Sunday, February 14, 2016

Si Rumit, Pemanis Buatan dan Hari Valentine.

Serumit apa isi kepala seorang jomblo sehingga ia perlu memutar otak mencari alasan pintar untuk merayakan Valentine bersama orang-orang yang bukan berstatus pacar? 

Mereka yang jomblo belum tentu disengaja, sama halnya seperti sejoli yang jatuh cinta tanpa disengaja. Mari kita bicara sedikit mengenai cinta, mblo. Itupun kalau kamu bersedia.



Hai, kamu yang memilih untuk (masih) sendiri, apakah kamu sudah lelah memerangi kesepian yang mengelabui kepalamu dan kadang membuat hatimu kelabu?

Ataukah... kamu belum siap mengurai benang-benang segala ke-baper-an yang rumit antara cinta-sahabat-praduga-kenyamanan dan segala cerita yang membuat dirimu sendiri terasa begitu rumit?



Dan, hai, kamu yang sedang dimabuk cinta di hari kasih sayang. 

Semoga kamu menikmati setiap kerlingan matanya, gurat senyum di matanya, suara tawanya yang khas dan gelembung-gelembung pikiran yang meledak di sela-sela waktu bersama-sama.

Oh ya, selamat mencintai dan dicintai, tanpa perlu memasukkan pemanis buatan apapun, karena kamu sudah terlalu manis untuk mencicip manis yang artifisial. 



Siapapun kamu, di manapun kamu, apapun yang kamu rasakan saat ini, mengapa tak kita rayakan saja momen yang berbinar-binar ini dengan... segelas harapan?

Bersulang dengan kesendirian yang megah atau berdansa dengan kenyamanan yang penuh toleransi. Apapun itu, jangan lupa bahagia.
Mari rayakan apapun itu, di era penuh 'harapan.'
---


Bagaimanapun, hari Valentine hanyalah salah satu hari dari 365 hari di kalender. 
Dibawa baper-baper 'dikit tak apalah. ;)



Credits (dengan perubahan seperlunya + wording)
Picture 1: © Flora Chang | HappyDoodleLand.blogspot.com
Picture 2: © sashafavorov.tumblr.com
Picture 3: © Fireworks Canvas Print by Marcelo Romero

Thursday, February 11, 2016

Perempuan dalam mimpi itu, hujan yang masih bersembunyi di musim kemarau.




Perempuan dalam mimpi itu
adalah hujan yang masih bersembunyi di musim kemarau.

Ia lupa, bahwa hujan tidak bisa dipaksakan, 
dan pawang hujan sedang mengambil cuti panjang.

Ia lupa, bahwa hujan akan membuat ibukota banjir, 
dan dia memang tidak suka memanjat ke gedung-gedung pencakar langit 
untuk mengeringkan kakinya.

Ia ingat, masa-masa hujan begitu romantis. 
Ia bisa mengarahkan payung ke perempuan yang suka menangis dan takut kehujanan, 
supaya punya kesempatan untuk sekedar menjadi pahlawan kecil yang dielukan.

Ia ingat, masa-masa hujan meruapkan wangi yang tak bisa dibeli di toko parfum manapun. 
Wangi yang alami dan membunuh ruang untuk kewarasan,
karena yang tersisa hanyalah ingatan yang menipu.

Ia tak pernah lupa, bagaimana kemarau lamat-lamat menerkam,
sebelum ia sempat menyimpan sisa air hujan
dalam botol kaca kelak ia arungkan ke samudra.

Ia tak pernah lupa, sayap-sayap mimpi yang menjadi sayat-sayat,
bagai ayat-ayat yang tak pernah lelah ia ingat-ingat.

Ia tak pernah ingat, mengapa awalnya ia memulai,
semua yang kelak akan dituai,
hingga tiba saatnya kenangan memuai dan menyaru dalam udara.

Ia tak pernah ingat, apa alasannya berjalan sejauh ini,
bersama perempuan yang ia harap bisa menemaninya tertawa dan menangis,
perempuan dalam mimpi itu
adalah hujan yang masih bersembunyi di musim kemarau.


Karena ketika hujan turun,
laki-laki itu baru teringat bagaimana perempuan itu bisa menjadi hujan
yang menenggelamkan segala kegilaan,
yang membekukan segala gemertak gigi yang menggigil.

Sekarang sudah musim hujan, bung.
Bolehkah kau cari-cari lagi payungmu?


Mungkin,
kau masih bisa temukan perempuanmu di batas-batas udara, 
di sela-sela deru yang hampir mencapai bumi.



----
Bulan Februari, dan masih saja hujan
hampir menenggelamkan beberapa tempat.
Stay safe, peeps.

Monday, February 1, 2016

He is quiet and so am I. A Poem by Mahmoud Darwish

Saya mulai mencari tahu tentang Mahmoud Darwish ketika saya mengunjungi Salihara. Entah di lantai berapa, terpajang sepotong puisi karya penyair dari Palestina ini. Cukup singkat, hingga akhirnya saya mulai kepo dan jatuh cinta sama beberapa potongan puisinya, salah satunya ini: He is quiet and so am I.

Bercermin, tidak pernah seindah ini. 
Interpretasi mengenai puisi ini? Entahlah. Mungkin tentang interaksi yang saling takut-takut? Interaksi yang mengaitkan begitu banyak perbedaan yang mengantarkan pada persamaan dan perasaan...
Puisi ini, menyelinap masuk ke benak, cukup menggelitik untuk dibaca, sekali lagi. Untuk dibagikan, sekali lagi.

#NyarisPuitis

#NyarisPuitis

#NyarisPuitis


"He is quiet and so am I. 
He sips tea with lemon, while I drink coffee. 
That's the difference between us. 

Like me, he wears a wide, striped shirt, 
and like him, I read the evening paper. 
He doesn't see my secret glance. 
I don't see his secret glance. 

He's quiet and so am I. 
He asks the waiter something. 
I ask the waiter something… 
A black cat walks between us. 
I feel the midnight of its fur 
and he feels the midnight of its fur… 

I don't say to him: The sky today 
is clear and blue. 
He doesn't say to me: The sky today is clear. 
He's watched and the one watching 
and I'm watched and the one watching. 

I move my left foot. 
He moves his right foot. 
I hum the melody of a song 
and he hums the melody of a similar song. 
I wonder: Is he the mirror in which I see myself? 
And turn to look in his eyes…but I don't see him. 

I hurry from the cafĂ©. 
I think: Maybe he's a killer… 
or maybe a passerby who thinks 
I am a killer. 
He's afraid…and so am I."

-Mahmoud Darwish


Menurutmu, bagaimana?