Saturday, December 27, 2014

Merry Christmas with Merry Riana The Movie! (A Review)

Merry Riana bukan lagi sosok asing bagi saya. Hampir 3 tahun yang lalu, masih segar di benak saya, ketika ia datang ke kampus saya dan berbagi 'tips cantik' tentang Mimpi Sejuta Dolar, Merry Riana benar-benar cantik yang menginspirasi; dengan semangat yang mampu meledakkan seisi auditorium. Saya ingat sekali, ia meminta para penonton untuk meneriakkan mimpi kita masing-masing, dengan lantang, dengan berani. Mungkin, kalau saya tidak menghadiri seminarnya saat itu, saya tidak akan berani menerbitkan novel saya sendiri dan sampai kepada pekerjaan yang saya cintai. From the deepest of my heart, i would like to thank you, Miss Merry Riana. You're such an inspiration for pursuing my dreams.

Foto sebelah kiri bukan foto saya maupun teman saya, waktu itu masih malu-malu. 
Kita cuma berani foto sama tiketnya ajah :3

Anyway, lewat seminar kala itu, saya pun mulai tergelitik dengan kisahnya yang konon katanya akan diangkat ke layar lebar. Dan akhirnya, yes. Film ini berhasil membuat saya menangis dari menit ke-10 sampai... entahlah. Chelsea Islan berhasil memerankan Merry Riana dengan sangat optimal, mulai dari gestur, cara bicara yang tegas, tajam dan berapi-api, lari-larian yang bikin geleng-geleng kepala (ngga cape apa ya ini cewek, hahaha), sampai ekspresinya yang 'ngenes' aja masih terlihat cantik dan teutep bikin orang terenyuh. Penampilannya, mulai dari rambut yang lepek dan kusut, mukanya yang kena polusi, baju, tas, dan kets-nya yang 'mahasiswa banget,' semuanya terlihat nyata, wajar, dan (herannya) tetep cakep. Didukung dengan Dion Wiyoko sebagai Alva (well, the Alva has another story in this movie anyway, which is totally different with the novel) yang sangat kece jugakkk (walaupun hitam dan dekil), ditambah Kymberly Rider yang flawless, doi memang pas banget meranin ciwi kaya yang hobinya shopping.

nonton bareng Koko dan Dede, biar sesama sodara jadi termotivasi. ahey!

Adegan Merry yang berlari keluar-masuk dari satu toko ke toko lain untuk mencari pekerjaan, sampai ia memohon-mohon seorang wanita untuk mempekerjakannya di organisasi non-profit, Papa Merry yang menelepon untuk mengatakan belum bisa menengoknya ke Singapura, lalu mengucapkan selamat ulangtahun, doa Merry ketika ia meniup lilin, stress-nya ketika gagal, ketika terjadi masalah, sampai Merry yang tersenyum lebar sekali di masa-masa kejayaannya, lalu terpuruk lagi, lalu... ah, semua... semuanya begitu menyentuh hati. Film ini... film Indonesia... jarang sekali ada yang begitu dahsyat energinya, yang membuat saya keluar dari Bioskop dengan pipi yang masih sembab dan hati yang meluapkan emosi positif. Saya, akan menyelesaikan apa yang sudah saya pilih. Dengan sukses!

courtesy: xxi

Tentu saja, selain itu, banyak banget adegan lucu yang bikin ngakak. Mulai dari Julia Perez yang tampil sebagai cameo, bos Singapore Flyer yang lebay dengan singlish-nya heboh abis, sampai security indihe yang berhati hello kitty. Belum lagi ungkapan S.H.M.I.L.Y yang 'ah so sweet.' Penasaran? Sudahlah, ketawanya di dalem Bioskop aja, ya. Nyampur mungkin, sama airmatanya :')

courtesy: xxi

Namun sangat disayangkan, film ini terkesan tidak realistis. Dari cara Merry mendapatkan banyak uang sampai menyumbang acara kampus dan dielu-elukan teman-temannya, seingat saya beda dengan kisah Merry asli yang sukses dari asuransi. Ditambah cara Merry di film yang sukses mendapatkan sejuta dolar pertamanya juga agak aneh. Yang sampai terakhirnya, saya sempat terheran-heran, "that's it?" Mungkinkah karena pesan yang ingin disampaikan adalah: Berusahalah sebaik mungkin untuk mengejar impianmu, namun jangan lupa untuk tetap berbuat kebaikan?

Coba tebak, Merry Riana sedang berbicara dengan siapa?
Selain itu, tentu saja quote dalam film yang masih 'nyantol' sampai sekarang. Mengena sekali di hati, terutama yang (kira-kira) ini:
"Sekarang saya mengerti, mengapa saya diberi nama Merry Riana yang berarti Dua Kebahagiaan. Agar saya dapat membahagiakan orang-orang di sekitar saya, agar saya menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka."

dan juga yang ini:

tiketnya saya sayang-sayang.
pesan dari Mama Merry Riana saya tulis di catatan saya.
sampai saya foto di depan pohon natal. :')
Love it, i looooove it.
temukan juga quotes lain di instagram saya: @tanerina42
Film ini recommended banget untuk ditonton, tidak hanya bagi yang penasaran dengan kisah hidup Merry Riana, tapi untuk memantik kembali bara semangat yang mungkin sudah tertidur. Di penghujung tahun, di sela persiapan awal yang baru (lagi). 

And... keep inspire us, dear Miss Merry Riana! :*


PS: Officially fans berat Chelsea Islan mulai sekarang :3

Wednesday, December 24, 2014

Supernova Movie Review: Dongeng yang Tersesat di Sela Kota dan Puisi

Sudah seminggu yang lalu, tapi kadang puisi-puisi di film Supernova itu masih saja menggerayangi benak. Arghh. Beginilah kalau sudah jatuh cinta berat sama fiksi karangan Dewi Lestari. Ya memang, sedikit berlebihan untuk tidak bisa move on (gimana caranya move on kalau di kantor pun ada teman sejenis yang tergila-gila begini). By the way, pertama kali saya membaca Supernova saat masih kelas 2 SMP, 'novel berat' pertama yang membuat saya susah lepas, bahkan untuk pergi membeli bakmi saja harus ditenteng juga--sampai-sampai Mama saya jadi gemes. Sempat menjadi suka sama fisika untuk sesaat, dan makin kepingin belajar filosofi karena novel ini pula. 

ruang kantor Ferre yang seluas cakrawala
Pertama kalinya juga, jatuh cinta sama tokoh Arwin yang tidak mainstream. Helloooo. Suami mana yang akan dengan rela membiarkan istrinya selingkuh?! Dan pertama kalinya juga meleleh melihat tokoh Arwin yang akhirnya mencinta karena sudah begitu berani melepas. Jadiiii. Ketika film ini tayang di layar lebar, tentu saja saya sudah ngebet abissss kepingin nonton, lebih-lebih pada rasa penasaran tentang bagaimana tokoh-tokoh itu akan diperankan.


eksmud, dan pujangga? antik.

Awalnya sempat ragu dengan Herjunot Ali yang didapuk memerankan Ferre. Rasanya jauuuuuh banget sama gambaran di novel, tapi ternyata Ferre yang 'bergerak' ini cukup melelehkan juga. Namun, disayangkan sekali, akting mereka semua KAKU sekaliiiii. Dialog yang terucap seperti hafalan belaka, apalagi di bagian awal perkenalan Ferre dan Rana. Sempat heran sih, Herjunot Ali dan Raline Shah 'kan sudah pernah main film bareng. Tapi seiring plot yang berjalan, dialog antar mereka pun mulai terlihat lugas dan mengalir. Chemistry yang tercipta juga kena banget, begitu juga dengan Fedi Nuril yang memerankan Arwin, terlihat seperti mas-mas kaku yang berusaha membahagiakan istrinya tapi gagal terus. 

tapi saya tetep demen kok, sama mas :3

Tidak bisa dipungkiri, film ini seperti puisi berjalan dengan pemandangan yang memanjakan mata. Mulai dari kantor megah Ferre, lingkungan cluster Ferre dan Diva, LABUAN BAJO KYAAAAA!, dan juga rumah Arwin dan Rana yang antik nan eksotis, namun suram. Artistik yang menarik, puitis yang romantis. (Halah, apa-apaan ini, terbawa suasana Supernova kan kan kan.)


Pasangan homo yang bisa 'dimaklumi'

Sementara itu, pasangan Ruben dan Dhimas cukup menyayat hati dan membuat saya menggeleng-geleng. Gila deh, akting Hamish Daud dan Arifin Putra bagus bangetttt! Ditambah dengan animasi ketika badai serotonin yang (akhirnya ada juga film indonesia yang ngga mirip sama sinetron silat di indo**ar! haha!) memperindah adegan mereka. Demikian juga dengan kisah Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang cukup dramatis dan terlihat hi-tech.

cukup deg-degan di bagian ini. drama abissss.

Ada beberapa bagian skenario yang berbeda dengan novel aslinya. Bagian Arwin yang marah dan menabrak rumah Ferre dengan mobil off-road nya, bawa-bawa pistol dengan kepala mengebul. Haha! Cukup menarik, tapi agak awkward bagi pecinta novel seperti saya. Begitu pula dengan bagian Gio yang sudah saya nanti-nantikan, tapi pria menawan itu tidak muncul sampai akhir film. Argh. Sudahlah, setidaknya scene Ferre yang menodongkan pistol ke kepalanya sendiri dan serentetan dialog untuk dirinya sendiri itu sangat dramatissss and i loooove it so much. Akting Herjunot makin bagus aja nih, apalagi saat dia 'ngomel' ke Rana tentang hubungan mereka di Rumah Sakit. Ferre abissss.


supernova: film yang banjir quote


Quote-quote yang bertebaran di film ini juga kaya pake banget. Melimpah! Sampai-sampai jadi bingung mau inget yang mana, hahaha!

"Kamu mencintaiku dengan tepat, Re." - Rana

"Sudahkah kau benar-benar jatuh, wahai yang sedang jatuh cinta?" - Diva

"Bahkan dalam keadaan yang nampaknya equilibrium atau seimbang, sesungguhnya chaos dan order hadir bersama seperti kue lapis, yang di antaranya terdapat olesan selai sebagai perekat. Selain itu adalah zona kuantum - rimba infinit di mana segalanya relatif, tidak ada yang pasti, hanyalah sekumpulan potensi dan probabilitas."
(credit: http://revi.us/badai-serotonin-fiksi-ilmiah-supernova/)

"Jangan menangis. Aku mohon. Kalau kamu benar-benar mencintainya, aku rela kamu pergi. Aku nggak akan mempersulit keadaanmu. Keadaan kita. Kita sama-sama sudah terlalu sakit. Bukan begitu? Aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Kamu nggak akan pernah tahu betapa besar perasaan ini. Perasaan ini, cukup besar untukku berjalan sendirian tanpa harus kamu ada. Tidak akan mudah, tapi aku nggak mau membuatmu tersiksa lebih lama lagi. Hanya saja, tolong. Jangan menangis lagi. Aku sudah terlalu sering mendengar kamu menangis diam-diam, dan itu sangat menyakitkan. Aku mohon." - Arwin.

"Lalu, idiot mana yang menulis 'Love shall set you free'? Tadinya, saya pikir, cinta seharusnya menjadi tiket menuju kebebasan, bukan pengorbanan." - Ferre.




Setidaknya, Supernova adalah perekat kangen. Yang kangen, boleh merapat. Dijamin menentramkan hati - walaupun hati masih mencelos karena ngga ketemu Gio sampai akhir cerita. Apa kabar film berikutnya? :')

Tuesday, November 18, 2014

Sunday Sharing #10: Bertemu Komunitas Blogger Paling Kece di Detik.com!

Berbicara tentang menulis dan blogging, sudah bukan dunia yang asing bagi saya. Mulai mencinta kegiatan tulis-menulis sejak kelas 5 SD, saya menemukan kesulitan untuk bertemu dan bercengkrama dengan 'teman-teman senasib' yang bisa diartikan sebagai alien pula. Betapa tidak, saya sudah menemui manusia tak terhitung yang mengernyit, terkagum-kagum atau terbahak ketika saya bilang hobi saya adalah menulis. Mereka merasa, hobi ini kurang beken, tidak seperti olahraga tertentu, nge-mall, nongki-nongki (which is saya juga suka sih, haha) atau belanja (nah, yang ini apalagi!). #gagalfokus

Belum lagi ketika ditanya dengan pertanyaan mainstream, "Apa cita-citamu?" yang sudah berani saya jawab dengan, "Jadi penulis." Saya bisa melihat apa yang terpampang di jidat mereka: alien

Mungkin saja, ini semua hanya delusi yang keterlaluan, sebenarnya banyak sekali 'teman sejenis' di luar sana, saya bukanlah satu-satunya alien yang sok eksklusif. Untungnya, itu semua terjawab ketika saya iseng-iseng mendaftar acara Sunday Sharing yang saya ketemukan di timeline twitter saya. Berangkatlah saya sendirian pada minggu pagi, dengan harapan yang sederhana: menemukan ilmu baru. (dikira dunia persilatan apa, haha!). Tak lupa, saya membawa satu kopi novel saya yang baru saja diterbitkan indie oleh Nulisbuku. Alasan yang sederhana pula, memberi sedikit kontribusi pada komunitas baru yang entah wujudnya seperti apa ini. Hehe.


Ferry Djajaprana, hypnotherapist yang mengajarkan hypno-writing

Here is it. Topik Sunday Sharing ini cukup menarik, terbukti dari animo peserta yang membludak dalam satu ruangan meeting di kantor Detik. Beliau adalah Ferry Djajaprana, yang membukakan cakrawala pengetahuan kami mengenai dunia kepenulisan dari sisi lain: menulis untuk penyembuhan psikologis, dan dengan kata lain juga memicu produktivitas kami untuk menghasilkan tulisan yang lebih bermakna. Ada satu hal yang paling 'nyantol' sampai sekarang, yang sulit terlupa. Pak Ferry menyatakan: 
"Kebanyakan penulis itu pada dasarnya perfeksionis, oleh karena itulah mereka sulit melahirkan karya. Seringkali terbentur writer's block. Tulislah, tanpa mikir; tanpa me-revisi sebelum selesai. Anda tidak menulis untuk mengedit. Tulislah dengan kualitas tulisan sampah." 
Thanks, Pak Ferry. It means a lot. I can write without any burdens now, so free. And i know, i can let my writings be, and having my editing-time on the proper time too.



WHAT MAKES ME LOOOOOVE THIS 
#SUNDAYSHARING:
pembacaan puisi oleh rekan PEDAS.
should be more dramatic than the picture:
lampu-lampu yang dimatikan, suara lantang yang membelah hening.

Saya terpukau dengan aksi sebelum sharing dimulai: pembacaan puisi oleh anggota komunitas PEDAS (Penulis dan Sastra) dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda. Memang, sayup-sayup saya sudah mendengar gladi bersih mereka yang barusan dilakukan (beberapa menit sebelum tampil), tapi jujur... saya suka dengan performance mereka. Chemistry-nya dapet banget, klik banget, dan masing-masing pembaca puisi punya kekhasan masing-masing. Cukup menghibur dan menggemuruhkan tepuk tangan para peserta, salute!


ilmu gratis + lunch gratis + teman baru!

Kekhawatiran akan tidak bisa dapat teman baru seketika buyar setelah makan siang, karena walaupun peserta di sana rata-rata adalah para 'sesepuh,' namun mereka sama sekali tidak sombong dan rajin menabung pulak--eh tidak ding, rajin memberi buku dan merchandise! Terbukti dengan kuis yang banjir hadiah dan banjir 'penjawab' di sela-sela acara. Interaktif yang akrab! 


sesi hipnoterapi
Last but not least tentang Sunday Sharing #10, sela-sela tertidur sambil dicekokin afirmasi positif dari pembicara. Bangun dengan perasaan lebih segar, dan siap menulissss.



EH, EH. TERNYATA 
TIDAK HANYA JADI TAMU.
Saya rasa semua 'kebetulan' ini dimulai semenjak saya menyerahkan novel saya sebagai merchandise kepada Ketua Kelas Sunday Sharing #10 sekaligus pemimpin PEDAS, Mbak Elisa Koraag. Sudah merupakan tradisi, bahwa event yang terselenggara tiap bulan ini akan dikelola secara estafet pula, dengan pemilihan Ketua & Wakil Ketua Kelas yang baru tiap bulannya. Awalnya saya pikir, Mbak Elisa akan menunjuk salah seorang temannya dan kemudian heboh sana-sini, eh ternyata... ada seorang Ibu yang belakangan diketahui akrab disapa Bunda yang menawarkan diri menjadi Ketua Kelas. Terjadilah adegan ngobrol-ngobrol di depan, sedangkan saya masih asik main hp di belakang. Eh, eh, tiba-tiba nama saya dipanggil. Aye naon? 

Ternyata saya diminta jadi Wakil Ketua Kelas. 
Pupus sudah rencana saya untuk menjadi makhluk yang datang dan lenyap di acara ini. Akhirnya, dengan tampang ngenes, agak malu-malu(in) juga, saya pun maju ke depan. Cukup senang, dan deg-degan... yang terbayar setelah foto bareng. Hehe.


Ketua & Wakil Ketua Kelas Sunday Sharing #10 & #11

Eittss.. Kejutan tidak berhenti sampai di sana sajaaaa. Kami juga diajak untuk berkelana ke lantai 5, markas CNN Indonesia - dede barunya Detik.com yang baru akan diresmikan pada keesokan harinya (tepat saat pelantikan Presiden Baru Indonesia, 20 Oktober 2014). Yap. Kami menjadi pengunjung pertamax, gan!! Suasana kantor yang masih bau cat, grafiti pada dinding-dinding kantor yang sangat 'lokal' dan menggemaskan! Ada wayang, tukang jamu, becak, bajaj, daaaaan... barisan tokoh-tokoh populer Indonesia yang 'mengundang' kami untuk jepret-jepret.


paling krusial: foto keluarga.
Senja memisahkan kami semua, dipanggil pulang ke kandang masing-masing. Tapi, keseruan tidak berhenti di sana saja. Saya masih punya kewajiban mendatang, yaitu menyukseskan event Sunday Sharing #11 bersama Bunda Sitti Rabiah, yang review nya bisa dibaca di sini.

Salam Blogger!

Tuesday, October 28, 2014

Travel Review: Gunung Krakatau Berbonus Pulau, Why Not?

Di kala berlibur dengan judul 'Pergi ke Pulau' sudah mainstream (apalagi kalau pulaunya masih berkisar dua jam dari Jakarta), maka ketika ajakan berlibur ke pulau sekaligus gunung KRAKATAU, saya tidak lagi menolak. Yah, walaupun saya tahu, kenyataan terberat dari berlibur ke pulau adalah: jadi hitam. mutlak. Semua demi gunung krakatau yang melegenda #cieh. Gunung Krakatau, terakhir yang saya ingat adalah, nama gunung ini nangkring di pelajaran geografi zaman SD, dan bikin saya cukup penasaran. Lalu, berbekal embel-embel kumpul bareng temen kuliah sehabis acara lulusan, dimulailah perjalanan kami yang saaaaangat panjang! Saya tidak pernah menyangka akan sepanjang dan sebosan ini, tapi pada akhirnya terbayar dengan pemandangan dari atas Gunung Anak Krakatau -- tepat pada perayaan 17 Agustusan lagi! Sooo, here it is!

Menuju, dan Pulau
Jadwal yang cukup padat, begitu dipelajari, kami sudah siap dengan konsekuensi tidur-ngga-cukup: perjalanan dimulai dari jumat malam sampai minggu subuh, di mana kami menghabiskan tidur di kapal, homestay dan... kapal lagi.
Perjalanan dari Jakarta menuju Pelabuhan Merak memakan waktu 2 jam (di mana kami men-carter mobil sendiri). Saya cukup amazed dengan kapal yang akan menyeberangkan kami ke Pelabuhan Bakauheni, GEEEEDEEEE. #fixlebay. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami pun mengantri masuk kapal ala ala anak SMA, "Eh, lo jagain tempat buat kita ya!" demi bisa tidur nyenyak. Sukses! Kami semua mendapat tempat tidur (yang mirip banget sama asrama shaolin, sempit disekat kayu), dan tetep ngga bisa tidur karena pengen jalan-jalan keliling kapal. 

norak dikit, tiket kapalnya sampe difotoin segala :3

Malam pekat, debur laut yang meninggalkan buih-buih di pinggir kapal, lampu mercusuar yang mengedip centil di penghujung, pantulan sinar bulan yang menari di gelombang air laut, dan obrolan ringan nan bermakna bersama teman saya di tepi kapal. Sukseslah saya jatuh cinta dengan suasana seperti ini. Memang, sedikit #nyes kalo udah ngebayangin film Life of Pi, tapi justru dengan keadaan seperti ini, saya diam-diam bersyukur dan berterimakasih pada Semesta. Bumi yang luas, dan... megah yang ramah. Terkadang merasa kocak karena 'diganggu' suara decit tikus yang muncul di ujung, tapi ya sudahlah. Namanya juga kapal (yang sudah lumayan tua). Karena nangkring di luar kapal bersama angin laut akan mengancam kebugaran, akhirnya kami pun masuk dan... menemukan beberapa temen yang ngga bisa tidur. Tanya kenapa? 

Ada kecoa (dan anak-anak kecoa) di tempat tidurnya.

Hiiiiiiy. Ternyata bangsa antena cokelat ini memang bertebaran di mana-mana, ya maklum deh, kan ini bukan pesawat jet. Tapi, jujur, saya merasa kecewa dengan fasilitas seperti ini, sih. 

Kalianda, sampai di sini, kami melanjutkan perjalanan dengan angkot

Akhirnya kami hanya bisa merem-merem-serem dan ketiduran sebentar. Setelah 3 jam, sampailah kami di Pelabuhan Bakauheni dan berlanjut dengan naik angkot selama 1 jam menujuuuu... Dermaga Canti. Yes, another pit stop lagi untuk mencapai pulau-pulau.

Dermaga Canti beserta kapal-kapal yang nangkring

Setelah sampai di Pelabuhan Canti, kami bersih-bersih dan sarapan (di mana fasilitasnya juga enggak banget, kalo mau pipis mesti numpang dulu ke warung seberang pelabuhan, sikat gigi dan cuci muka di tepi pantai gersang atau ngantri puaaanjang banget sama peserta lain, dan ganti baju rame-rame). 


taken from Dermaga Canti. Gunungnya masih diselimuti awan.

Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya datang juga speedboat, yang akhirnya membelah pantai menuju kawanan pulau Sebuku Kecil, Sebesi, Umang-umang dll. Frankly said, i'm not impressed karena pulaunya juga tidak jauh berbeda dengan Kepulauan Seribu (dan speedboat kita ngga dipinggirin di tepi pantai, dibiarkan terapung-apung di tengah pulau, di mana orang-orang bisa langsung loncat ke air, well.. saya ngga suka aja sih. Panas banget, lagi. #alatantetante #kipaskipas)

Pulau Umang

Saya hanya berenang saat kami mencapai Pulau Umang-umang yang sebenernya juga ngga sebagus yang digembar-gembor teman-teman saya, kalau kata guide-nya sih, pulaunya lebih indah lagi kalau kita muter sampai belakangnya. Entah deh, akhirnya kami menikmati sunset di sana, lalu kembali ke homestay.

Bagaimanapun, saya tetap menikmati perjalanan yang penuh dengan semilir angin, dari yang kencang abis sampe sempoyongan, dan tentu saja pemandangan yang ditawarkan. Air biru yang menyejukkan mata, ditambah dengan bukit-bukit kokoh yang memeluk bumi sekitar. Cantik!

memanjakan mata. awannya pas banget di atas gunung!

desing mesin dari kapal, dan buih yang terbelah dari laut, impressing. 

Halo, Kemerdekaan!
Hal yang paling berkesan dari perjalanan ini tentu saja Gunung Krakatau, which is kami hanya mendaki anak gunung krakatau yang sudah cukup bikin ngos-ngosan. Sebenarnya, medannya tidak begitu curam, tapi berhubung perjalanan kami dari Pulau Sebesi ke Pantai Gunung Krakatau yang bikin lemes dan belom sarapan (dalam rangka mengejar waktu), jadilah saya hanya sampai ke punggung gunung dan cukup puas untuk bisa mengikuti upacara 17an dengan bendera besaaaar yang terbentang, dan beberapa puluh orang yang mengitarinya dengan sikap hormat. Kami menyanyikan lagu Indonesia Raya dan 17 Agustus bersama-sama, dan... saya menangis. Haru biru. Pertama kalinya saya merasakan cinta yang meluap kepada Ibu Pertiwi, dan tentu saja, ini adalah upacara terkeren yang pernah saya ikuti sampai saat ini! I Love Indonesia!

medan krakatau dari kejauhan

Minggu, merdeka. Krakatau rame!

Saya jadi ingat perjuangan kami dari homestay menuju gunung krakatau... yang empot-empotan. Perjalanan dimulai dari jam 5 subuh dan diprediksi sampai ke TKP jam 7 kurang. Waktu itu, angin sangat kencang sehingga kapal kami sudah terombang-ambing bahkan sebelom jalan! Awalnya, kami sangat excited, lagaknya udah kayak lagi maen di dufan aja, seru deh ombaknya! Naik-turun, dengan sorakan "UWOOOOO!" yang rame. Namun, setelah setengah jam, kami semua sudah lemas dan diambang mual, belum lagi ombaknya yang bahkan tidah hanya naik-turun, tapi juga terhempas ombak kiri-kanan, rasanya lemes banget... beberapa temen (termasuk saya) sampai muntah-muntah! Jadi, ngga heran dong, kalau saya sampe nangis pas upacara? Effort untuk sampe ke sini nih, bo.

Suasana apel di atas gunung krakatau

Merah Putih: banyak juga orang-orang yang membawa benderanya sendiri

pemandangan dari atas gunung. fascinating :3

Cerita Homestay
Homestay yang ada di di Pulau Sebesi sebenarnya cukup ramai suasananya, sayangnya rumah yang (kebetulan) saya tinggali ini kurang bersih dan agak serem, fasilitas air dan listriknya juga jelek banget. Air dan listrik baru dinyalakan setelah jam 6 sore, dan kembali dimatikan setelah jam 12 malam! Bayangkan!!! Toiletnya juga serem, sepaket sama sumur soalnya (oke, ini guwe aja yang lebay), dan menurut teman-teman yang tidur di ruang tamu (yang dijejerin kasur), ada kecoa -_-" (again!!!!). Seriusan, kalau pariwisata di tempat ini ingin lebih maju lagi, pihak kepulauan Lampung semestinya menanggapi serius hal-hal kecil seperti ini deh! Sebagian dari kami bahkan tidak bisa mandi setelah diving hanya karena tidak-ada-air. Bayangkan!!! Kami pulang ke Jakarta bersama sisa-sisa air asin yang menempel di kulit kamih, hingga jam 2 subuh, lho!
Nah, yang di atas tadi komplen, tapi masih tetep suka banget makan pisang goreng buatan ibu-ibu warung dan kelapa muda segar dari si bapak, hehehe.

Salah satu yang menghibur dari homestay ini adalah penampakan para kawanan kebo,
lagi berendam adem di kubangan. Galak lho, mereka :3

Intinya, perjalanan singkat ini memberi banyak makna bagi saya. Di samping kekeluargaan yang semakin pekat (karena berlindung dari berbagai terjangan ombak) bersama teman-teman, juga kekuatan dan kerelaan. Kuat untuk pulang ke Jakarta dengan kondisi jari tangan saya yang bengkak (baca juga cerita tulang jari saya yang retak karena kecelakaan saat berenang), dan kerelaan handphone saya yang error gara-gara kena air laut. Haha!

Apapun, pengalaman yang baik maupun jelek, tidak menyurutkan SEDIKIT PUN niat saya untuk terus menjelajah alam Indonesia, karena bumi Ibu Pertiwi.. yang semakin dikelana, semakin mbikin jatuh cinta! That's all! :3

Cerita tentang Tulang Jari Retak

Sekedar membagi informasi dan pengalaman, mana tahu ada pembaca atau teman-teman yang sedang mengalami hal serupa. Semua cerita saya mengenai tulang jari yang retak ini bisa dijadikan referensi berpikir, mengambil keputusan atau berobat. Semoga bermanfaat.

Kronologi kejadian
Bulan Agustus 2014 lalu, saat saya terjun dari kapal untuk berenang di Pulau—disertai dengan perasaan takut kelelep—tak sengaja jari saya terbentur kayu (mirip ayunan—biasa digunakan sebagai alat panjat untuk naik ke kapal atau turun ke laut). Entah karena waktu itu ombak lagi lumayan besar, atau momentum ketika saya terjun ke bawah yang lumayan kencang, saya mendapati jari tengah saya bengkok ke kiri dengan nyeri seperti kram. Teman saya bilang, itu kram karena saya terlalu panik. Akhirnya, saya pun menuruti sarannya untuk menggerak-gerakkan jari di air sambil terus berenang, namun nyerinya tak kunjung hilang, dan jari saya tidak lurus lagi. Sampai akhirnya kembali ke kapal, jari saya jadi semakin bengkak dan membiru. Teman-teman menyarankan mencari tukang urut (di mana juga susah banget nyari tukang urut di daerah pulau Lampung), dan saya sendiri yang terlalu takut diurut karena merasa akan memperparah. Akhirnya, berbekal informasi sekilas yang saya baca dari internet, saya pun mengompres jari saya dengan es, dan harus menunggu pulang Jakarta untuk ke Rumah Sakit. FYI, setelah dikompres dengan es-pun, bengkak di jari saya tidak mengempes, malah makin membiru dan tidak bisa ditekuk lagi.

Foto ini diambil dalam kapal pulang ke Jakarta, bengkak dan bengkok. Sakit banget.

Pulang ke Jakarta
Keesokan harinya, saya pun menuju ke Rumah Sakit swasta yang cukup terkenal di daerah Jakarta Barat, niatnya sih hanya ingin rontgen untuk memastikan apakah ada tulang yang retak, atau hanya engsel jari yang bergeser. Tapi, prosedur rumah sakit mengharuskan surat referensi dari dokter tulang—(seperti biasa) LAMA banget, hanya untuk divonis harus operasi dan jangan ke tukang urut, karena yah, benar, tulang jari tengah saya patah. Begitu kata dokternya.

Perhatikan yang dilingkar merah

Begitu melihat rincian biaya operasi (yang entah kenapa dikategorikan di golongan besar), saya langsung lemas. 15 juta, bo. belom juga termasuk obatnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari nyokap temen yang koneksinya luas, yang akhirnya mengantarkan saya pada pengobatan alternatif aka. Sin She. (FYI, waktu saya kelas 5 SD, saya juga pernah jatuh dari sepeda, akibatnya tulang di lengan kiri saya retak, dan juga sembuh dengan pengobatan dari Sin She legendaris di Pekanbaru). Berbekal nekat, kami pun menyambangi rumah Sin She, sore-sore, untung prakteknya belom tutup. Sin She tersebut mempelajari hasil rontgen saya, berkata bahwa ini hanya retak, dan ia sanggup menyembuhkannya, asal tahan sakit. Saya pikir, sakit itu sudah pasti, apalagi dengan keadaan jari saya yang sudah didiamkan seharian, tetap saja harus saya alami. Sin She membalut jari tengah dan jari manis saya dengan sanggaan bambu dan ramuan herbal, memberi saya obat, dan menyuruh saya untuk datang 3 hari kemudian.

jari udah kayak pisang

Setelah berobat sekitar 5 kali, Sin She berkata tidak perlu datang lagi karena jari saya akan sembuh seperti sedia kala, asal rutin latihan gerak saja. Saya pun pergi ke retret di Mega Mendung, Puncak yang lembab dan dingin, berbekal obat dari Sin She juga. Retret berlangsung selama 9 hari, dan di sela-sela itu, saya juga rajin latihan menggerak-gerakkan jari saya di dalam air hangat yang berisi larutan garam. Saking rajinnya, kulit saya sampai melepuh dan menggembung, sepertinya faktor iklim dingin di sana juga. Pulang dari Puncak, saya sempat penasaran dan akhirnya memutuskan untuk pergi rontgen sekali lagi (di rumah sakit yang berbeda—namun masih di kawasan Jakarta Barat), dengan hasil yang mengecewakan lagi. Dokter tulang tetap menyarankan saya untuk operasi ditambah fisioterapi, karena jari saya masih belum sembuh total. Jadilah saya galau lagi (kayaknya emang ngga boleh nih ke rumah sakit sendirian, bisa diserang penyakit bimbang mendadak, hehehe). Untung saja, saya orangnya memang kepo dan suka mengobrol, bahkan ketika di rumah sakit saja, saya berkenalan dengan sepasang suami istri, dan si ibu dengan pede menyarankan saya tidak usah mengikuti saran si dokter. Usut punya usut, suaminya juga pernah mengalami kecelakaan parah di mana tulangnya juga pada patah, dan sembuh tanpa harus operasi.

perhatikan lingkaran merah, ada perubahan ngga?

Keesokan harinya, saya nyamperin Sin She saya lagi, dan ia pun terheran-heran dengan kedatangan saya. Sin She melihat hasil rontgen ke dua saya, berkata bahwa tulangnya sudah nyambung kembali, dan garis yang terlihat di rontgen itu hanyalah bekas retakan tulang. Ia menyarankan saya untuk tetap rajin latihan gerak, konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kalsium, dan dijaga baik-baik.


Tips dan Saran:
Sifat alami tulang adalah dapat sembuh sendiri, dengan jangka waktu yang lumayan panjang tentunya. Sekitar 3 bulan sampai setahun. Tergantung tingkat keparahannya. Tujuan pemberian obat dari Sin She maupun dokter adalah untuk mempercepat proses tersebut. Bahkan, tanpa diobati pun, tulang yang retak bisa sembuh sendiri. Hanya saja, untuk posisi tulang yang bergeser, dibutuhkan ‘profesional’ untuk ‘merapikannya.’

pasca buka perban. masih hitam dan banyak kulit mati yang belom 'mengelopek.'
  • Menurut Sin She, orang yang tulangnya lagi terluka tidak boleh mengangkat barang yang berat, tersenggol, terbentur, dan makan atau minum yang dingin-dingin (baik itu es atau makanan ‘dingin’ seperti kol, bayam, sayur putih, dll). Tapi, kata teman saya yang notabenenya adalah dokter, itu hanyalah mitos. Well, kembali lagi ke pribadi masing-masing untuk percaya atau tidak.
  • Perbanyak konsumsi makanan atau minuman yang mengandung kalsium, seperti susu, ikan teri medan, kacang-kacangan, dll
  • Jari adalah alat gerak yang sangat, sangat bermakna. Mulai dari mengetik, mengupil, mandi, dan kawan-kawan. Disarankan untuk jangan terlalu stres ketika hanya mampu menggunakan satu tangan untuk beraktivitas (which is pasti jadi lebih lamban). Bersabarlah, dan perbanyak mengobrol dengan orang-orang terdekat. Jangan terlalu memikirkan kondisi tulang, apalagi tidak sabaran—karena tulang juga butuh waktu untuk menyembuhkan diri. “Orang sakit itu harus hepi, dengan begitu sel-sel di tubuhnya akan lebih cepat beregenerasi”dikutip dari nasehat temen saya yang gemes melihat saya stres kala itu.
  • Dengan mengobrol dan saling berbagi, saya juga sadar ternyata banyak sekali orang di sekitar saya yang juga pernah mengalami tulang yang patah atau retak—bahkan sodara tukang taksi yang saya tumpangi! Mostly, mereka juga tidak operasi. No offense, anyway.
  • Untuk meredakan nyeri dan melemaskan otot, disarankan untuk merendam bagian yang sakit ke dalam air garam yang hangat (saya sendiri juga merasa sangat nyaman dan ringan begitu sudah direndam, dan ketika selesai, tangan saya kembali kebas karena masih memar dan aliran darah belum begitu lancar. Tidak apa-apa, lakukanlah dengan rutin).
  • Yang paling penting: Rajin-rajin cari informasi, batasi ruang gerak bagian tubuh yang terluka untuk sementara waktu, dan berdoa. Stay happy!

kondisi jari tengah setelah hampir 3 bulan. masih sedikit bengkak, tapi sudah bisa ditekuk sempurna.

Overall, pilihan untuk operasi atau pengobatan alternatif kembali lagi pada kondisi luka dan pertimbangan masing-masing. Ini hanya sekedar pengalaman saya, berharap ini bermanfaat dan ingatlah terus... kamu tidak sendiri! Mengutip kata-kata teman saya, “Seseorang pasti pernah mengalami tulang yang patah atau retak—at least sekali seumur hidupnya.”

Ya, kalo perlu sih jangan pernah, tapi kalau sudah kejadian, ingatlah untuk tetap tersenyum, karena ini hal yang wajar dan tidak perlu diresahkan secara berlebihan. Semoga cepat sembuh!

Oh ya, saya pun merasa termotivasi berkat membaca sharing pengalaman dari sini.


sekedar referensi saja, saya percaya selain Sin She Iwan (yang menangani saya),
masih banyak 'dokter alternatif' yang bisa teman-teman pertimbangkan

Friday, October 24, 2014

Menjadi Penulis: Edisi #PenulisNgenes

Dreamless Dreamers, 'anak' pertama saya yang lahir
dan 'katanya' berhasil menginspirasi yang baca :3
apa lagi yang lebih menyentuh dari hal ini?

Menjadi penulis. Terdengar keren dan tidak biasa. Lebih antik dan bergengsi dibanding profesi lain yang didapat dari kuliah bertahun-tahun. Tidak ada gelar khusus untuk mempelajari bidang usaha ini, kalau ia mau disebut sebagai salah satu jenis 'usaha.' Menjadi penulis adalah panggilan jiwa, atau sejenis obsesi, atau impian, atau apapun nama yang ingin anda berikan. Saya sempat cekikikan saat membaca buah pikir dari penulis brazil yang tersohor melalui buku The Alchemist dan Eleven Minutes, Paulo Coelho. Beliau sudah bermimpi menjadi penulis sejak usia 15 tahun, lalu mencari tahu definisi penulis: tidak pernah menyisir rambutnya, berkacamata, omongannya selalu 'dalam', memahami istilah-istilah aneh dengan pembendaharaan kata yang meluap, selalu berhasil merayu wanita, dan ketika ditanya mengenai buku apa yang dibaca, jawabannya pasti buku yang tidak pernah didengar orang lain. 

Well, menjadi penulis itu sesungguhnya ribet, karena selalu bergumul dengan pikiran dan idealisme sendiri. Kali ini, saya mau sharing mengenai 2 jenis #PenulisNgenes. Lumayan, buat lucu-lucuan sambil ngaca juga, hehehe..

1. Penulis yang (diam-diam) mengaku dirinya adalah penulis, mengaku suka menulis, namun saat dibombardir dengan pertanyaan, "Sudah nerbitin berapa buku, sih?", "Bukunya bercerita tentang apa?", "Biasa suka nulis dengan genre apa?", "Nulis di blog? Link-nya apa?" dan kawan-kawannya, maka mereka akan tercekat dan jawaban yang muncul akan berputar-putar di ambang ketidakpastian dengan inti: "gue emang suka menulis sih, tapi tidak ada waktu, atau kadang-kadang nge-blank, makanya update blog sama rilis buku gue tidak kelar-kelar sampe sekarang, tapi yah gue sering sih ikut seminar atau workshop mengenai kepenulisan." (situ ibu-ibu PKK? kerjanya kumpul-kumpul melulu, hahaha). Masih. Masih dengan postur yang menjanjikan serta percaya diri, dan masih membawa serta ungkapan-ungkapan yang njlimet -- kadang membuat orang tertentu menjadi terpesona, kadang orang tertentu pula akan menggeleng-geleng karena ndak mudheng. 

2. Penulis yang mengaku dirinya adalah penulis, hanya untuk dirinya sendiri. Entah itu menulis diary, blog pribadi yang digembok, dan segala sesuatu yang hanya dinikmati sendiri. Tapi, bukan berarti mereka tidak unjuk gigi, lho. Mereka sering menulis hal-hal puitis atau (yang katanya) 'berisi' di status jejaring sosial, yang menginspirasi, memberi motivasi, dan tidak jarang (menyuruh orang untuk) mendapatkan 'like' dan 'share' sebanyak-banyaknya. Kalau lo nge-like postingan gue, nanti gue like balik. (Ciyeee, transaksi dagaaaang).


Naaaaah. Kamu masuk yang mana?

Sebelom ngaku, saya dulu deh yang ngaku. Saya masuk kedua-duanya. #NgenesAbis hahaha... Karena mulai merasa ngenes dan harus ada yang berubah dari nasib hidup saya (cielahh bahasanya, pih!), maka saya mulai mempertanyakan aktivitas menulis dan segala lomba (kebanyakan kalah, tapi ada satu, dua yang menang atau masuk kategori juga sih -- tuh, kan! sok kepedean lagi!) yang pernah saya ikuti, segala naskah yang saya kirim ke penerbit mayor dan majalah yang ditolak, dan sudah berapa ribu subuh yang saya lewati untuk menamatkan novel orang lain dan akhirnya #ngenes karena tersentuh sama kisahnya. Kapaaaan novel saya bakal menyentuh orang jugaaaa, maaaak? :')

Tergerak oleh banyak pertanyaan yang tak kunjung bermuara inilah, akhirnya saya memutuskan untuk pelan-pelan mengusahakan segala cara. Yang paling krusial tentu saja adalah mendisiplinkan niat yang sering pasang-surut (saya percaya banyak sekali teman-teman penulis yang sama!) dengan memaksa diri saya untuk MENULIS TIAP HARI, entah hasilnya akan jadi sampah atau permata. Selain itu, saya juga lamat-lamat belajar mencintai karya saya sendiri, melonggarkan label perfeksionis yang sudah menempel kayak lem uhu di jidat saya dengan TIDAK MENGHAPUS TULISAN YANG SUDAH DITULIS PANJANG-PANJANG. Sayang tauuu, ibaratnya seperti membuang sepiring penuh roti bakar hanya karena kita ngga suka sama abang-abang yang bakarin rotinya. Biarkan saja dulu, selesaikan dulu tulisanmu, diamkan beberapa saat, baru setelahnya dikeluarkan dari oven #lho. Kalau kata Raditya Dika, ada masa-masa inkubasi bagi suatu naskah, sehingga saat kita membacanya lagi, kita sudah dalam kondisi yang fresh untuk merevisinya.

Jalur Penerbit Indie?
Saya juga sempat ragu dengan keputusan mengambil jalur penerbit indie, karena semuanya harus diurus sendiri, belum lagi dengan acara 'merinding disko' menunggu reaksi orang-orang yang bertanya, "Hah?! Jadi lo nulis?!" dengan tampang #ngenes abis ngeliat kecoak, atau tampang abis kepepet bajaj. Well, kadang penulis bisa malu juga lho, selain (tentunya) berhasil malu-maluin. Namun, setelah saya menengok kembali semua passion dan usaha yang saya lakukan, tidak jauh-jauh dari upaya berkisah untuk menginspirasi orang lain, menguatkan orang lain dan memberi semangat bagi mereka yang butuh kesegaran. Kalau memang itu tujuannya, mengapa saya harus menyimpan segala cerita untuk saya konsumsi sendiri? 

Dewi 'Dee' Lestari yang baru-baru ini menerbitkan seri Supernova Gelombang, juga pernah mencetak Rectoverso melalui jalur indie; demikian juga Robert Kiyosaki yang memasarkan sendiri buku larisnya yang juga ia cetak sendiri; Fahd Pahdepie penulis yang selalu menghembuskan pesan sarat islami tanpa menggurui juga melakukan hal yang sama untuk bukunya yang berjudul Kucing; Ika Natassa yang beken lewat metropop juga memiliki novel berbahasa inggris yang hanya bisa dipesan melalui penerbit indie. Ditambah lagi, saat ini sudah banyak sekali penerbit indie yang bisa mendukung mimpi-mimpi muliamu, salah satunya adalah Rasibook yang tidak akan menolakmu seperti yang dilakukan gebetanmu #EdisiNgenes lagi, hahaha, dan yang paling penting GRATIS (nih, kepoin di sini). Kalau sudah begini ceritanya, tidak ada alasan #ngenes untuk memilih tetap bungkam dalam passion menulismu, kan?

Karena, saya selalu percaya, menulis itu bukan sekedar kata-kata yang menari di antara kursor atau penamu. Menulis adalah menuangkan energi, di mana kamu tidak akan pernah tahu siapa yang berhasil kamu bantu, siapa yang berhasil tersenyum dan terinspirasi, hanya melalui jemari dan benakmu.

(Mengapa menulis itu suatu keharusan? Baca di sini).

#DariNgenesJadiGemes
#YukPublishBukumu
Cari tahu lebih lanjut tentang Rasibook, Indie Publisher 

Tuesday, October 21, 2014

Foodgasm: Beatrice Quarters, Pantai Indah Kapuk

Sebenernya, pertama kali gue menginjakkan kaki ke restoran ini juga tidak disengaja. Tidak baca review, tidak tanya temen, tidak juga hasil kepo-kepoan dari instagram. Tidak sulit mencari tempat makan di kawasan PIK, namun saking banyaknya restoran berjejer di sana, gue dan teman gue yang waktu itu cuma pengen leha-leha abis interview kerja... jadi galau. But, finally this pretty restaurant caught our eyes! Akhirnya sampe memutuskan untuk makan malam di sini. Gue malah terpana dengan interior restoran yang sangat amat girlie and chic, sulit banget untuk tidak jatuh cinta pada atmosfir restoran ini! Musik yang antik, keremangan dengan 'kuning' yang pas, sofa empuk dan homey (apalagi di ruangan bagian dalam), quote-quote yang bertebaran di MEJA yang bikin kita jadi pengen banget makan sambil ngelupain berat badan sejenak #eh terussss... balik lagi, gue kesengsem berat sama desain ruangannya. Sesaat setelah gue masuk, gue udah bertekad bakalan datang ke sini lagi sambil memboyong teman-teman! Haha.

Beatrice Quarters menawarkan Western Food (mulai dari steak, pasta, pizza, fish and chips, toast dan lain lain) dengan appetizer yang cukup menggoda. Menu minumannya juga cukup bervariasi, tapi gue malah kebiasaan memesan minuman paling mainstream di dunia pernongkian: teh. And guess what? I got a cup of chamomile with cookies, and i really found it cute! Apalagi toast-nya yang 'menggunung' dan seru untuk dimakan bareng sambil bergosip. And yes, i did it with my fellas! :)


the pasta tasted good, and in the appropriate portion too (for me).
Biasa kalo gue makan beginian, suka enek kalo udah setengah jalan. Ajaibnya, kali ini enggak :3

rencananya, temen gue mau makan semua nih. Tapi akhirnya kita malah share.Suka sama topping-nya yang wangi, curiga chef nya punya ramuan rahasia.

Vintage-ness overload: coba deh perhatikan piring sama gelasnya!
Ga jauh beda ya, sama yang dipake nenek kita dulu, hehe.
Overall, menurut gue, dari segi konsep, ini adalah restoran yang (akhirnya) bikin Nanny's Pavilion punya saingan, walaupun baru punya dua cabang (PIK dan Puri Indah), tapi selalu terlihat ramai saat gue berkunjung ke sana. Ini tempat yang kece buat menghabiskan weekend bareng geng, pacaran (kalo pacarnya ngga keberatan diajak bermanis-manisan ria sejenak, hehehe), atau bareng keluarga dan sodara. Well, the atmosphere is definitely comfortable too for doing some tasks or office works.

se il vous plaît!

Ratings
Place: 9/10
Food: 8/10
Price: 8/10
Service : 8/10

Beatrice Quarters
Jl. Marina Ruko Crown, blok B/26
Bukit Golf Mediterania
Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara

www.beatricequarters.com
official facebook: here