Tuesday, August 4, 2015

Belabar 2015 Bersama Om Salim: Kura-kura Dalam Perahu, Ada Jawaban yang Tak Perlu Ditahu


Ini tahun ketiga saya.
Waktu melesat seperti cahaya, namun menerapkan ajaran Om selalu membawa perubahan yang sedikit-sedikit, tanpa disadari menggeser arah hidup—yang dahulunya kurang terarah—menjadi lebih cerah dengan suluh kepedulian.

Ada pohon di amazon tumbang, tapi tidak ada orang yang mendengar.
Pertanyaannya, apakah pohon tersebut bersuara?

Berbeda dengan Belabar tahun sebelumnya yang berkesan ‘adem’ dan tak banyak pertanyaan yang merongrong, Belabar kali ini menyeret saya pada banyak pertanyaan tak tuntas yang terus berkecamuk di benak—walau kadang saya mengerti itu hanyalah pertanyaan yang mungkin tak butuh jawaban, melainkan butuh verifikasi. Dan Om seakan tahu bagaimana pertanyaan tersebut harus bermuara, entah pada jawaban yang menganga atau ditebas dengan tegas.

Adyavesaya.
‘Cara pandang bahwa suatu kejadian harus seperti yang saya harapkan.’

Berkali-kali, Om menutup pertanyaan dengan mengungkit istilah ini. Saya bingung, bukankah suatu kebenaran harus dipertanyakan, dibolak-balik dari berbagai sisi, hingga akhirnya kita yakin akan kebenaran tersebut? Saya hanya menyayangkan diri saya yang menyetujui segala sesuatu yang ‘disebut dharma,’ namun ketika digoyahkan dan dipertanyakan… segala keyakinan luluhlantak menjadi pertanyaan lagi. Kalau sudah begitu, untuk apa?

Adyavesaya, lagi-lagi.

Di satu titik, lamat-lamat saya seperti mengerti bahwa mencari jawaban bukanlah membongkar batu-batu untuk menemukan udang di baliknya, melainkan membongkar rasa ingin menemukan itu sendiri. 
Saya juga bersyukur dan tersentuh, karena di sela-sela pencarian, banyak teman-teman yang pengertian dan sabar dalam menjelaskan. Di sela-sela penjelasan itulah, pertanyaan-pertanyaan menjadi kabur dan saya pun menjadi semakin bingung dan di saat bersamaan semakin paham pula.

Ada jawaban, yang seiring waktu dan kapasitas akan menjadi semakin jelas, saya belajar menjadi lebih terampil dengannya. 

Ada jawaban, yang entah harus dijelaskan berapa kali agar akhirnya masuk ke hati. Agar gema ajarannya tidak hanya menggaung, tapi jernih dan (akhirnya membuat) merinding. 

Ada jawaban yang menjadi benderang ketika kita sudah terlalu lelah dan memutuskan untuk menyerah.

Each year, we discover new things, here.

Ajaibnya, setiap penjelasan Om dari tahun ke tahun, selalu membawa pengalaman dan pengertian yang berbeda. Demikian pula dengan pengetahuan yang dipelajari zaman sekolah dulu. Contohnya korelasi Catur Ariya Saccani yang dihafalkan sebagai: cara mengatasi dukkha, munculnya dukkha, sebab dukkha, berhentinya dukkha. Sekarang saya mengerti maksud dari 'semua ini seperti lingkaran, tidak ada awalnya.' Dulu, konsep ini selalu saya anggap sebagai one way yang sekali-jalan-lalu-selesai,  yang artinya sekali kita mengerti cara mengatasi dukkha, pastilah semua dukkha kita di hidup ini se-le-sai dan... TADAAA! Kita pun akan hidup bahagia selamanya karena sudah mencapai Nibbana! Ternyata, bukan begitu maksud Buddha. Ajaran-Nya lebih mirip sirkuit: jalan - selesai -tambah jago jalannya - selesai - jalan lagi... terus menerus seperti itu, dan dalam proses itu, kita terus menerus melatih dan mengembangkan sati agar senantiasa tajam, terampil dan menjadi berguna bagi sesama.

Solusi. Opsi. Om selalu hadir dengan lapangnya lahan yang sebenarnya bisa kita tumbuhkembangkan dalam hati ini, beserta ulasan sutta-sutta yang masih membuat kepala mengepul; hati kian bersyukur. Ada satu sutta yang begitu mengena di ulu hati:


Lokasamudaya Sutta: Sumber (Adanya) Loka
Samyutta Nikaya 35.107

Apakah sumber loka itu?
Dengan adanya mata dan wujud, muncullah kesadaran melihat (penglihatan).
1. Adanya mata, wujud, kesadaran melihat, terjadilah kontak (phassa)
2. Adanya kontak sebagai prasyarat, muncullah sensasi (vedana)
3. Adanya sensasi sebagai prasyarat, muncullah rasa tak berkecukupan (tanha)
3. Adanya rasa tak berkecukupan sebagai prasyarat, muncullah rasa butuh (upadana)
4. Adanya rasa butuh sebagai prasyarat, muncullah bhava ('menjadi')
5. Adanya bhava ('menjadi') sebagai prasyarat, muncullah jati ('kelahiran')
6. Adanya jati ('kelahiran') sebagai prasyarat, muncullah penuaan dan kematian (jaramarana), kesedihan, ratapan, penderitaan, kepedihan dan keputusasaan.


Sekilas, ini tampak mengerikan, sama 'jauh'nya ketika saya menghafalkan istilah pali di zaman sekolah dulu, seakan tidak ada harapan untuk kita keluar dari lingkaran ini dan kita akan terrrrruussss bertumimbal lahir. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah berbuat baik, dengan harapan terlahir menjadi orang yang baik pula. Tapi, hei, ternyata bukan seperti itu maksud Buddha! Hidup adalah proses yang berkesinambungan: ini ada, itu ada. Proses ini seperti rentetan pengalaman yang kita alami dari momen ke momen; kita yang terus mencipta 'sosok' dan cerita baru, memerankannya di alam kita sendiri. 'Kelahiran' alias jati-pun tidak bisa serta-merta diartikan harafiah sebagai seorang-ibu-melahirkan-anak. Hei, bukankah kita 'lahir' setiap momennya di cerita yang berbeda terus? Kalau begitu, Sumber Loka dalam sutta tersebut merujuk ke hidup kita setiap saat, dong! Ah, ini menakutkan sekaligus melegakan. Menakutkan karena mirisnya, kita sudah begitu sering tergulung-gulung di dalam Loka dan menganggap semuanya benar-benar terjadi. Melegakan karena... ada cara lebih elegan untuk mulai berupaya:


Lokasamudaya Sutta: Sumber (Adanya) Loka
Samyutta Nikaya 35.107

Apakah sumber loka itu?
Dengan adanya mata dan wujud, muncullah kesadaran melihat (penglihatan).
1. Adanya mata, wujud, kesadaran melihat, terjadilah kontak (phassa)
2. Adanya kontak sebagai prasyarat, muncullah sensasi (vedana)
3. Adanya sensasi sebagai prasyarat, muncullah rasa tak berkecukupan (tanha)
3. Adanya rasa tak berkecukupan sebagai prasyarat, muncullah rasa butuh (upadana)
4. Adanya rasa butuh sebagai prasyarat, muncullah bhava ('menjadi')
5. Adanya bhava ('menjadi') sebagai prasyarat, muncullah jati ('kelahiran')
6. Adanya jati ('kelahiran') sebagai prasyarat, muncullah penuaan dan kematian (jaramarana), kesedihan, ratapan, penderitaan, kepedihan dan keputusasaan.



Sekarang saya lebih mengerti Om, kenapa Om selalu menekankan pentingnya Kepedulian (Appamada). Awalnya, saya hanya melakukannya sebisa saya, karena secara kasatmata memang make sense bahwa kepedulian akan membawa kebahagiaan untuk orang yang lebih banyak. Namun dengan tahu lebih dalam, ternyata kepedulianlah yang menjadi antidot dari rasa tak berkecukupan! Dan dengan rontoknya rasa tak berkecukupan (diganti dengan kepedulian ini), maka kita bisa meruntuhkan sisa-sisa di bawahnya, yakni upadana, bhava, jati, jaramarana

Wow. Sungguh wow. "Siapa yang akan menganggap suatu kejadian sebagai penderitaan bila orang yang mengalami kejadian tersebut sama sekali tidak menderita?" Ini dia. Ini dia yang melegakan!

Senang atau sedih, semuanya bisa terjadi. Tapi kita tidak harus menderita. Karena 'menderita' adalah lapisan berikutnya, ketika kita merasa ADA yang SEHARUSNYA menderita, karena secara konvensional (menurut konvensi - persetujuan dari banyak pihak), ketika ada hal tidak enak terjadi, maka seharusnya ada penderitaan! Well, sekarang kita mengerti tentang konsep dan pilihan yang bisa kita ambil. 

Selain itu, meditasi doing nothing yang paling rese (karena tidak ngapa-ngapain dan bikin bingung) nyatanya membawa kesan mendalam. Ada begitu banyak kicau-kicau kacau yang parau terus datang dan pergi, kadang juga senyap hingga dikira lenyap - tapi ternyata masih menetap. Ini meditasi yang menantang, mengenal sisi diri yang lain dan sedang dilatih untuk dirutinkan hingga kini. Bila tiap hari bisa menyisihkan kesempatan untuk mengikis kilesa dengan bermeditasi, tunggu apa lagi?



Om and his best laughter captured! :)
Oh yes, another best laughter! :D

Semakin ikut Belabar, semakin saya bersyukur telah mengenal Om yang begitu charming dan penuh kehangatan. Beliau tak pernah lelah mengulang, menjelaskan dan memakai contoh-contoh yang berbeda sesuai dengan pengalaman kita masing-masing. Kisah yang dibagi oleh teman-teman Belabar pun begitu menggugah dan berani, hati ini tak hentinya tersentuh dan merinding, betapa... betapa beruntungnya kita semua.

Om yang tergelak menonton persembahan drama yang kocak, Om yang beranjali, Om yang dengan suara penuh kehangatan bertanya, "you all good?" sambil melirik jam, Om yang memperhatikan kita semua ketika bermeditasi dan encourage kita dari hari ke hari...



Terima kasih. Terima kasih banyak, Om. 


Untuk terus mengingatkan kita bahwa, memang dalam hidup ini banyak hal yang tak berjalan sesuai dengan rencana kita, tapi bukan berarti kita tidak bahagia dengan semua yang di luar rencana kita itu. Bahkan, malah lebih bahagia.

Untuk lebih tahu dan skillful. Merangkul daripada menolak, memberi daripada meminta. Punya mentalitas yang tidak lagi terus menuntut ataupun menyesal. Karena semuanya terjadi di dalam, kita pun punya inner strength and inner peace untuk selalu yakin pada apapun yang terjadi, kita pasti mampu menghadapinya.

Untuk segala pengetahuan yang memenuhi semesta ruang kita, selalu majunya bertahap, baby step, sehingga tidak perlu ada biji kacang hijau yang harus dipaksa menjadi kecambah; tidak perlu ada pengetahuan yang harus dipaksa untuk dimengerti sekarang juga.
Shunyata.
Thank you for the warmest hugs, Om. Feels like home as always.

Wednesday, May 13, 2015

Sahabat (tak) Selebar Daun Kelor


Keenan
Pertama kali menjabat tangannya, panas. Sepertinya cewek ini kebanyakan makan kambing. Katanya, namanya Aruna. Keenan curiga itu bukan nama sebenarnya, ia lebih cocok dinamakan Mashed Potato—jenis makanan yang terdengar sophisticated, tapi ternyata hanya kentang yang dibejek-bejek. Rasanya uwek. Aruna memang jenis cewek murah senyum khas divisi marketing, tapi caranya memperhatikan orang lain berbicara—jelas-jelas ia sedang berpura-pura tertarik. Ah, selamat datang lagi di dunia kerja yang penuh kepalsuan, batin Keenan pahit. Selamat datang di dunia tanpa teman sejati.

Aruna
Pertama kali mengintip CV-nya, Aruna sadar sekali akan jantungnya yang berdetak lebih cepat. Bukan, bukan jatuh cinta, bodoh. Keenan Putra, game master, pengalaman marketing dua tahun di Leopard Game House. Cih. Diam-diam, Aruna merasa kesal terhadap dirinya sendiri, ia sama sekali tidak suka main game—walau sudah bekerja di game company selama hampir setahun. Aruna masih memamerkan gigi cantiknya begitu melepas jabat tangannya dengan Keenan, dalam hati mengumpat gaya Keenan yang bersedekap sok cool begitu, minta dibejek-bejek jadi mashed potato!

 ***

“Kepikiran buat sekolah atau kerja lagi di luar negeri?” tanya Aruna, tiga bulan setelahnya.

“Iya, dong!” Keenan menjawab sambil mengangguk kuat-kuat, “Emangnya lo nggak mau?” mata bulat Keenan melotot heran begitu melihat Aruna yang manyun.

“Mau sih, tapi maunya kawin sama bule. Percuma rasanya punya pacar bule, tapi visa masih di-PHP terus. Gue pengen ketemu musim dingin, kalo ngomong ada asapnya, kan luuucuuuu. Terus pake mantel kece, sama... ke museum Louvre, tempat-tempat bersejaraaaah, aaaaa!” pipi Aruna menggempal saking lebarnya tersenyum.

“Aruna, oh Aruna. Coba waktu pertama kali kita kenalan, gue bisa lihat binar kayak gitu di mata lo; senyum lo yang tulus lepas, ck!” gerutu Keenan sambil mengunyah burger-nya lagi.

Aruna meringis, “Kalo lo nggak pake topeng, Tuan, lo bakal digasak sama orang-orang di luar sana. Lo pikir, kenapa kita bisa sahabatan kayak gini? Karena gue diam-diam udah nge-tes elo, karena lo nggak berbahaya, makanya gue bisa traktir lo makan kayak sekarang!” jelas Aruna sengit.

“Dasar wanita. Lo pikir gue pria sembarangan yang mau diajak makan junk food begini? Itu juga karena gue udah tahu strategi dan level lo,” balas Keenan santai, “karena waktu bareng elo, gue bisa bebas jadi diri gue sendiri—"

“—ya iya, lah!” seloroh Aruna dengan suara tinggi, “Lo pikir, manusia macam apa yang bisa mendiskusikan bentuk upil sama suara kentut lo—sekaligus merancang masa depan lo sebagai pemilik kerajaan game online? Gueee... cuman gueeee...” Aruna. Sambil monyong-monyong.

“Dan cuman gue, yang bisa mendeteksi bacotan lo, mana yang palsu; mana yang asli. Titik,” balas Keenan yang tetap santai, “eh, ya, sekaligus gue mau merancang itin.”

“Itin?” Dahi Aruna mengeriting. Keenan memang orang paling random, bicara dengannya, topik bisa berganti dari kemoceng menjadi tongkat sihir.

Itinerary. Gue mau ngebuka mata orang kampung kayak lo, yang menganggap kebahagiaan cuma bisa diperoleh lewat pergi-ke-luar-negeri,” jawab Keenan, dibalas lagi dengan suara tinggi Aruna yang membela diri kalau dia bukan orang kampung, tralala, tralala. Keenan hanya bisa tertawa-tawa, baginya persahabatan seperti ini—yang ia dapatkan dari tempat kerjanya, hanyalah bonus. Bonus yang ia nikmati dengan sepenuh hati, karena ternyata Aruna hanyalah cewek jujur yang terlalu takut dikucilkan, sehingga terus berpura-pura. Keenan lega, akhirnya ia bertemu orang yang mau men-judge setiap perbuatannya, tapi cukup sabar untuk mendengar setiap alasannya. Sahabat jenis ini, satu saja sudah cukup. Cukup membuatnya merasa dunia ini adil.

***

Dua lembar tiket pesawat. Selembar surat cuti dan selembar surat sakit yang menyusul esok harinya. 

Kata Keenan, Indonesia itu indah dan punya banyak keajaiban, hanya saja masih banyak orang Indonesia yang tidak menjadikan travelling sebagai prioritas, padahal inilah cara paling efektif untuk meningkatkan produktivitas. Aruna manggut-manggut, setelah dipikir-pikir, terakhir kali ia pergi ke luar negeri itu... hanya di alam mimpinya. Halah, Sukabumi adalah kota di luar Jakarta yang pernah ia kunjungi, itu pun sudah setahun lalu, itu pun karena dipaksa Mama-nya untuk menghadiri kondangan sepupunya. Kali ini, jangankan ke luar negeri, Keenan hanya mengajaknya ke kota yang ditempuh selama... dua jam dari Jakarta: Yogyakarta.

“Tapi, bukan ini yang mau gue tunjukin ke elooooo!” dumel Keenan, “Ke sini memang cuma dua jam, tapi nanti... empat jam! Siap-siap encok!”

“Maksud lo, Dieng? Kayaknya itu pelajaran geografi pas SD. Ngapain sih, ke situ? Itu kayak kampung gitu, kan? Si Nera abis dari sana bulan lalu, gue liat di Facebook-nya, jalan-jalan di Indo aja udah excited nggak jelas, apalagi ke Mount Everest, hellloooooo...” Aruna monyong-monyong lagi.

Keenan menepuk jidat, dasar kodok dalam tempurung kelapaaaaa, batinnya gemas, “Heeeellooo, barbie, ngapain ke Mount Everest, hah? Nyusah-nyusahin tim SAR?” ledek Keenan sambil terbahak, Aruna memang jenis cewek gila yang angkuh nan bloon, jelas sekali bacaan terakhir yang ia baca adalah buku pelajaran geografi, “Lagian nih ya, dulu pas SD kita udah belajar banyak, ada Gunung Krakatau, Merapi, Jaya Wijaya, Rengasdengklok—oke ini nggak nyambung—Kerinci, Dataran Tinggi Dieng... lengkap sama ketinggian dan tetek bengeknya! Masa nggak ada sih, satu aja, tempat yang bikin lo kepengen eksplor?!”

Aruna termangu sambil menatap Keenan, “Pengen,” cicitnya, “tapi kan... kita juga belajar peta dunia?” senyum tipisnya terkulum. Jiwa internasionalisme Aruna patut diacung jempol.

Step by step, dong. Negeri sendiri aja ngga cinta, gimana mau cinta sama negeri orang?”

Taksi mereka akhirnya tiba di Keraton. Selanjutnya, tak sulit melihat gurat senyum Aruna yang menyatu dengan pipi gempalnya sewaktu menyaksikan abdi dalem yang mendendangkan tembang, disusul dengan pertunjukan wayang yang membuat Aruna mengerutkan dahi, persis seperti nenek-nenek. Tak jarang, ia bertanya siapa itu Arjuna dan Gatotkaca, siapa pula Baratayuda.

“Baratayuda bukan nama oraaaaaaang, Arunaaaaaaa!!!” Keenan hampir nangis darah.

Ternyata masih banyak orang Indonesia yang tidak familiar dengan budaya bangsanya sendiri. Ah! Sedih bukan main.

*** 

Perjalanan bukan untuk mengoleksi foto; namun mengoleksi momen. 
Bukan pula untuk melihat-lihat pemandangan, karena semua yang indah hanya akan lengkap bila dirasakan. 

Aruna mendekap dirinya sendiri kuat-kuat, sambil menatap hamparan awan di depannya. Awan. Begitu dekatnya sampai-sampai ia merinding. Tak lama, semburat sinar matahari mulai menggelitik pipi yang hampir beku oleh dinginnya suhu di Dieng. Pelan-pelan, hangat mulai merayap dan berkawan dengan tubuh Aruna yang menggigil. Ia jatuh cinta pada cerah matahari yang berani namun malu-malu, serta semilir angin yang masih enggan beranjak. Perasaan seperti ini... tidak mampu dibeli di manapun, dengan apapun.

“Dataran Tinggi Dieng, 2.565 dari permukaan laut. Merupakan dataran tertinggi ke-dua setelah Nepal. Gile juga ya, berdiri di tempat yang tinggi-tinggi, bikin gue jadi lebih berani bermimpi setinggi-tingginya.” Keenan yang berdiri di samping Aruna mengembuskan nafas, setengah melamun.

“ASTAGA!! ADA ASAPNYAAA!!” teriak Aruna girang.

Keenan terbelalak, heran.

“Hah!” Aruna mencoba membuat hembusan nafas sendiri dan melonjak-lonjak senang, “HUH HAH! WOOOOOOHHHH!!! Ini kayak di film-film Koreaaaa...”

Sambil menggeleng-geleng, Keenan hanya bisa terbahak melihat Aruna yang benar-benar kayak orang kampung. 
Orang seperti ini, mau kawin sama bule? Disaster.

“Keenan!” seru Aruna tiba-tiba, “Bicara tentang mimpi, semalam gue dapet kabar kalau visa gue udah di-approve! Mimpi gue selanjutnya... gue mau jalan-jalan ke manaaaaa aja, tanpa nge-judge terlebih dahulu. I wanna enjoy all of the goodness Mother Earth presents to me!”

Ada jeda sedetik. Sebelum akhirnya, Keenan—untuk pertama kalinya—melemparkan tubuhnya ke Aruna, memeluknya erat, “Thanks, God. Gue... turut bahagia.”

Ada detak yang hilang ketika Aruna merasakan Keenan yang perlahan beringsut menjauhinya, walaupun senyum Keenan masih saja selebar daun kelor. “Next destination... France, baby! Louvre!” seru Aruna, mengabaikan perasaan aneh tadi.

Seperti biasa, Keenan tertawa-tawa, lalu memeluk Aruna sekali lagi. Cukup untuk menghangatkan sisa-sisa dingin sejak tadi subuh, cukup pula untuk menghangatkan perpisahan yang sudah di ujung mata. Kata Dalai Lama, “Once a year, go some place yo’ve never been before.” Keenan sudah tidak sabaran, menunggu tahun depan, bertemu Paris dan sosok Aruna yang baru, karena bagaimanapun, Keenan tak percaya jarak bisa menghanguskan kualitas suatu hubungan dan persahabatan.

Aruna percaya, waktu bukanlah patokan. Cukup tiga bulan, persahabatan yang ia jalin dengan Keenan terasa seperti selamanya. Ia mengenal lalu jatuh cinta pada kualitas Keenan yang tak akan pernah ia miliki: ketenangan dan jiwa petualangan. Dasar wanita, jatuh cinta memang perkara mudah, tapi persahabatan yang tidak ada akhirnya seperti ini... bahkan lebih akut dari sekedar cinta-cintaan.


Naif memang, Keenan dan Aruna ini. Jarak dan waktu tentu saja akan jadi persoalan. 

Namun, persahabatan adalah perjuangan—saling memperjuangkan, and never ever give up on each other. Bukankah begitu?

http://www.tinggly.com/journal/wp-content/uploads/2015/01/1122.jpg

*Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis

Wednesday, May 6, 2015

Dee - I See Story

“I see story.”

Ungkapan-ungkapan yang berlimpah dari Dee berhasil ‘menampar’ saya, sekaligus membuat saya merinding.

Well, i do see story. 
But, where are they now? 

Mungkin, saya meninggalkan ide-ide yang bertamu hingga debuan, dan jarang saya terjemahkan menjadi cerita.

Bertemu dan berguru dengan Dee, sosok yang begitu senior di dunia penulisan—serta penulis lokal yang paling saya kagumi, tentu saja sukses bikin saya kebat-kebit. Saya bersyukur bisa menjadi salah satu ‘kelinci percobaan’ dalam Coaching Clinic ini, selayak mendengar orkestra live dari maestro-nya, yang biasa hanya bisa saya dengar dari radio! 

Sama halnya dengan alasan mengapa saya ingin mengikuti Coaching Clinic: mempelajari bijaksana dari Dee, saya berhasil menemukannya, mulai dari “Mengapa seorang Dee menulis?” dan “Apa yang Dee lakukan dengan cerita-ceritanya?” semua terjawab walau saya tak sempat mengacungkan tangan di forum yang ramai dengan rasa penasaran itu.

Dee mulai dengan "kalian semua akan jadi kelinci percobaan. Kalau mau kabur juga udah terlambat.
Panitia! Tutup pintunya!" #dengansenyumjahat
Ya elah, Mbak Dee, kami terlalu males untuk berusaha kabur #dudukmanis #ketawatawa 

Dee menulis, untuk dirinya sendiri. Karena masih banyak buku yang ingin ia baca. So, she writes to read. Satu hal yang bikin saya merasa ia begitu spesial adalah Dee yang belajar menulis secara otodidak juga, berhasil mengeluarkan novel pertamanya di usia 25 tahun, which is untuk menjadi sukses seperti sekarang pun, ia butuh waktu yang puanjaaang, meeeeen!

Petuah-petuah dari Mak Suri yang menjadi guru menulis kita selama setengah hari itu saya rangkum menjadi poin di bawah ini:
  • Deskripsikan ceritamu dengan cara dicicil. Biarkan pembaca mengenal karaktermu pelan-pelan, layaknya persahabatan yang dikenal perlahan.
  • Sebelum itu, tentu saja kamu sendiri yang harus mengenal baik karakter-karaktermu sendiri. Setelah kenal, barulah kamu perkenalkan dengan pembacamu. Pikirkan nama karakter dengan serius, enak didengar, pokoknya seperti kasih nama anak. Tahu zodiak, hobi, cita-cita dari karakter tersebut. I think, that’s the most brilliant way to create your characters and make them alive. Menghidupkan karakter, awalnya penulis sendiri harus yakin dulu.
  • Menulis dengan bumbu yang pas, tidak berlebihan dengan metafora—kecuali kalau tulisanmu pendek. Formulanya: just right. Pelan-pelan, kamu akan tahu sendiri. So, for me, writing is also an experience. You feel it, just feel it. Perasaan yang sangat pribadi dan mengenal diri sendiri lebih dalam lagi—dengan mempersilahkan ide-ide untuk masuk dari dirimu.
  • Tulisan Dee, membuat pembaca seperti bisa merasakan suara dari tiap tokohnya. Ada jiwa dalam tiap karakternya. Dee menyarankan kita untuk membaca ulang tulisan kita KERAS-KERAS, kalau terdengar seperti satu suara—yaitu suara penulisnya sendiri—berarti ada yang salah di sana.
  • Dee juga menekankan pentingnya premis dalam menulis. Cerita apa yang ingin kamu baca? Tentang apa? Fiksi, non-fiksi? Berapa halaman? Kapan selesainya? Penerbitnya? Jawab sendiri pertanyaan-pertanyaan ini, karena premis bagaikan DNA—harapan yang kamu berikan pada para pembacamu kelak. Oke, ini menampar.
  • Disiplin juga merupakan kunci penting berikutnya. Tidak harus lebai mesti menulis tiap hari—penulis bukan mesin. Tentukan waktu kerja dan waktu libur kita, hitung berapa halaman efektif setiap hari kerjanya dan taati. Menulis pun butuh jeda, tidak bisa kerja setiap hari. Namun, penting untuk membuat deadline, sebagai alat untuk penulis. Agar kereta kencana yang mengawang-awang di khayalan kita bisa menjadi sesuatu yang nyata di alam nyata: entah itu bajaj, bus, pokoknya bisa jalan dan maju! Oke, menampar!
Dee dan corat-coretnya: ibarat dosen canggih. Mahasiswa kagak ngantuk!
  • Dari Coaching Clinic hari itu, saya juga menyadari kalau Dee adalah pengkhayal kelas kakap, pokoknya kalau ibarat Mafia Hongkong, Dee sudah kelas big boss. Bedanya, Dee mempersilakan dirinya untuk dicari ide. Untuk dicari nafkah #eh. Dee mengatur idenya dengan mencatat semua ide yang muncul, dan menuliskannya sesuai dengan skema cerita yang sudah ia bangun. Membuat idenya mengantri. Equal relationship dengan ide, terbukti dari pertanyaan seorang peserta, “Saya suka ngga bisa tidur kalau tiba-tiba banyak ide sebelum tidur.” Jangan jadi budak ide. Catat. Recognize them.
  • Membuat mind map. Bagian mana twist-nya? Bagian mana yang paling ingin dikenang? Itulah sebabnya, Dee membuat Skenario 3 Babak: Karakter berada di status quo, adanya calon-calon konflik di mana karakter dipaksa keluar dari zona nyaman, terjadinya hal-hal tak diinginkan sampai akhirnya karakter menemukan solusi. Ini memang tak asing lagi bagi penulis, untuk membuat 3 babak ini hidup, catatlah adegan-adegan yang tiba-tiba kepikiran, sifat dari karakter-karakter beserta latar belakang mereka dalam format mind map. Itu akan memudahkan kita.
  • Buatlah karakter yang berpikir. Bukan penulis yang berpikir.
  • Menulis seperti menggali permata. Awal-awal hanya terlihat lumpur. It’s okay. Naskah pertama. Segala kekurangan. Just embrace it. Namun, jangan berhenti menulis karena kita tak akan pernah tahu kapan akan terjadi.
  • Story is the boss. Dari cerita, membentuk karakter-karakter. Misalkan dalam Gelombang, Dee ingin bercerita tentang Mimpi. Alfa ‘diisi’ dengan karakter yang seorang perantau yang pekerja keras, sehingga ia bisa tahan cobaan untuk ‘mencapai’ makna dari mimpinya itu.
Dengan mengalami event ini, saya merasa mimpi saya menjadi lebih dekat. Dee juga selalu menekankan kita untuk punya conviction, tahu pasti apa yang ingin kita tulis, apa yang ingin kita baca, apa yang kita suka. Menulis pun bukan untuk alter ego, bila ada kemiripan pun, itu hanyalah serpihan dari diri penulisnya, bukan penulisnya itu sendiri. Menulis adalah seni, rasa yang dimiliki tiap individu—entah ketika menulis atau kelak membacanya. Setiap seniman, hidup di dua dunia: dunia ide dan dunia manusia.

Terima kasih untuk cerita 'kompartemen' nya, Mbak Dee.
For me, it's mean a lot.
As i always believe in, hug is a way to transferring energy and blessing.
And, Mak Suri... is warm.
Thank you Pak Edy from Bank Indonesia - you freeze the precious moment!
Karena hidup manusia begitu ricuh dengan logika, maka manusia pun butuh kisah-kisah indah. Bukan untuk membius, bukan pula untuk lari dari kenyataan. Jauh dari itu semua, nilai-nilai yang patut manusia pegang dan perjuangkan. Untuk utuh dan hidup sepenuhnya. Oleh karena itu, penulis cerita, story teller hadir di tengah-tengahnya. Oleh karena itu, kalangan manusia butuh seniman; butuh alien. Alien yang mungkin berwujud seperti manusia, kadang-kadang.

Oleh karena itu, saya menulis.

Terima kasih, Dee. Saya telah temukan alasan saya menulis, yang sudah menunggu lama untuk ditemukan. I write for value, for meaning, either from myself or everything around, and i let the reader tastes it personally.

Begitu banyak hal yang begitu pribadi, dan pembaca layak merayakannya dengan bebas. Interpretasi. Seperti halnya pembaca Dee yang kecewa Bukit Jambul dan Kopi Tiwus itu fiktif; seperti halnya saya yang terkagum-kagum dengan sifat Alfa Sagala, sama dengan pembaca-pembaca Dee lainnya.

Terima kasih, Dee, si penunjuk jalan. Agar penulis lain tidak jatuh di salah yang sama, agar penulis seperti kita bisa mengeksplor diri lebih kaya lagi, semoga lahir penulis-penulis muda yang siap berjaya dalam misteri dan galaksi!
#abaikankalimatterakhir
#selamatmenulis!


Foto bersama sebelum kelas dimulai!
Tebak siapa bintang tamu kece?? Trinity, Amrazing, Jenny Jusuf! I am soooo lucky!!
last but not least, ini surat cinta untuk Mak Suri yang diselipkan ke novel saya
yang masih self-published.
Dengan harapan, semoga suatu ketika bisa sehebat Dee. *fingercrossed* #blessme