Saturday, March 9, 2013

Rectoverso Film Review

Film omnibus ini telah saya tonton hampir sebulan yang lalu, namun serpihan-serpihan sensasi film ini masih saja menggerayangi pikiran saya, jadi...bagaimanapun tetap harus ditulis dulu, kan? Saya adalah penggemar berat karya Dewi "Dee" Lestari, jadi sudah pasti pernah membaca kumpulan cerpen Rectoverso--berulang kali malah. Menurut saya, film yang disutradarai oleh 5 aktris cantik ini mampu membawakan pesan yang menciptakan sensasi yang mendekati seperti layaknya kala membaca novel ini (kadang sambil ditemani dengan alunan lagunya itu sendiri).

Plot yang dimainkan dalam film ini juga sangat unik, 5 film yang sama-sama merayap dari perkenalan tokoh dan fenomena, bagaimana para tokoh berjalan seiring waktu, hingga sama-sama mencapai klimaks (didukung lagi dengan soundtrack yang..... speechless. Glenn Fredly with his Malaikat juga Tahu dan Raisa with her Firasat was really bursting my tears)

Namun, satu hal yang sangat disayangkan dari film ini adalah, pengambilan gambar yang walaupun cukup artistik, namun selalu goyang. belum lagi suara yang bocor.

MALAIKAT JUGA TAHU
 “Seratus itu sempurna. Kamu satu lebih sempurna.” 

Jujur saya tidak begitu impress dengan film ini pada awalnya, sedikit membosankan (karena saya juga tidak begitu suka sama ceritanya), namun seiring dengan plot yang merambat…lalu astaga. Lukman Sardi mampu memerankan orang autis dengan sangat baik dan penuh penghayatan. Ditambah lagi dengan alunan khas Glenn Fredly, maka lengkap lah sudah, film ini mencabik-cabik hati para penontonnya.


FIRASAT

Saya pribadi paling suka dengan firasat. Entah dari segi cerita, aktor dan aktris (saya kaget melihat penampilan Asmirandah yang kali ini harus saya akui—aktingnya mengesankan), dan tentu saja lagunya. Saya ikut-ikutan depresi saat menontonnya, lalu perlahan mulai belajar ‘melepas’, mengikuti kehendak alam dan luruh di dalamnya. Firasat mengajarkan satu hal yang sudah seharusnya kita terima juga :

 "Kita tidak bisa menentang apa yang sudah seharusnya akan terjadi, walaupun kita sudah mengetahuinya. Yang hanya bisa kita lakukan hanyalah pasrah.Terkadang menerima adalah pilihan terbaik" 
nah kan, jadi ikut-ikutan mellow deh. :S


HANYA ISYARAT
 Menurut saya, film ini sangat alami, saya suka sekali dengan percakapan Fauzi Baadila bersama teman-temannya di pantai waktu malam itu. "Di dunia ini tidak ada yang kebetulan, bahkan kepak sayap kupu-kupu juga memiliki makna." 
Film ini adalah seni mengagumi dengan sangat sopan, dan anggun. Mengagumi, mencintai dan mengirimkan bahasa-bahasa cinta melalui alam, melalui angin, melalui...segalanya. Mencintai dengan kapasitas kita, dan jujur saja, saya suka filosofi 'punggung ayam' yang diutarakan disini. Sedikit tidak sama dengan gambaran di novel, namun film ini sangat dalam, sederhana dan cantik.

CICAK DI DINDING
Disusul dengan film yang seksi, Cicak di Dinding. Akting Sophia Latjuba disini patut diacungi jempol. Ceritanya juga tidak biasa. Ia dicintai dengan cara yang tidak biasa. Namun alurnya sedikit lambat (seperti Malaikat juga Tahu), namun pada saat mencapai klimaks...cukup terhantam. "Dicintai seperti cicak, hewan yang mungkin selalu luput dari pandangan kita, namun selalu menjaga kita dari gigitan nyamuk."

CURHAT BUAT SAHABAT
Walaupun akting Acha disini rada lebay dan tidak diimbangi oleh Indra yang sangat tidak lebay, film ini juga sukses memberikan kejutan yang nampol disaat terakhir. Tentang mencintai sahabat sendiri dalam jangka waktu yang terlalu panjang, sampai-sampai sahabatnya sendiri akhirnya menyadarinya...di saat ia telah memutuskan untuk berhenti mencintai.
"Yang aku butuhkan hanyalah segelas air putih, seseorang yang selalu ada disaat aku butuhkan."
Rada kaget pada saat-saat terakhir, si cowok muntah-muntah gara-gara minum bir--tepat di saat si cewek akan mengutarakan isi hatinya--lalu datanglah segelas air putih dari pelayan cewek lain.

Overall, Rectoverso selalu membawa kejutan yang menyenangkan, walau kadang sedikit miris. Dikemas dengan cantik, seni yang indah untuk dinikmati :')

2 comments:

marlen pilanda said...

setelah gw tonton filmnya dan akhirnya memutuskan membeli novelnya ternyataaaaa....*jeng jeng jeng novelnya lebih susah untuk dimengerti.... tapi, ketika gw berusaha memahami setiap kata yang ada di dalam novel tersebut hatiku langsung terenyuh ... apalagi sambil denger lagunya seperti malaikat juga tahu,firasat dan curhat buat sahabat... tapi di filmnya gw lebih suka cerita malaikat juga tahu dan curhat buat sahabat.... karena didalam film ini menceritakan KESETIAAN.Apalagi malaikat juga tahu paling suka kata2nya seperti:"seratus sempurna, kamu satu lebih sempurna "

Nana Takizawa said...

aw :>
gw kira alen bakalan suka sama Cicak di dinding. anda ternyata melankolis jugaa :3 hehehe