Friday, February 26, 2016

Review Film Zootopia - Dunia tak Sebaik yang Kau Pikirkan!

Ketika film ini berakhir di bioskop kala itu, kesimpulan pertama yang meloncat dari benak saya adalah: kisah seekor kelinci yang menyelamatkan hidup si rubah. That's a fantastic idea mengingat hukum rimba yang berlaku: karnivora akan selamanya menjadi pemangsa untuk herbivora.

kelinci... menyelamatkan hidup seekor rubah?
Merupakan hal yang lumrah bila herbivora seperti kelinci akan selalu 'kalah' dari hewan seperti rubah, itulah kesan pertama saya ketika tokoh utama, si kelinci kecil yang bercita-cita menjadi polisi ini dicakar oleh rubah ketika ia hendak menolong domba-domba yang di bully. Sikap rubah kecil yang kejam dan penuh ancaman ini sama sekali tidak menggoyahkan niat mulia si kelinci untuk menjadi penegak keadilan dan membawa perubahan baik bagi dunia. Tapi apa daya, di dunia ini (yes, our world, too), seperti sudah ada paradigma bahwa jenis hewan tertentu pasti harus mengikuti jalan hidup dan pakem tertentu, sesuai sifat alamiah dari hewan tersebut. Ras kelinci, seharusnya membawa perubahan baik bagi dunia dengan menanam wortel, bukan menjadi polisi. 

Hey, welcome!

Film ini mengangkat isu keadilan dan anti-rasisme yang dituangkan dalam bentuk yang menarik. Ya, bukan Disney namanya kalau tidak berhasil menyentuh sisi emosional dan intelektual para dewasa; di saat bersamaan menginspirasi para bocah. Berbeda dengan hukum rimba yang kita kenal, penonton diajak bertanya-tanya mengenai bagaimana rasanya bila semua hewan bisa hidup harmonis bersama tanpa saling memangsa dan mencelakai? Bagaimana rasanya tinggal di tempat dimana semua hewan bisa menjadi apa saja?

Yes, yes! Welcome to Zootopia!

Zootopia adalah kota impian Judy Hopps, si kelinci yang 'batu' dan tidak mengindahkan segala cercaan mengenai fisik dan ras-nya, sehingga berhasil mejadi kelinci pertama dengan karir sebagai polisi! Inilah film pertama yang berpesan bahwa ketika impian sejak kecilmu tercapai, bukan berarti kamu sudah langsung bahagia! Tidak ada 'akhir' yang bahagia, karena hari pertama kerja Judy Hopps ternyata malah seperti neraka! Untung saja, optimisme dan keceriaan si kelinci (dengan kuping yang selalu terangkat naik) membuatnya bertahan hidup di Zootopia, kota besar yang menawarkan begitu banyak kesempatan sekaligus mengajar setiap pribadi yang hidup di dalamnya untuk berpikir lebih realistis.
"Everyone comes to Zootopia, thinking they could be anything they want. But you can't. You can only be what you are. Sly fox. Dumb bunny." -Nick Wilde

Judy Hopps melihat realita kehidupan yang kejam dan memilih untuk tetap menjadi positif. Judy Hopps juga tidak membawa larut kekesalannya ketika dibohongi oleh si rubah Nick Wilde yang memanfaatkan kebaikan dan kepolosan hatinya. Mereka berdua malah bekerjasama ketika si kelinci menerima tantangan dari Kepala Opsir untuk mencari hewan hilang di Zootopia. Dari kasus hewan hilang inilah, petualangan mereka berdua dimulai dengan penuh 'tipu-muslihat' yang cerdik, rentetan kejadian yang menyebalkan, menegangkan hingga yang kocak-kocak, krisis kepercayaan pada diri sendiri dan persahabatan, hingga akhirnya perjuangan mengungkap konspirasi yang berakhir mencengangkan.



Jarang sekali ada film animasi dengan rasa Die Hard. Dengan rasa film action. Memang sih, di dalamnya tetap ada imajinasi yang terlihat begitu nyata, seperti pemandangan Judy Hopps selama perjalanan di kereta. And yes, saya sangat terhibur, apalagi di bagian Sloth yang bernama Flash itu! Benar-benar menggemaskan dan bikin orang kepingin flip table! Hahaha.. selain itu, candaan yang cerdas juga saya temukan di bagian Nick Wilde saat bertemu dengan domba bernama Dawn Bellwether yang menjabat sebagai Deputy Mayor, Nick begitu penasaran akan rasanya menyentuh langsung bulu domba, yang dilarang keras-keras oleh Judy. Judy mengingatkan bahwa menyentuh kepala Bellwether adalah tindakan yang tidak sopan, sehingga akhirnya Nick Wilde hanya bisa berceletuk, "Can't she count herself as she going to sleep?" Jenius mana yang kepikiran hal seperti itu? Hehehe.


I want to touch her hair!


Tiga Pesan Moral versi #NyarisPuitis:

1. Membebaskan diri dari dogma dan pandangan masyarakat ternyata bisa membuat diri sendiri menjadi lebih bebas. 

Rasis. Rasis. Rasis. Kalau saja Judy Hopps adalah hewan yang rasis, ia pasti tidak bisa menikmati sifat Benjamin Clawhauser, si cheetah gembul yang hobi makan donat dan berjoged. Ia pasti akan terbahak begitu mengetahui perawakan Mr. Big yang ternyata.... ah, sudahlah. Ia juga pasti tak habis pikir mengapa Chief Bogo begitu mengidolakan Gazelle.


2. Berani mengakui kekurangan diri sendiri dan dengan tulus memohon bantuan.
"Wait, listen! I know you'll never forgive me. And I don't blame you. I wouldn't forgive me either. I was ignorant and irresponsible and small-minded. But predators shouldn't suffer because of my mistakes.
And after we've done, you can hate me, and that'll be fine, because I was a horrible friend... And you can walk away knowing you were right all along. I really am just a bunny."
Bagi saya, sosok Judy Hopps ini sudah perfect. Ia bagaikan matahari yang sanggup menyinari dirinya sendiri; tipe yang tahan banting dan tidak bisa dikalahkan di mana saja, karena bara semangatnya tak pernah padam. Tapi, ia cukup jujur ketika ia rapuh dan butuh bantuan, dan momen ketika ia menangis di depan Nick Wilde untuk meminta maaf.. ah, so sweet.


3. Pemaafan dan Penerimaan
Pelan-pelan saya baru menarik benang merah bahwa Hopps kecil pernah dilukai oleh rubah; Hopps yang beranjak dewasa lagi-lagi diperdayai oleh rubah! Namun, mengapa Hopps tidak mempersoalkannya dan malah menjebak rubah untuk bekerjasama merunut kasusnya? Sampai-sampai pada akhirnya, Hopps begitu yakin akan kualitas diri si rubah Wilde dan menyelamatkan hidupnya dari pekerjaan rutinnya yang tidak 'halal'!
Isn't it amazing?! 

Dimulai dari tekad untuk mengubah dunia menjadi lebih baik, seekor kelinci berhasil menyelamatkan dunia, ah ini terlalu luas dan melibatkan banyak orang, tapi yang pasti... seekor kelinci berhasil menyelamatkan hidup si rubah!


Dimulai dari tekad, apa yang ingin kamu ubah dari duniamu?

Life's a little bit messy. We all make mistakes. No matter what type of animal you are, change starts with you.
Change.... start... with... you....

3 comments:

Sinta said...

Perbedaan itu memang indah walau kadang menyakitkan, seperti hitam dan putih memang sulit untuk dipersatukan tapi indah. cerita ZooTopia ini memang memberikan pelajaran yg sangat berharga banget buat kehidupan sehari-hari kita. contoh yg paling sederhana adalah berbagi kasih tanpa harus memandang perbedaan. Itu sih menurut ku yg paling penting, karena sampai saat ini masih banyak orang yg terlalu memandang ras, suku, agama, warna kulit dsb. Tuhan berkati :-)

Rotan Sintetis said...

Potongan Furniture Anyaman Rotan Natural
Potongan Furniture Anyaman Rotan Natural
Potongan Furniture Anyaman Rotan Natural
Potongan Furniture Anyaman Rotan Natural
Potongan Furniture Anyaman Rotan Sintetis
Potongan Furniture Anyaman Rotan Sintetis
Potongan Furniture Anyaman Rotan Sintetis
Potongan Furniture Anyaman Rotan Sintetis
Potongan Furniture Rattan Synthetic
Potongan Furniture Rattan Synthetic
Potongan Furniture Rattan Synthetic
Potongan Furniture Rattan Synthetic
Potongan Furniture Rotan
Potongan Furniture Rotan
Potongan Furniture Rotan
Potongan Furniture Rotan
Potongan Furniture Rotan Alami
Potongan Furniture Rotan Alami
Potongan Furniture Rotan Alami
Potongan Furniture Rotan Alami
Potongan Furniture Rotan Natural
Potongan Furniture Rotan Natural
Potongan Furniture Rotan Natural
Potongan Furniture Rotan Natural
Potongan Furniture Rotan Sintetis
Potongan Furniture Rotan Sintetis
Potongan Furniture Rotan Sintetis
Potongan Furniture Rotan Sintetis
Potongan Kerajinan Furniture Rattan Synthetic
Potongan Kerajinan Furniture Rattan Synthetic
Potongan Kerajinan Furniture Rattan Synthetic
Potongan Kerajinan Furniture Rattan Synthetic

Download Film Bluray said...

keren nih meskipun kartun

nonton film horor