seperti ekspresi dalam komik. Pria itu membetulkan letak kacamatanya dan memberengut, “udah nyampe lima menit lalu, dan elo masih bengong.”
            “Hah??!!” Kyra memandangi sekelilingnya.
Bandara.
Jiwa Kyra sudah sampai di sini sejak setengah jam lalu, sejak Edo bilang “terima kasih” pada petugas jalan tol, sejak lagu Banda Neira – Hujan di Mimpi yang melantun dari radio tadi.
            “Udah sana! Gue masih mau balik kantor, nih.” kata Edo galak, wajahnya yang putih dan berjerawat terlihat segar, kemeja biru donker nya menyisakan beberapa bercak air, dan botol aqua besar tergeletak di sampingnya. Kyra terkikik, ternyata ia begitu asik melamun sampai-sampai tak menyadari Edo yang sempat ke luar dari mobil dan cuci muka.
            “Oooh.. oke, thanks Do! Take care!” Kyra hampir akan menutup pintu mobil ketika Edo tiba-tiba menahannya, “pikirin lagi, Ra.” Ekspresi Edo datar dan serius.
            “Bye!” Kyra melambaikan tangannya, disertai senyum bodohnya yang ampuh. Edo hanya tersenyum kecut, meninggalkan suara klakson singkat yang terngiang di udara. Kupu-kupu kembali beterbangan di sekitar Kyra, dengan langkah ringan Kyra menyampirkan backpack-nya dan... Hello Balibalibalibaliiiiii!

***

Ada yang bilang, kebahagiaan adalah kebebasan. Momen ketika kita dengan berani meninggalkan comfort zone kita dan menantang segala kemungkinan di luar sana. Bahagia adalah perasaan insecure—yang sekaligus seru, karena begitu banyak pengorbanan yang sudah kamu lakukan. Tapi jauh di dasar hatimu, kamu tahu semua itu akan membawamu ke pemahaman dan pengalaman yang penuh kejutan. Ada yang bilang, happiness is when you let the unexpected happens. Dan... di sinilah Kyra. Ia merasakan dengan jelas langkah pertamanya yang masih gemetaran. Hotel yang belum di-booking. Tiada satu pun manusia di Pulau Dewata yang ia kenal. Ngurah Rai yang asing. Dan degup jantungnya yang kencang... antara antusias yang membubung dan ketakutan yang menariknya sampai mencelos.
Nomor telepon Onel. Hanya itu yang Kyra punya. Ia merogoh handphone sambil mengikuti lautan manusia yang berjalan ke luar Bandara. Scroll.. Scroll.. L..M...N..O.. Onel. Dialing...
            “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...”
Deg.
Debar terakhir menyentak telak, sukses menarik Kyra jatuh dalam pusaran takut yang menjadi nyata. Pikirannya langsung berkecamuk. Jangan-jangan, Onel hanya bercanda.. tidak, tidak. Mana ada orang yang begitu serius ngisengin sampai-sampai membelikannya tiket pesawat, hellooow! Atau, Onel tiba-tiba dapat panggilan dari keluarga Nagawa dan sudah terbang lagi ke Kathmandu?! Mungkin saja, kantor tempatnya bekerja itu tidak memberikannya izin cuti barang sehari? Ah, pasti dia sekarang sedang meeting mendadak dan lupa ngabarin... who knows.
            “Kok ada sih, orang kayak lo? Apa yang lo keluarin itu ngga setimpal! Abang gue mana bisa tolerir lo!” Kyra masih sangat jelas mengingat detil wajah Edo yang merah dan marah, alis tebalnya yang mengerut dan mata belo yang memicing kesal. Nafas Kyra jadi tidak beraturan lagi sekarang, atmosfir kekecewaan Edo masih begitu kental. Beberapa jam yang lalu.
            “Ini Onel, Do. Ini salah satu mimpi gue... Masa gue harus nyia-nyiain sih?” Waktu itu, Kyra memasang tampang seperti anak kucing, biasanya selalu berhasil, tapi kali ini... Kyra tahu diri. Ia memang kelewatan. Cuti mendadak 3 hari—di mulai dari hari ini, jumat—sementara yang lain harus lembur di akhir pekan demi launching produk makanan mereka seminggu lagi.
            “Food Stylish, Ra, we need you most. Lo maen cabut gitu aja! Kalau lo ngga bisa menghargai perusahaan ini, gimana caranya lo bisa menghargai mimpi-mimpi lo itu?!” Edo yang logis, Edo yang Maha Tahu. Tapi, Edo jelas tidak tahu satu hal: hubungan nya dengan Onel. Mereka bukan teman biasa, bukan juga pacar. Bagi Kyra, Onel lebih dari segala itu... Onel is her happiness. Onel itu kata sifat, bukan kata benda atau kata ganti. Tuh, kan. Bayangan senyum tengil Onel yang tiba-tiba berkelebat di benak Kyra saja sudah ‘mengembalikan’ segala kepercayaan diri Kyra. Meyakinkan bahwa segala keputusan—yang dibilang bodoh sama semua orang itu—sudah sangat tepat. Kyra tidak harus menyesali bahwa ia baru saja dipecat dan arus gajinya yang harus terhenti, tidak juga nomor telepon Onel yang tak bisa dihubungi sekarang... She’s totally free now, and will be meet her freedom soon. Yes, her freedom. Sudah dibilang Onel itu adalah kata sifat, freedom.

Happiness is freedom.

Ah, happiness. Kyra tiba-tiba teringat tema cerpen yang baru saja ia rampungkan. Tema yang mengantarkannya ke Bali juga. Mungkin ia memang harus mencari cara untuk sampai ke The Bay. Sendirian. Tak apa-apa lah. Tidak harus ‘mengganggu’ Onel untuk menjemputnya seperti di drama-drama gitu, kan? Kyra punya Google Maps, kok.

***

Pengumuman Writing Competition itu dilaksanakan di Bumbu Nusantara. Besok. Membayangkan lengan Onel yang menyelimuti pundaknya, langkah mereka yang mengayun-ayun, dari Bumbu Nusantara... segelas es cendol di masing-masing tangan, komentar bodoh akan foto-foto yang terpamer di sepanjang mata yang menjelajah, nyanyian dari ujung panggung di dekat pantai, dan sayup-sayup angin yang menggelitik lembut leher Kyra. Kisah konyol Onel yang melanglang buana, cerita renyah Kyra di dapur dan kamera DSLR-nya, semua pasti akan mengalir alami. Ditambah senang yang was-was—menang lomba nulis ngga ya kali ini—yang pasti akan ‘terbaca’ jelas oleh Onel, dan... entahlah! Entah ada kejutan macam apa lagi yang disiapkan Onel kali ini.



            Kyra mengayuh sepeda ontel yang dipinjamnya dari Bumbu Nusantara dengan penuh tenaga—takut jatuh, roda nya mencakar pasir dengan kasar, earplug yang mendendangkan petikan gitar random Depapepe. Sore yang sejuk, samar-samar Kyra bisa melihat matahari bersiap terbenam—ah mungkin sebentar lagi, setelah anak-anak puas dengan istana pasir dan sepasang suami istri selesai berdiskusi. Kyra yang sendiri...  menatap manusia yang berpasang... selalu menyisakan rasa sepi yang kosong. Kyra menghela nafas, ia sudah tak sabar lagi. Sesuatu yang dirasa adalah kebahagiaan yang begitu dekat ternyata harus menunggu lagi! Rasanya seperti disalip sepi yang mencekam di tengah-tengah perjalanan. Sesaat ia gamang, sesaat ia merindukan gaung tawa bersama teman-teman kantor: jam empat sore, mereka pasti sedang berbagi cemilan sambil mengobrol tentang diskon makanan.
Kalau memang ini yang Kyra inginkan, mengapa semua menjadi begitu absurd saat ia memikirkan masa depan?
Kalau memang begini yang Kyra inginkan, mengapa ia tidak bisa sepenuhnya menikmati matahari mulai malu-malu menyembunyikan semburatnya di balik awan yang tenang... membiarkan kayuhan sepeda nya menjadi makin samar dan santai... atau sekedar menyodorkan kaki telanjangnya untuk dijilat oleh debur ombak?
Kalau memang saat ini yang Kyra inginkan, mengapa... sekarang rasanya begitu... asing?
            “ADUH!” entah sejak kapan sepeda Kyra oleng dan menabrak pohon kelapa di depannya. Telapak tangan dan lututnya terbenam di pasir. Ah, tengsin. Beberapa bule menoleh dan tersenyum lucu. Kyra segera berdiri dan menepuk badannya sebentar, mungkin sebaiknya ia mengembalikan sepeda dan bertapa saja di kamar hotel.
            “Goodbye!!!!
Kyra berbalik kaget begitu suara itu menggema. Lengan yang terbentang, dada yang semakin bidang saja... Onel! Senyum Kyra lepas menjadi tawa lega yang beruntun, sedetik kemudian ia sudah memeluk sosok itu erat. Erat sekali, dibalas Onel.
            “Gue sebel sama goodbye elo! Lo udah begitu deket, nyet!” teriak Kyra, bau keringat Onel yang mirip rumput sehabis hujan meruap di hidung Kyra.
            “Hahaha... semata-mata biar kita bisa hepi terus, nyetnyet,” tawa Onel renyah, melepas pelukan mereka dan mengacak rambut Kyra gemas, “lo gampangan banget. Ketipu sama selembar tiket pesawat!” cibir Onel disusul bahak-bahak yang memancing pukulan bertubi-tubi Kyra.
            “Diem lo! Sekarang, kasih tau gue, apa surprise itu?” Kyra menaikkan dagunya, sepasang matanya yang bersinar itu kini sejajar dengan pipi Onel yang masih terbakar keringat, begitu dekat.
            “Mmmm.. mungkin lo butuh nyogok gue dengan beberapa jajanan pasar seperti kolak atau pisang ijo! Damn, i miss them so much! Daaaaaan gue akan mempersembahkan sesajen favoritnya mbah, berupa Kare-Ikan-Patin. Cocok kan, restoran ini. Bumbu nya pasti nendang! Hahaha...” Muka jenaka Onel berhasil meredupkan rasa penasaran Kyra, dan mengantarkan perut mereka untuk berpesta dengan masakan asli Indonesia. Kyra juga sudah cukup lapar dengan segala yang berloncatan dari benak Onel... yang selalu... kembang api.

well, parked bicycle.

***


            “Gue ngga bisa menjelaskan perasaan itu. Mungkin kayak perasaan yang langsung bikin lo decide want to do what for next. Lo yang begitu yakin mau ke Bali, dan ninggalin pekerjaan lo sementara—eh, tapi Bos lo ngga papa?” Onel yang asik bercerita tiba-tiba menatap Kyra khawatir.      
            “Ng... ngga papa, ngga papa... trus?” Kyra menangkupkan pipinya di tangannya, begitu serius mendengarkan Onel.
            “Ya begitu juga gue. Gue nekad balik ke sini karena ‘sesuatu yang memanggil’ ini. Ini beda banget, entah kenapa rasanya ada sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang bermakna untuk hidup lo di masa depan.” Onel berujar serius. Ia tak sadar kalau tangan Kyra sudah merayap dan mencuri beberapa sendok es pisang ijo nya. Nyam.
            “Jadi...” Kyra berhenti menyuap, “lo ke sini tanpa tujuan yang jelas?”
Onel mengangguk cepat, “tapi di balik tujuan yang ngga jelas ini, gue tau ada sesuatu yang jelas, but i just can’t figure it out,” Onel terlihat putus asa, “gue udah ninggalin seminar penting di Aussie untuk datang ke sini, apa... gara-gara buat ketemu elo?” suara Onel mengecil, seperti tidak percaya dengan kata-katanya sendiri.
            “Gue ke sini juga buat ketemu lo, kok.” tandas Kyra mantap. Ia menatap lurus ke mata Onel yang terperanjat.
            “Kyra?” Onel menaikkan alisnya tak percaya, “jangan bilang dugaan gue bener, lo lebih milih resign, ninggalin Edo dan kawan-kawan, lalu dateng ke sini... buat ketemu gue?” suara Onel makin pelan.
           Kyra juga bisa membaca wajah Onel, matanya yang menyipit dan bibirnya yang mengatup. Pria ini sedang kesal. “Ng... tapi ngga juga kok, Nel. I’m attending tomorrow’s competition, and that would be lovely if you are here.” kata Kyra sambil mengedikkan bahunya, berusaha untuk santai.
            “Lo lupa? Kita udah kayak cermin, ngeles sama gue juga ngga guna,” Onel mengedikkan bahunya juga, bibirnya tersungging sedikit angkuh, “dan lo lupa, gimana proses kita bisa jadi deket kayak gini?”
Kyra ingat. Kyra ingat!!! Bagaimana bisa lupa dengan momen di mana mereka yang tak sengaja mengobrol setelah sekian lama bekerja di restoran fast food itu. Perihal yang sederhana: mereka sama-sama salah lihat jadwal libur, sehingga harus lembur di shift yang sama. Onel yang mengumpulkan uang untuk berkeliling dunia, Kyra yang ingin sekali ke Jakarta dan membuka usaha kafe sendiri. Mereka berdua melihat jalan yang sama: kebebasan. Dan di sanalah mereka menggariskan definisi bahagia. Menjadi balon, menjadi gelembung, menjadi angkasa itu sendiri! Membubung tinggi ke atas, tanpa jejak dan ikat. Lalu membiarkan intuisi dan perasaan sejati mereka yang apa adanya menjadi kompas dan aral. Mereka begitu tergila-gila pada masa depan yang penuh dengan ketidakpastian, menebak-nebak kejutan dan tantangan apa lagi yang dihadapkan dalam hidup mereka. Jadilah mereka seperti sekarang ini. 5 tahun yang lalu. Onel yang lalu bekerja di toko mesin cabang dari Jepang, bertemu dengan keluarga Nagawa yang butuh asisten pribadi untuk long holiday trip all around the world; Kyra yang membantu usaha Bridal and Photography sepupu nya, yang merupakan kakak ipar dari Edo, lalu berkecimpung dalam food industry berkat ajakan Edo.
Ada yang bilang, semua hal yang kita temui dalam hidup kita, akan mengantarkan kita lebih dekat pada impian kita. Di sela-sela perjalanan itu, kita butuh orang yang tak tertarik untuk menertawakan segala kegilaan kita, atau bahkan menambah nilai kegilaan itu—dengan cerita hidup yang tak kalah gilanya. Kyra menemukan itu pada Onel, entah kenapa. Onel... seperti kembarnya. Dan Onel, merasa begitu nyaman berada di sisi Kyra, tak pernah dia bertemu dengan wanita yang begitu terbuka... tidak berpura-pura dan tidak mengada-ada. Banyak cara pikir yang... tring, klik. Cocok-cocok terus. Mungkin saja, ini yang orang bilang soulmate.
“Tapi kali ini, bebasnya kita sudah megap-megap, Kyra...” kata Onel tercenung, “lo bahagia ngga?” mata Onel menatap lurus Kyra.
“Gue...” tenggorokan Kyra tercekat, “gue bahagia begitu udah ketemu lo. Now, those are worth it. Gue kangen untuk bisa melepas kangen kayak gini.” Kyra tidak punya pilihan lain selain jujur. Di mata Onel, pikiran Kyra adalah kaca tembus pandang.
“Gue juga,Kyra. I miss you too much,” Onel menyunggingkan senyum tipis yang charming, “dan gue sebenernya lagi kesel sama teori Hello Goodbye yang gue bikin itu!”  Onel memberengut.
“Hahaha.. apa nya yang salah, wahai bapak filsuf?” goda Kyra.
“Tiap pertemuan adalah awal dari perpisahan; tiap perpisahan adalah awal dari pertemuan. Janjinya, kita bilang ‘goodbye’ setiap kali ketemu, sekedar ngingetin bahwa sebentar lagi mungkin bakalan pisah... Tapi, tadi itu... rasanya berat banget,” Onel menghela nafasnya, Kyra seperti melihat mata Onel yang mulai berkaca-kaca, “and, why ‘hello’ when we’re going to be apart? Supaya optimis kalo kita bakal ketemu lagi?” suara Onel sedikit meninggi, tepat di saat live music performance Bumbu Nusantara berlanjut menyanyikan lagu berikut.
“Tapi itu semua jadi terkesan fake, padahal kita belum tentu sama dengan kita yang dulu... padahal pertemuan kita sekarang sudah pasti berbeda dengan yang dulu. It just unnaturally...” lanjut Kyra pelan.
“RIGHT!” Onel menunjuk Kyra puas, “itu maksud gue!”

***

Kyra tersenyum kecil sambil bertepuk tangan di antara gemuruh tepuk tangan pengunjung lainnya. Pengumuman Lomba Menulis ‘Letter of Happiness’ yang digelar oleh The Bay Hotel—tepatnya di restoran tempatnya semalam mencecap habis-habisan ‘Indonesia’—dan Nulisbuku tempat ia menerbitkan buku self-help-nya itu, sukses membuat hatinya tergelitik dan sedikit ngilu. Kyra yang begitu optimis namanya akan dipanggil, Kyra yang sudah siap melemparkan diri ke pelukan Onel yang berdiri kokoh di sampingnya, Kyra yang sudah siap dengan kata sambutan yang menari di benaknya.....
Kyra ternyata kalah.
Kyra memeluk kedua lengannya dengan erat, dan rasa sepi kian menjalari seluruh tubuhnya. Dunia bukan milik dia berdua dengan Onel. Dunia ini miliknya sendiri, makanya sepi sekali. Tidak ada peserta yang dia kenal di sini. Mungkin, ‘tujuan’ nya datang ke Bali adalah untuk mengetahui bahwa dia masih harus belajar menulis lebih baik lagi. Kyra menatap sepatu kets-nya, bersiap melangkah pergi, begitu suara seorang pria terdengar melalui microphone.
Letter of Happiness? Saya tak pernah terpikirkan untuk bikin cerpen begini,” suara yang berat, namun renyah. Kyra berbalik. Sosok ceking dengan kemeja lengan panjang kotak-kotak yang kebesaran, celana jeans berwarna merah, tipe-tipe orang dengan pekerjaan marketing.
“Tapi prinsip saya... No one can took away your happiness, and no one can create happiness for you. Oleh karena itu, saya tidak akan menggantungkan kebahagiaan saya pada siapapun—walaupun ini terdengar kejam ya, hehehe...” pria itu menggaruk-garuk kepalanya dengan kikuk, disertai gelak beberapa pengunjung, “but i do believe, kita yang bikin bahagia kita sendiri. Salah satunya, dengan ikutan lomba kayak begini nih. Thanks ya, semua panitia! Saya sudah bersenang-senang dalam kata-kata, dan ber-hepi-hepi di The Bay!” ia menutup pidato singkatnya dengan cengiran segar, yang merambat sampai ke bibir Kyra—tak sengaja tersungging lebar juga.
Kyra merogoh handphone nya dan mengarahkan kamera ke arah panggung. Klik. Lalu ia mencari call logs dan O. Dialing Onel...
Hello!” sapa Kyra cerah, “udah nyampe Sydney belom?”
“Good—he..hello..” suara Onel terdengar pangling, “u..udah nih! Thank you, thank you, nyet! Gara-gara obrolan kita semalem nih, gue kayaknya ke Bali cuma buat ketemuan sama lo dan nyadarin diri gue buat ikut ini seminar deh. Untung aja keburu ikutan seminar nya, sekali lagi sori banget, jadi ngga bisa nemenin lomba lo itu. Menang ngga, by the way?”
Suara Onel yang lepas, tawa Onel yang ringan. Kyra hanya bisa membalasnya dengan cara yang sama.
Bahagia? Apa itu?
Entahlah.
Mungkin sejenis perasaan.
Yang bukan kata sifat... kata benda... atau kata ‘perasaan’ itu sendiri. Yang pasti, Kyra sedang berpesta dengan bahagia itu. Sendiri. Dalam diam.
Lagi-lagi, Kyra tak bisa menahan bibirnya untuk berhenti tersenyum, dan manggut-manggut mendengarkan celotehan Onel dari seberang. Pikirannya sudah menjelajah ke mana-mana... berlari-lari lepas di pantai di pagi buta, lalu menggeletakkan diri di kursi santai dan bermandi matahari pagi, mencoba The Pirates dan De Opera, makan sepuasnya... Entahlah. Kyra hanya ingin merasakan semuanya, sepenuhnya.


you are the waves, yet i am the skies, embrace each other, joyfully.

Monday, December 30, 2013

Hello Year-end! (2013)

steps, freely yet carefully.

Kembang api sesayup sudah berkoar di mana-mana. 
Barangkali sebagai ucapan selamat tinggal yang sopan, kepada 365 hari yang sudah terlalui—dengan macam-macam warna dan corak. 
2013 adalah tahun yang mendorong saya untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak berani saya lakukan, membiarkan saya mengambil keputusan-keputusan yang mengantarkan saya sampai pada saya yang sekarang, saya yang masih belajar untuk tidak rewel, tidak mengeluh dalam melakukan hal-hal yang sudah sepatutnya harus saya lakukan, dan tentunya yang paling krusial adalah... bangun pagi.

Baiklah, saya rasa memang itu yang harus jadi PR saya nomor satu di 2014. 
Terlalu memanjakan rasa kantuk ternyata membawa sial yang beruntun, yang selalu saya maklumi. Ah, ini tentu tidak baik, dan semua orang tau itu. Tapi, saya terlalu berbelas kasih dengan sifat jelek saya yang satu ini, dan kadang menyogoknya dengan seonggok bubuk kopi untuk menampar mata saya agar senantiasa awas. Bagaimanapun, berpesta di tengah malam sambil tenggelam dalam tebalnya buku atau layar laptop selalu menjadi candu. Ah, burung hantu.

Anyway, saya kembali dipertemukan dengan segala hal baik—ya, segala yang terjadi adalah hal yang baik yang membantu saya untuk bertumbuh—dan saya sangat berterimakasih atas itu. 
Tentang definisi kebebasan saya yang perlahan mulai menemukan ‘rumah’ barunya, 
tentang hubungan dan menjaga hubungan dengan orang-orang sekitar yang sangat saya sayangi, 
tentang menjaga diri saya sendiri dari segala energi yang tidak mungkin dihindari—namun sangat mungkin untuk ditanggulangi, 
tentang mengambil alih tugas ‘dunia luar’ yang bertanggungjawab atas kebahagiaan saya menjadi tugas saya sendiri (and it was truly deliberating), 
dan tentang menjadi yang terbaik yang diri saya bisa.

Tahun ini, saya juga belajar tentang yang namanya keberanian. Bukan hanya berani naik roller coaster paling cepat di dunia di Trans Studio Bandung, menonton film horror karena dipaksa teman-teman sialan saya, atau nekat membawa bonyok saya ke Malaka padahal saya tidak pernah kesana sebelumnya dan pernah punya pengalaman buruk ketinggalan pesawat, namun juga berani menghadapi keputusan yang telah saya ambil. 
Ini tentu saja tidak mudah, karena saya begitu terbiasa untuk lari dan bersembunyi saja dalam tawa tolol atau ‘kelupaan’ yang ‘imut’. Namun, saya terkagum-kagum atas rasa setelah berhasil melewatinya, lega yang menenangkan, walaupun saya tahu kemudian akan datang ‘ancaman-ancaman’ lain yang menodong keberanian saya untuk maju lagi. 
Lama-lama itu semua menjadi seru, dan perasaan menyalahkan diri sendiri perlahan menjadi pudar.

Pemaafan atas diri sendiri dan segala konsep yang sudah tertanam dalam benak ternyata juga butuh usaha yang berkesinambungan. Bukan hanya sekali, namun terus....menerus. Tapi itu semua seakan membukakan mata, untuk melihat apa-adanya. 
Bukan semata-mata karena asuhan dari generasi atas, namun juga pohon keluarga dan sebatas dunia yang mereka ketahui. Jadi, sekarang saya bebas untuk melepaskan ajaran apapun yang saya rasa tidak cocok, dan dengan bebas memilih apa yang terbaik untuk diri saya. Wow! Rasanya begitu senang! 
Dan menerima dengan baik, bahwa memori di otak tidak begitu bisa diandalkan, begitu pula dengan semua kenangan—saat kita menengok ke belakang. It’s okay to look back, but just don’t live there.

Saya akan membawa hal-hal baik yang bisa saya lakukan, mendoakan hal-hal baik untuk terjadi kepada semua orang—terutama yang di sekitar saya, dan menjadi alasan bagi kebahagiaan orang lain. Sesederhana itu, dan hidup saya berubah menjadi lebih baik.

Oh ya, satu lagi. Mimpi saya di tahun 2013 satu-satu tercapai dan membawa bahagia yang membuncah. Namun, ada juga yang masih ‘mengantri’. Ada yang sudah mengantri saaaaangat lama, sudah capek untuk marah dan kesal—dan akhirnya menunggu lagi. 
But, it won’t be forgotten, darling. Saya sedang mengusahakannya, karena saya sendiri juga sedang terus menjaga mimpi itu. Semoga 2014 terwujud! *fingercrossed*. Dan berhubung saya sekarang adalah seorang sarjana, maka mimpi baru saya sudah dibangun pelan-pelan, dan apa yang ingin saya kerjakan adalah pekerjaan yang bisa mendekatkan diri saya dengan mimpi saya. Semoga semua berjalan lancar, and yes, i’m very ready to explore every experiences!


2014. grow and glow!

“The so-called home isn't always the place where you raised and grew. 
It's where you can be fully accepted as an human being.. 
it's also the place that allows you to grow and glow, 
to push your limit, to let you fall down, cry, but never want to give up. 
Place where you giving your all passionately, 
to be a better person with a fairer sight of view, 
to service with all your heart and love. 
Place that makes you safe, yet make you always on fire...
on catching your own breath.”
-4 September 2013-



 Bonjour 2014!