Showing posts with label blogger penulis. Show all posts
Showing posts with label blogger penulis. Show all posts

Monday, February 1, 2016

He is quiet and so am I. A Poem by Mahmoud Darwish

Saya mulai mencari tahu tentang Mahmoud Darwish ketika saya mengunjungi Salihara. Entah di lantai berapa, terpajang sepotong puisi karya penyair dari Palestina ini. Cukup singkat, hingga akhirnya saya mulai kepo dan jatuh cinta sama beberapa potongan puisinya, salah satunya ini: He is quiet and so am I.

Bercermin, tidak pernah seindah ini. 
Interpretasi mengenai puisi ini? Entahlah. Mungkin tentang interaksi yang saling takut-takut? Interaksi yang mengaitkan begitu banyak perbedaan yang mengantarkan pada persamaan dan perasaan...
Puisi ini, menyelinap masuk ke benak, cukup menggelitik untuk dibaca, sekali lagi. Untuk dibagikan, sekali lagi.

#NyarisPuitis

#NyarisPuitis

#NyarisPuitis


"He is quiet and so am I. 
He sips tea with lemon, while I drink coffee. 
That's the difference between us. 

Like me, he wears a wide, striped shirt, 
and like him, I read the evening paper. 
He doesn't see my secret glance. 
I don't see his secret glance. 

He's quiet and so am I. 
He asks the waiter something. 
I ask the waiter something… 
A black cat walks between us. 
I feel the midnight of its fur 
and he feels the midnight of its fur… 

I don't say to him: The sky today 
is clear and blue. 
He doesn't say to me: The sky today is clear. 
He's watched and the one watching 
and I'm watched and the one watching. 

I move my left foot. 
He moves his right foot. 
I hum the melody of a song 
and he hums the melody of a similar song. 
I wonder: Is he the mirror in which I see myself? 
And turn to look in his eyes…but I don't see him. 

I hurry from the café. 
I think: Maybe he's a killer… 
or maybe a passerby who thinks 
I am a killer. 
He's afraid…and so am I."

-Mahmoud Darwish


Menurutmu, bagaimana?

Tuesday, January 12, 2016

Sepotong pizza dan kebiasaan yang belum padam. #Cerpen

Hari ini gue kepingin memesan pizza, seloyang, tapi yang tidak ada daging sapinya. 
Gue akan memakannya sendiri, iya, iya, gue jamin bakalan habis, kok. Lalu, kalau elu tanya, mengapa harus pizza dan bukan roti goreng, gue sudah tahu gue harus menjawab apa. Merayakan kesedihan. Ingat Sadness dalam film Inside Out itu? Iya, iya, seperti itu. Kesedihan kadang-kadang perlu dirayakan, sampai di titik tertentu, sedih melebur begitu saja, menguap entah jadi apa. Di situ, pelan-pelan gue akan tersadar. Perasaan ini bukan semata-mata kesedihan. 
Ini kangen.

Komala, gue kangen. 



***

“Aku suka pizza, jenis apa saja!” gue inget waktu itu mulut lu berdecap, suara lu nyaring dan cempreng, minta ditempeleng.

“Alasannya? Kamu tanya alasannya? Simpel! Karena…. Pizza itu dari Prancis!” suara lu yang cempreng itu terdengar begitu pongah, gue sudah tidak akan terjebak lagi—gue tidak akan terperangah dengan segala yang lu bacotin.

“Oh iya! Dari Italia, maksudnya. Namanya juga suka. Kadang, suka sesuatu bikin kita jadi salting dan bego. Kadang, suka sesuatu itu juga nggak mengenal alasan, kan?” mata lu yang belo itu membesar, ekspresi lu benar-benar menyebalkan, seperti mencari ‘teman’ supaya tidak dipersalahkan sendirian, apalagi kalau hanya tentang perkara asal muasal pizza dari Italia dan bukan dari Prancis.

Italia, adalah Negara impian seorang akuntan seperti gue ini, yang sudah bekerja 4 tahun di kantor yang sama tanpa pernah mengeluh, membantu setiap karyawan yang membutuhkan pertolongan tanpa pernah merasa dimanfaatkan, dengan mata yang selalu dipenuhi bara setiap kali ada rapat dan dikasih pekerjaan. Sepanjang perjalanan karir semenjak lulus kuliah hanyalah mengabdi pada satu perusahaan, di sinilah gue berada dan bertemu Komala.

“Pesen pizza, gih!” lu berseru dari cubicle sebelah.

Di kantor ini, pizza sangat identik dengan perayaan. Perayaan ulangtahun, naik gaji, naik jabatan atau sekedar merayakan deadline yang berhasil di skip. Tapi kali ini, entah kenapa rasanya gue ingin meledak, gue ingin memarahi operator di seberang yang suaranya terdengar sok akrab, gue ingin pizza itu tidak sampai dalam kurun 30 menit, kalau perlu tidak perlu sampai sekalian. Persetan kalau lu harus marah-marah sambil mengelus perut lu, kemudian mengucapkan jenis-jenis topping seperti merapal mantra, dengan gaya lu yang persis seperti pendongeng ulung.

Ah, rasanya gue benar-benar tidak ingin merayakan apapun lagi dengan pizza. 
Muak. 
Rasa muak ini tidak semuak ketika gue pertama kali ketemu elu dan senyum lu yang penuh kepura-puraan itu, tidak semuak ketika lu merampas jatah roti goreng gue ketika kita dibelikan Bos, tidak semuak… ketika akhirnya gue malah mulai terbiasa makan bekal di pantry sambil memelototi elu menghabiskan sayur bayam yang menjadi menu utama. Katanya, elu sudah makan bayam sejak kecil, setiap hari, mungkin sejenis keterikatan jodoh dengan tumbuh-tumbuhan.

“Kalau pizza dengan topping bayam, ada yang mau invent nggak, ya?” Lu muncul, tepat setelah gue mematikan pesawat telepon dengan operator. Suara lu terdengar begitu ringan, sepertinya tidak ingin memberat-beratkan keputusan ini.

“Kalaupun akhirnya ada topping bayam, mungkin itu typo. Maksudnya, topping ayam, keleus.” gue balas mencecar lu.

Mendengar jawaban gue, lu hanya bisa menggertakkan gigi dengan gemas sambil menggaruk-garuk lengan gue, “Iiiih! Siapa tau beneran, kan bayam itu bergiziiii….” Kemudian lu mulai mencerocos lagi, satu-satunya yang bisa menyelamatkan kondisi seperti ini hanyalah… sinetron tentang Hello Kitty yang katanya perebut suami orang itu. Dasar emak-emak drama! Seheboh apapun lu mendramatisir segala-galanya, bahkan sampai lu membuat gue terpingkal-pingkal, ternyata gue masih bisa merayakan rindu seperti ini.

Manusia, adalah makhluk yang sangat mudah beradaptasi. 
Kadang gue pikir, sekalipun hal yang paling berat; perpisahan paling telak sekalipun, akan bisa kita hadapi. Di samping tidak ada pilihan lain, waktu pun akan merubah semuanya.
Bukan waktu, tapi kemampuan manusia beradaptasi. Pemberian semesta ini, begitu berharga, karena semua akan terjalin kembali melalui kebiasaan.

Seperti lu yang nantinya akan terbiasa makan pizza dibandingkan makan nasi. Terbiasa minum coke setelah makan pizza, dan bukan air putih. Sampai-sampai, terbiasa memesan pizza… untuk sebuah perayaan.

Seperti gue yang akan pelan-pelan terbiasa makan siang di pantry sendirian. Terbiasa mengambil satu gelas besar air putih untuk membasuh tangan sebelum shalat. Sampai-sampai, terbiasa memesan pizza… untuk sebuah perayaan perpisahan resign sudah bukan hal yang membuat sedih lagi.

Bagaimanapun, rindu itu tetap ada. 
Rindu masih tetap seperti bayangan sepatu dengan size yang pas tapi tak sempat terbeli ketika sale, lalu hilang dari peredaran begitu saja, sehingga lu terus-menerus memikirkannya… kadang-kadang. 

Rindu pun lihai bermain petak umpet, ia hanya datang di saat-saat kau merasa sedikit terpuruk dan butuh sedikit pukpuk, sambil berandai-andai alangkah menenangkannya bila orang itu ada di sini dengan segala petuah dan omelan yang menyebalkan sekaligus membangun sekaligus menyentuh sekaligus ngangenin. 

Gue kangen, Komala. Gue kangen.  

Untung saja, kenangan abadi. Serpih-serpihnya masih rapih, masih bisa menyalakan kobar untuk berjuang, secara independen, tidak lagi bergelantungan seperti monyet karena takut dianggap lemah.

Tapi, kali ini, biarkan gue sejenak menjadi cengeng, lalu mengakui bahwa saat-saat seperti ini, gue rindu sekali sama omelan lu.


***

Beberapa partikel dalam #Cerpen ini, nyata.

Tuesday, October 27, 2015

Glenn #TWD Mati dan Plot Twist di Hidup yang Rumit

Ya ampun, lihat judulnya saja sudah bikin muak, ya? Actually, hari ini saya sedikit 'tergelitik' oleh dua hal:
1. Teman kantor saya yang ngomel-ngomel karena karakter Glenn Rhee dari The Walking Dead meninggal dengan cara yang agak sia-sia (jadi dia jatoh ke kumpulan walkers alias zombie waktu temennya yang pengecut bunuh diri. Kan nyebelin!). Glenn ini merupakan sosok yang dicintai penonton dan selalu bertahan dari serangan zombie di season-season sebelumnya, ia juga belajar banyak dari Rick, kepribadiannya yang pengecut pelan-pelan berubah menjadi berani, teruuusss... dia mati. Fine. Nowadays, filmmakers are insane, and sexy in the other way, sih! Berhasil memainkan emosi segitu banyak penonton dan meninggalkan mereka dengan mulut menganga. Hufh.
2. Hari ini adalah Hari Blogger Nasional. Tiba-tiba saya jadi kepingin nulis for the sake of this day. Intinya biar kekinian. Biar gak vakum-vakum amat kayak penyedot debu.
Recently, i think a lot about... how our life can change by some 'plot twist' yang tidak disangka-sangka datangnya. Contoh simpelnya, ya kayak kita sebagai penonton yang tiba-tiba dikejutkan dengan kematian Glenn ini. Hidup penuh kejutan, men! Banyak hal yang tak diduga, entah dalam hal yang positif atau negatif, bisa mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu. Namun, kita sebagai manusia, selalu bertahan. Plot twist yang hidup, yang nyata, sedang kita jalani sekarang ini juga. Namun, tak ayal, plot twist inilah yang membuat suatu cerita menjadi lebih bermakna, lebih mendebarkan sekaligus dinantikan.
Jadi, entah apapun yang sedang kamu jalani saat ini, ingatlah bahwa kita sebagai manusia akan selalu bertahan dan tidak dilumat zombie seperti Glenn ini. Bertahan, tidak hanya untuk mereka yang hampir tenggelam oleh masalah; juga bagi mereka yang sedang mengawang-ngawang di atas kebahagiaan.
Bertahanlah di atas ketidakpastian. Bagaimanapun juga, plot twist dalam hidup tak berhak menjadikan kita sebagai 'sakelar lampu' yang bisa seenaknya di 'on-off' seenak udel.
Bertahan, karena kita bukan sakelar.
Bertahan, karena kita punya pendirian di atas ketidakpastian hidup ini.
Selamat Hari Blogger Nasional, kawan-kawan semua!

Friday, October 16, 2015

Menyimak bisu. Menyimak Percakapan.




Mengheningkan Cipta.

Lalu kemudian semua siswa menunduk. 
Dengan seluruh angkasa raya memuja, pahlawan negara.

Kemudian kita hijrah dari kewajiban mengikuti upacara 
menuju senin sibuk dengan gelas kopi dan setumpuk deadline di kantor, 
beberapa kali mulut mangap-sesaat karena mengantuk. 

'Mengheningkan Cipta' ini tiba-tiba terpikir ketika 
duduk terpekur di ujung jendela kamar: 
1. suasana di luar sana yang bisu. 
2. Angin yang menyentuh dahan pohon dan membuatnya menari, 
3. mas-mas tukang bangunan yang berkacak pinggang memandangi tumpukan marmer, beberapa yang bertukar sapa. 

Kapan kita bisa bertemu bisu seperti ini dan menikmatinya? 
Tanpa gadget seharian, pikiran selayak layang-layang. 
Dengan gadget, kita terfokus dengan segala percakapan fana, cekikikan sendirian. 
Yang penting, intinya kita fokus.

Seakan lupa, ada percakapan lain yang lebih perlu kita bahas. 
Jauh di dalam lubuk hati.
Dan momen di-ujung-jendela-melihat-kebisuan... 
merupakan salah satu cara untuk bercakap-cakap
dengan diri sendiri.
Mengheningkan cipta.

Mengheningkan citta.
Berbahasa dengan pikiran sendiri di kondisi yang paling natural.
Bawel,
diam dengan sendirinya,
bawel lagi,
diam lagi.

Mengheningkan citta.
Cara untuk menyapa 'pahlawan' yang bersemayam dalam pikir, 
memuja jasa-jasa... yang seringkali terdistraksi.


Jakarta, 17 Oktober 2015.

Wednesday, October 7, 2015

Cracker: crack my head, hack my mind at Poetry Slam!

Challenged by one of the writing-partner-in-crime, i finally decide to try write a spoken word (after we joined a poetry slam show in Salihara Community last sunday - and it's totally impressing!)

In fact, spoken words tastes a lil bit urban for me, it's like you try to 'translate' swinging lilting poetry-language into a very sophisticated words, with the same goal: express the emotion, show the idea!

The emotions and ideas are such great things to deliver to public, because people like to hear the stories with a 'crunchy' way, in a contemporary thingie. In a nutshell, speak with an unique way!

So, well.. this is my very first spoken word, i think the title will be: 


CRACKER.
i think i like you
because every single crack on your face
seems like seaweed seasoning cracker
it's salty
but you remind me of the splash of the salt water in the ocean 
through your blinking eyes.

eyes
your eyes
i see a glimpse
i see sparks
i see the fire that ready to burn entire city 
and turn it into ashes
the potential in how you tell your dreams, 
your brain.

oh, your brain
i really want to chew every single cell 
beating from your brain and...
gulp, gulp
being drunken in every ideas 
that turns us into endless party
down there
the heartbeat
the rhythm
down there.

it's your heart
and i started to see myself as zombie
walking there
walking dead
afraid of your eyes that contains the tingling sunshine, 
bringing the conservative, 
the so-called butterfly effect
i'm afraid to burn into ashes before i could ever 
see your eyes seeing my eyes,
wondering how it would feels
to be showered by the heat, on that seat
with every cracker that we eat
and we repeat it again. 
repeat.
crack. crack. crack.
i wanna hack your mind.

and your voice
chirping inside my head
pecking up the logic, 
the arithmetic, 
the periodic table, 
the geometry 
and leaving me nothing scientific but feeling
thump. thump.

i think i like you
the salty water in the ocean that i should have not even try to try, for it can drown me into never ending thirst
your brain that contain hundred billion neurons 
and they keep twinkling zillion of zillion stars above the sky
above my eyes
your eyes...

your eyes,
and a reflection is about to...
beep. beep.

i think i like you
i think i like myself
i think i'm seeing myself in you
i think i am like you.



So, please, tell me,
when you started to feel the person you talk with is a real interesting person and suddenly you just feel really into them... think again, are you seeing yourself there?
And when that phenomenon happen, can you really 'separate' yourself and other?
One kind of impression that Poetry Slam gave me is... a nice experience, and how i see the world, finally wider. 
Wow.

a calm and windy evening, pieces of poems flew around!

Saturday, March 21, 2015

Besok.

"Besok."
Aku termangu, ucapan gadis kecil itu kepada ayahnya yang sedang menyupiri angkot yang kini kunaiki, mengapa begitu menohok?


Besok. Besok tak pernah datang. Besok hanyalah seutas senyum darinya; beberapa sentuhan ringan yang hinggap di pinggang, sukses mengirimi sengatan listrik ke tubuhku; tawa tercekatnya yang kemudian dihujani dengan teori-teori yang membuatku bergumam halus atau membantah sambil setengah berteriak membantahnya - akhirnya aku bisa membantahnya juga; atau menowel pipi berjanggut halusnya yang kalau terbahak, selalu menyisakan cekung yang begitu menggemaskan.

"Kita tak akan ke mana-mana?" tanyaku di suatu senja.

Ia menggeleng sambil membenamkan topi kupluknya lebih dalam lagi, matanya yang belo menghilang dari pandanganku. Gemas, kutarik ia mendekat. Tawanya lepas, patah-patah. "Heh, wanita gila! Memangnya salah, kalau kita cuma duduk-duduk di depan Sevel sambil ngeliatin mobil lewat?"

"Salah. I wanna travel around this city, go discover anything! Anything! Why would we just stay here like a dumb?!" suaraku bercampur energi, aku. mau. terbang.


"Besok."

Aku rasa, aku mendengarnya sayup-sayup berkata demikian. Atau mungkin hanya dalam ilusi semata. Aku suka obrolan penuh sahut-sahutan yang meledak menjadi bukan apapun bersamanya; kopi yang ia buatkan karena tidak-ada-kerjaan-lain; lambaian tangannya sewaktu kita memutuskan akan berjumpa lagi, besok.


Selamat Malam, katanya.

Ia buka lagi dengan Selamat Pagi.

Sampai entah kapan, semua menjadi tak menentu, lalu hilang bersama asap, menjadi asap.


tomorrow, tomorrow i love ya.

Besok.
Besok tak pernah datang, walau besok selalu menantang. 

Besok selalu ada sebagai harapan.
Dan ia tahu, aku tidak bodoh.



Walau kadang, aku menikmati kebodohan.
Bersamanya.
Selayak aku menikmati setiap detik yang berlalu dari ujung jemarinya, ujung bibirnya dan ujung pikirnya.



Karena ia suka menontoni lalu-lalang kendaraan di depan Sevel, dengan secangkir kopi hangat dan chitato... bersamaku.

Karena aku ingin melanglang buana bersamanya ke seluruh pelosok tempat, jemari yang saling bertaut, sesekali berbagi payung... bersamanya.

Karena itu, 
mungkin, 
sebaiknya salah satu di antara kita berkata, "Besok."


Tak pernah datang.



While it last,
enjoy.