Friday, October 24, 2014

Menjadi Penulis: Edisi #PenulisNgenes

Dreamless Dreamers, 'anak' pertama saya yang lahir
dan 'katanya' berhasil menginspirasi yang baca :3
apa lagi yang lebih menyentuh dari hal ini?

Menjadi penulis. Terdengar keren dan tidak biasa. Lebih antik dan bergengsi dibanding profesi lain yang didapat dari kuliah bertahun-tahun. Tidak ada gelar khusus untuk mempelajari bidang usaha ini, kalau ia mau disebut sebagai salah satu jenis 'usaha.' Menjadi penulis adalah panggilan jiwa, atau sejenis obsesi, atau impian, atau apapun nama yang ingin anda berikan. Saya sempat cekikikan saat membaca buah pikir dari penulis brazil yang tersohor melalui buku The Alchemist dan Eleven Minutes, Paulo Coelho. Beliau sudah bermimpi menjadi penulis sejak usia 15 tahun, lalu mencari tahu definisi penulis: tidak pernah menyisir rambutnya, berkacamata, omongannya selalu 'dalam', memahami istilah-istilah aneh dengan pembendaharaan kata yang meluap, selalu berhasil merayu wanita, dan ketika ditanya mengenai buku apa yang dibaca, jawabannya pasti buku yang tidak pernah didengar orang lain. 

Well, menjadi penulis itu sesungguhnya ribet, karena selalu bergumul dengan pikiran dan idealisme sendiri. Kali ini, saya mau sharing mengenai 2 jenis #PenulisNgenes. Lumayan, buat lucu-lucuan sambil ngaca juga, hehehe..

1. Penulis yang (diam-diam) mengaku dirinya adalah penulis, mengaku suka menulis, namun saat dibombardir dengan pertanyaan, "Sudah nerbitin berapa buku, sih?", "Bukunya bercerita tentang apa?", "Biasa suka nulis dengan genre apa?", "Nulis di blog? Link-nya apa?" dan kawan-kawannya, maka mereka akan tercekat dan jawaban yang muncul akan berputar-putar di ambang ketidakpastian dengan inti: "gue emang suka menulis sih, tapi tidak ada waktu, atau kadang-kadang nge-blank, makanya update blog sama rilis buku gue tidak kelar-kelar sampe sekarang, tapi yah gue sering sih ikut seminar atau workshop mengenai kepenulisan." (situ ibu-ibu PKK? kerjanya kumpul-kumpul melulu, hahaha). Masih. Masih dengan postur yang menjanjikan serta percaya diri, dan masih membawa serta ungkapan-ungkapan yang njlimet -- kadang membuat orang tertentu menjadi terpesona, kadang orang tertentu pula akan menggeleng-geleng karena ndak mudheng. 

2. Penulis yang mengaku dirinya adalah penulis, hanya untuk dirinya sendiri. Entah itu menulis diary, blog pribadi yang digembok, dan segala sesuatu yang hanya dinikmati sendiri. Tapi, bukan berarti mereka tidak unjuk gigi, lho. Mereka sering menulis hal-hal puitis atau (yang katanya) 'berisi' di status jejaring sosial, yang menginspirasi, memberi motivasi, dan tidak jarang (menyuruh orang untuk) mendapatkan 'like' dan 'share' sebanyak-banyaknya. Kalau lo nge-like postingan gue, nanti gue like balik. (Ciyeee, transaksi dagaaaang).


Naaaaah. Kamu masuk yang mana?

Sebelom ngaku, saya dulu deh yang ngaku. Saya masuk kedua-duanya. #NgenesAbis hahaha... Karena mulai merasa ngenes dan harus ada yang berubah dari nasib hidup saya (cielahh bahasanya, pih!), maka saya mulai mempertanyakan aktivitas menulis dan segala lomba (kebanyakan kalah, tapi ada satu, dua yang menang atau masuk kategori juga sih -- tuh, kan! sok kepedean lagi!) yang pernah saya ikuti, segala naskah yang saya kirim ke penerbit mayor dan majalah yang ditolak, dan sudah berapa ribu subuh yang saya lewati untuk menamatkan novel orang lain dan akhirnya #ngenes karena tersentuh sama kisahnya. Kapaaaan novel saya bakal menyentuh orang jugaaaa, maaaak? :')

Tergerak oleh banyak pertanyaan yang tak kunjung bermuara inilah, akhirnya saya memutuskan untuk pelan-pelan mengusahakan segala cara. Yang paling krusial tentu saja adalah mendisiplinkan niat yang sering pasang-surut (saya percaya banyak sekali teman-teman penulis yang sama!) dengan memaksa diri saya untuk MENULIS TIAP HARI, entah hasilnya akan jadi sampah atau permata. Selain itu, saya juga lamat-lamat belajar mencintai karya saya sendiri, melonggarkan label perfeksionis yang sudah menempel kayak lem uhu di jidat saya dengan TIDAK MENGHAPUS TULISAN YANG SUDAH DITULIS PANJANG-PANJANG. Sayang tauuu, ibaratnya seperti membuang sepiring penuh roti bakar hanya karena kita ngga suka sama abang-abang yang bakarin rotinya. Biarkan saja dulu, selesaikan dulu tulisanmu, diamkan beberapa saat, baru setelahnya dikeluarkan dari oven #lho. Kalau kata Raditya Dika, ada masa-masa inkubasi bagi suatu naskah, sehingga saat kita membacanya lagi, kita sudah dalam kondisi yang fresh untuk merevisinya.

Jalur Penerbit Indie?
Saya juga sempat ragu dengan keputusan mengambil jalur penerbit indie, karena semuanya harus diurus sendiri, belum lagi dengan acara 'merinding disko' menunggu reaksi orang-orang yang bertanya, "Hah?! Jadi lo nulis?!" dengan tampang #ngenes abis ngeliat kecoak, atau tampang abis kepepet bajaj. Well, kadang penulis bisa malu juga lho, selain (tentunya) berhasil malu-maluin. Namun, setelah saya menengok kembali semua passion dan usaha yang saya lakukan, tidak jauh-jauh dari upaya berkisah untuk menginspirasi orang lain, menguatkan orang lain dan memberi semangat bagi mereka yang butuh kesegaran. Kalau memang itu tujuannya, mengapa saya harus menyimpan segala cerita untuk saya konsumsi sendiri? 

Dewi 'Dee' Lestari yang baru-baru ini menerbitkan seri Supernova Gelombang, juga pernah mencetak Rectoverso melalui jalur indie; demikian juga Robert Kiyosaki yang memasarkan sendiri buku larisnya yang juga ia cetak sendiri; Fahd Pahdepie penulis yang selalu menghembuskan pesan sarat islami tanpa menggurui juga melakukan hal yang sama untuk bukunya yang berjudul Kucing; Ika Natassa yang beken lewat metropop juga memiliki novel berbahasa inggris yang hanya bisa dipesan melalui penerbit indie. Ditambah lagi, saat ini sudah banyak sekali penerbit indie yang bisa mendukung mimpi-mimpi muliamu, salah satunya adalah Rasibook yang tidak akan menolakmu seperti yang dilakukan gebetanmu #EdisiNgenes lagi, hahaha, dan yang paling penting GRATIS (nih, kepoin di sini). Kalau sudah begini ceritanya, tidak ada alasan #ngenes untuk memilih tetap bungkam dalam passion menulismu, kan?

Karena, saya selalu percaya, menulis itu bukan sekedar kata-kata yang menari di antara kursor atau penamu. Menulis adalah menuangkan energi, di mana kamu tidak akan pernah tahu siapa yang berhasil kamu bantu, siapa yang berhasil tersenyum dan terinspirasi, hanya melalui jemari dan benakmu.

(Mengapa menulis itu suatu keharusan? Baca di sini).

#DariNgenesJadiGemes
#YukPublishBukumu
Cari tahu lebih lanjut tentang Rasibook, Indie Publisher 

4 comments:

annisa malikhah said...

iya mbak. Nih udah aku tengokin blognya :) ...
Aduh mba' jadi ikut kesindir masuk kekedua kategori #penulisngenes_nya :(

Rizky Puspita said...

Wah sangat menginspirasi dan bagus nih saran-sarannya, bisa dijadiin acuan :)

Rizky Puspita said...

Sangat menginspirasi dan bisa digunakan tu saran-sarannya. We Write We Share :)

Wanda Chacha said...

wah, bener. munngkin aku termasuk penulis untuk pribadi.bagus tuh kalimat terakhir : Menulis adalah menuangkan energi, kamu tidak akan tahu siapa yang berhasil kamu bantu, berhasil tersenyum dan terinspirasi, hanya melalui jemari dan benakmu. :)

regard,
wandaconstan.blogspot.com