Tuesday, April 15, 2014

Bahagia adalah Kata Sifat, bukan Kata Benda atau Kata Ganti.

Blog  post  ini  dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!



Bahagia adalah kata sifat,
bukan kata benda, atau kata ganti.

Seperti hadirmu di kala gempa,
Jujur dan tanpa bersandiwara...

Kyra menggenggam tiket pesawatnya erat-erat. Suasana hati yang membuncah ceria, jutaan kupu-kupu berkelayapan di perutnya, sampai-sampai wanita berlesung pipi itu menyengir terus. Beberapa jam lagi. Ia bisa membayangkan pria dengan kumis tipis yang lupa dicukur, senyum dan tawa lepas layaknya debur ombak Bali, dan rentangan lengan dari sosok yang tinggi tegap itu... begitu ngangenin.
            “Kyra!” suara lantang memotong segala angannya. Ia mencari sumber suara dan menemukan seseorang tengah menatapnya dengan mata hampir tenggelam dalam pelupuk—lengkap dengan setetes besar keringat—persis seperti ekspresi dalam komik. Pria itu membetulkan letak kacamatanya dan memberengut, “udah nyampe lima menit lalu, dan elo masih bengong.”
            “Hah??!!” Kyra memandangi sekelilingnya.
Bandara.
Jiwa Kyra sudah sampai di sini sejak setengah jam lalu, sejak Edo bilang “terima kasih” pada petugas jalan tol, sejak lagu Banda Neira – Hujan di Mimpi yang melantun dari radio tadi.
            “Udah sana! Gue masih mau balik kantor, nih.” kata Edo galak, wajahnya yang putih dan berjerawat terlihat segar, kemeja biru donker nya menyisakan beberapa bercak air, dan botol aqua besar tergeletak di sampingnya. Kyra terkikik, ternyata ia begitu asik melamun sampai-sampai tak menyadari Edo yang sempat ke luar dari mobil dan cuci muka.
            “Oooh.. oke, thanks Do! Take care!” Kyra hampir akan menutup pintu mobil ketika Edo tiba-tiba menahannya, “pikirin lagi, Ra.” Ekspresi Edo datar dan serius.
            “Bye!” Kyra melambaikan tangannya, disertai senyum bodohnya yang ampuh. Edo hanya tersenyum kecut, meninggalkan suara klakson singkat yang terngiang di udara. Kupu-kupu kembali beterbangan di sekitar Kyra, dengan langkah ringan Kyra menyampirkan backpack-nya dan... Hello Balibalibalibaliiiiii!

***

Ada yang bilang, kebahagiaan adalah kebebasan. Momen ketika kita dengan berani meninggalkan comfort zone kita dan menantang segala kemungkinan di luar sana. Bahagia adalah perasaan insecure—yang sekaligus seru, karena begitu banyak pengorbanan yang sudah kamu lakukan. Tapi jauh di dasar hatimu, kamu tahu semua itu akan membawamu ke pemahaman dan pengalaman yang penuh kejutan. Ada yang bilang, happiness is when you let the unexpected happens. Dan... di sinilah Kyra. Ia merasakan dengan jelas langkah pertamanya yang masih gemetaran. Hotel yang belum di-booking. Tiada satu pun manusia di Pulau Dewata yang ia kenal. Ngurah Rai yang asing. Dan degup jantungnya yang kencang... antara antusias yang membubung dan ketakutan yang menariknya sampai mencelos.
Nomor telepon Onel. Hanya itu yang Kyra punya. Ia merogoh handphone sambil mengikuti lautan manusia yang berjalan ke luar Bandara. Scroll.. Scroll.. L..M...N..O.. Onel. Dialing...
            “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...”
Deg.
Debar terakhir menyentak telak, sukses menarik Kyra jatuh dalam pusaran takut yang menjadi nyata. Pikirannya langsung berkecamuk. Jangan-jangan, Onel hanya bercanda.. tidak, tidak. Mana ada orang yang begitu serius ngisengin sampai-sampai membelikannya tiket pesawat, hellooow! Atau, Onel tiba-tiba dapat panggilan dari keluarga Nagawa dan sudah terbang lagi ke Kathmandu?! Mungkin saja, kantor tempatnya bekerja itu tidak memberikannya izin cuti barang sehari? Ah, pasti dia sekarang sedang meeting mendadak dan lupa ngabarin... who knows.
            “Kok ada sih, orang kayak lo? Apa yang lo keluarin itu ngga setimpal! Abang gue mana bisa tolerir lo!” Kyra masih sangat jelas mengingat detil wajah Edo yang merah dan marah, alis tebalnya yang mengerut dan mata belo yang memicing kesal. Nafas Kyra jadi tidak beraturan lagi sekarang, atmosfir kekecewaan Edo masih begitu kental. Beberapa jam yang lalu.
            “Ini Onel, Do. Ini salah satu mimpi gue... Masa gue harus nyia-nyiain sih?” Waktu itu, Kyra memasang tampang seperti anak kucing, biasanya selalu berhasil, tapi kali ini... Kyra tahu diri. Ia memang kelewatan. Cuti mendadak 3 hari—di mulai dari hari ini, jumat—sementara yang lain harus lembur di akhir pekan demi launching produk makanan mereka seminggu lagi.
            “Food Stylish, Ra, we need you most. Lo maen cabut gitu aja! Kalau lo ngga bisa menghargai perusahaan ini, gimana caranya lo bisa menghargai mimpi-mimpi lo itu?!” Edo yang logis, Edo yang Maha Tahu. Tapi, Edo jelas tidak tahu satu hal: hubungan nya dengan Onel. Mereka bukan teman biasa, bukan juga pacar. Bagi Kyra, Onel lebih dari segala itu... Onel is her happiness. Onel itu kata sifat, bukan kata benda atau kata ganti. Tuh, kan. Bayangan senyum tengil Onel yang tiba-tiba berkelebat di benak Kyra saja sudah ‘mengembalikan’ segala kepercayaan diri Kyra. Meyakinkan bahwa segala keputusan—yang dibilang bodoh sama semua orang itu—sudah sangat tepat. Kyra tidak harus menyesali bahwa ia baru saja dipecat dan arus gajinya yang harus terhenti, tidak juga nomor telepon Onel yang tak bisa dihubungi sekarang... She’s totally free now, and will be meet her freedom soon. Yes, her freedom. Sudah dibilang Onel itu adalah kata sifat, freedom.

Happiness is freedom.

Ah, happiness. Kyra tiba-tiba teringat tema cerpen yang baru saja ia rampungkan. Tema yang mengantarkannya ke Bali juga. Mungkin ia memang harus mencari cara untuk sampai ke The Bay. Sendirian. Tak apa-apa lah. Tidak harus ‘mengganggu’ Onel untuk menjemputnya seperti di drama-drama gitu, kan? Kyra punya Google Maps, kok.

***

Pengumuman Writing Competition itu dilaksanakan di Bumbu Nusantara. Besok. Membayangkan lengan Onel yang menyelimuti pundaknya, langkah mereka yang mengayun-ayun, dari Bumbu Nusantara... segelas es cendol di masing-masing tangan, komentar bodoh akan foto-foto yang terpamer di sepanjang mata yang menjelajah, nyanyian dari ujung panggung di dekat pantai, dan sayup-sayup angin yang menggelitik lembut leher Kyra. Kisah konyol Onel yang melanglang buana, cerita renyah Kyra di dapur dan kamera DSLR-nya, semua pasti akan mengalir alami. Ditambah senang yang was-was—menang lomba nulis ngga ya kali ini—yang pasti akan ‘terbaca’ jelas oleh Onel, dan... entahlah! Entah ada kejutan macam apa lagi yang disiapkan Onel kali ini.



            Kyra mengayuh sepeda ontel yang dipinjamnya dari Bumbu Nusantara dengan penuh tenaga—takut jatuh, roda nya mencakar pasir dengan kasar, earplug yang mendendangkan petikan gitar random Depapepe. Sore yang sejuk, samar-samar Kyra bisa melihat matahari bersiap terbenam—ah mungkin sebentar lagi, setelah anak-anak puas dengan istana pasir dan sepasang suami istri selesai berdiskusi. Kyra yang sendiri...  menatap manusia yang berpasang... selalu menyisakan rasa sepi yang kosong. Kyra menghela nafas, ia sudah tak sabar lagi. Sesuatu yang dirasa adalah kebahagiaan yang begitu dekat ternyata harus menunggu lagi! Rasanya seperti disalip sepi yang mencekam di tengah-tengah perjalanan. Sesaat ia gamang, sesaat ia merindukan gaung tawa bersama teman-teman kantor: jam empat sore, mereka pasti sedang berbagi cemilan sambil mengobrol tentang diskon makanan.
Kalau memang ini yang Kyra inginkan, mengapa semua menjadi begitu absurd saat ia memikirkan masa depan?
Kalau memang begini yang Kyra inginkan, mengapa ia tidak bisa sepenuhnya menikmati matahari mulai malu-malu menyembunyikan semburatnya di balik awan yang tenang... membiarkan kayuhan sepeda nya menjadi makin samar dan santai... atau sekedar menyodorkan kaki telanjangnya untuk dijilat oleh debur ombak?
Kalau memang saat ini yang Kyra inginkan, mengapa... sekarang rasanya begitu... asing?
            “ADUH!” entah sejak kapan sepeda Kyra oleng dan menabrak pohon kelapa di depannya. Telapak tangan dan lututnya terbenam di pasir. Ah, tengsin. Beberapa bule menoleh dan tersenyum lucu. Kyra segera berdiri dan menepuk badannya sebentar, mungkin sebaiknya ia mengembalikan sepeda dan bertapa saja di kamar hotel.
            “Goodbye!!!!
Kyra berbalik kaget begitu suara itu menggema. Lengan yang terbentang, dada yang semakin bidang saja... Onel! Senyum Kyra lepas menjadi tawa lega yang beruntun, sedetik kemudian ia sudah memeluk sosok itu erat. Erat sekali, dibalas Onel.
            “Gue sebel sama goodbye elo! Lo udah begitu deket, nyet!” teriak Kyra, bau keringat Onel yang mirip rumput sehabis hujan meruap di hidung Kyra.
            “Hahaha... semata-mata biar kita bisa hepi terus, nyetnyet,” tawa Onel renyah, melepas pelukan mereka dan mengacak rambut Kyra gemas, “lo gampangan banget. Ketipu sama selembar tiket pesawat!” cibir Onel disusul bahak-bahak yang memancing pukulan bertubi-tubi Kyra.
            “Diem lo! Sekarang, kasih tau gue, apa surprise itu?” Kyra menaikkan dagunya, sepasang matanya yang bersinar itu kini sejajar dengan pipi Onel yang masih terbakar keringat, begitu dekat.
            “Mmmm.. mungkin lo butuh nyogok gue dengan beberapa jajanan pasar seperti kolak atau pisang ijo! Damn, i miss them so much! Daaaaaan gue akan mempersembahkan sesajen favoritnya mbah, berupa Kare-Ikan-Patin. Cocok kan, restoran ini. Bumbu nya pasti nendang! Hahaha...” Muka jenaka Onel berhasil meredupkan rasa penasaran Kyra, dan mengantarkan perut mereka untuk berpesta dengan masakan asli Indonesia. Kyra juga sudah cukup lapar dengan segala yang berloncatan dari benak Onel... yang selalu... kembang api.

well, parked bicycle.

***


            “Gue ngga bisa menjelaskan perasaan itu. Mungkin kayak perasaan yang langsung bikin lo decide want to do what for next. Lo yang begitu yakin mau ke Bali, dan ninggalin pekerjaan lo sementara—eh, tapi Bos lo ngga papa?” Onel yang asik bercerita tiba-tiba menatap Kyra khawatir.      
            “Ng... ngga papa, ngga papa... trus?” Kyra menangkupkan pipinya di tangannya, begitu serius mendengarkan Onel.
            “Ya begitu juga gue. Gue nekad balik ke sini karena ‘sesuatu yang memanggil’ ini. Ini beda banget, entah kenapa rasanya ada sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang bermakna untuk hidup lo di masa depan.” Onel berujar serius. Ia tak sadar kalau tangan Kyra sudah merayap dan mencuri beberapa sendok es pisang ijo nya. Nyam.
            “Jadi...” Kyra berhenti menyuap, “lo ke sini tanpa tujuan yang jelas?”
Onel mengangguk cepat, “tapi di balik tujuan yang ngga jelas ini, gue tau ada sesuatu yang jelas, but i just can’t figure it out,” Onel terlihat putus asa, “gue udah ninggalin seminar penting di Aussie untuk datang ke sini, apa... gara-gara buat ketemu elo?” suara Onel mengecil, seperti tidak percaya dengan kata-katanya sendiri.
            “Gue ke sini juga buat ketemu lo, kok.” tandas Kyra mantap. Ia menatap lurus ke mata Onel yang terperanjat.
            “Kyra?” Onel menaikkan alisnya tak percaya, “jangan bilang dugaan gue bener, lo lebih milih resign, ninggalin Edo dan kawan-kawan, lalu dateng ke sini... buat ketemu gue?” suara Onel makin pelan.
           Kyra juga bisa membaca wajah Onel, matanya yang menyipit dan bibirnya yang mengatup. Pria ini sedang kesal. “Ng... tapi ngga juga kok, Nel. I’m attending tomorrow’s competition, and that would be lovely if you are here.” kata Kyra sambil mengedikkan bahunya, berusaha untuk santai.
            “Lo lupa? Kita udah kayak cermin, ngeles sama gue juga ngga guna,” Onel mengedikkan bahunya juga, bibirnya tersungging sedikit angkuh, “dan lo lupa, gimana proses kita bisa jadi deket kayak gini?”
Kyra ingat. Kyra ingat!!! Bagaimana bisa lupa dengan momen di mana mereka yang tak sengaja mengobrol setelah sekian lama bekerja di restoran fast food itu. Perihal yang sederhana: mereka sama-sama salah lihat jadwal libur, sehingga harus lembur di shift yang sama. Onel yang mengumpulkan uang untuk berkeliling dunia, Kyra yang ingin sekali ke Jakarta dan membuka usaha kafe sendiri. Mereka berdua melihat jalan yang sama: kebebasan. Dan di sanalah mereka menggariskan definisi bahagia. Menjadi balon, menjadi gelembung, menjadi angkasa itu sendiri! Membubung tinggi ke atas, tanpa jejak dan ikat. Lalu membiarkan intuisi dan perasaan sejati mereka yang apa adanya menjadi kompas dan aral. Mereka begitu tergila-gila pada masa depan yang penuh dengan ketidakpastian, menebak-nebak kejutan dan tantangan apa lagi yang dihadapkan dalam hidup mereka. Jadilah mereka seperti sekarang ini. 5 tahun yang lalu. Onel yang lalu bekerja di toko mesin cabang dari Jepang, bertemu dengan keluarga Nagawa yang butuh asisten pribadi untuk long holiday trip all around the world; Kyra yang membantu usaha Bridal and Photography sepupu nya, yang merupakan kakak ipar dari Edo, lalu berkecimpung dalam food industry berkat ajakan Edo.
Ada yang bilang, semua hal yang kita temui dalam hidup kita, akan mengantarkan kita lebih dekat pada impian kita. Di sela-sela perjalanan itu, kita butuh orang yang tak tertarik untuk menertawakan segala kegilaan kita, atau bahkan menambah nilai kegilaan itu—dengan cerita hidup yang tak kalah gilanya. Kyra menemukan itu pada Onel, entah kenapa. Onel... seperti kembarnya. Dan Onel, merasa begitu nyaman berada di sisi Kyra, tak pernah dia bertemu dengan wanita yang begitu terbuka... tidak berpura-pura dan tidak mengada-ada. Banyak cara pikir yang... tring, klik. Cocok-cocok terus. Mungkin saja, ini yang orang bilang soulmate.
“Tapi kali ini, bebasnya kita sudah megap-megap, Kyra...” kata Onel tercenung, “lo bahagia ngga?” mata Onel menatap lurus Kyra.
“Gue...” tenggorokan Kyra tercekat, “gue bahagia begitu udah ketemu lo. Now, those are worth it. Gue kangen untuk bisa melepas kangen kayak gini.” Kyra tidak punya pilihan lain selain jujur. Di mata Onel, pikiran Kyra adalah kaca tembus pandang.
“Gue juga,Kyra. I miss you too much,” Onel menyunggingkan senyum tipis yang charming, “dan gue sebenernya lagi kesel sama teori Hello Goodbye yang gue bikin itu!”  Onel memberengut.
“Hahaha.. apa nya yang salah, wahai bapak filsuf?” goda Kyra.
“Tiap pertemuan adalah awal dari perpisahan; tiap perpisahan adalah awal dari pertemuan. Janjinya, kita bilang ‘goodbye’ setiap kali ketemu, sekedar ngingetin bahwa sebentar lagi mungkin bakalan pisah... Tapi, tadi itu... rasanya berat banget,” Onel menghela nafasnya, Kyra seperti melihat mata Onel yang mulai berkaca-kaca, “and, why ‘hello’ when we’re going to be apart? Supaya optimis kalo kita bakal ketemu lagi?” suara Onel sedikit meninggi, tepat di saat live music performance Bumbu Nusantara berlanjut menyanyikan lagu berikut.
“Tapi itu semua jadi terkesan fake, padahal kita belum tentu sama dengan kita yang dulu... padahal pertemuan kita sekarang sudah pasti berbeda dengan yang dulu. It just unnaturally...” lanjut Kyra pelan.
“RIGHT!” Onel menunjuk Kyra puas, “itu maksud gue!”

***

Kyra tersenyum kecil sambil bertepuk tangan di antara gemuruh tepuk tangan pengunjung lainnya. Pengumuman Lomba Menulis ‘Letter of Happiness’ yang digelar oleh The Bay Hotel—tepatnya di restoran tempatnya semalam mencecap habis-habisan ‘Indonesia’—dan Nulisbuku tempat ia menerbitkan buku self-help-nya itu, sukses membuat hatinya tergelitik dan sedikit ngilu. Kyra yang begitu optimis namanya akan dipanggil, Kyra yang sudah siap melemparkan diri ke pelukan Onel yang berdiri kokoh di sampingnya, Kyra yang sudah siap dengan kata sambutan yang menari di benaknya.....
Kyra ternyata kalah.
Kyra memeluk kedua lengannya dengan erat, dan rasa sepi kian menjalari seluruh tubuhnya. Dunia bukan milik dia berdua dengan Onel. Dunia ini miliknya sendiri, makanya sepi sekali. Tidak ada peserta yang dia kenal di sini. Mungkin, ‘tujuan’ nya datang ke Bali adalah untuk mengetahui bahwa dia masih harus belajar menulis lebih baik lagi. Kyra menatap sepatu kets-nya, bersiap melangkah pergi, begitu suara seorang pria terdengar melalui microphone.
Letter of Happiness? Saya tak pernah terpikirkan untuk bikin cerpen begini,” suara yang berat, namun renyah. Kyra berbalik. Sosok ceking dengan kemeja lengan panjang kotak-kotak yang kebesaran, celana jeans berwarna merah, tipe-tipe orang dengan pekerjaan marketing.
“Tapi prinsip saya... No one can took away your happiness, and no one can create happiness for you. Oleh karena itu, saya tidak akan menggantungkan kebahagiaan saya pada siapapun—walaupun ini terdengar kejam ya, hehehe...” pria itu menggaruk-garuk kepalanya dengan kikuk, disertai gelak beberapa pengunjung, “but i do believe, kita yang bikin bahagia kita sendiri. Salah satunya, dengan ikutan lomba kayak begini nih. Thanks ya, semua panitia! Saya sudah bersenang-senang dalam kata-kata, dan ber-hepi-hepi di The Bay!” ia menutup pidato singkatnya dengan cengiran segar, yang merambat sampai ke bibir Kyra—tak sengaja tersungging lebar juga.
Kyra merogoh handphone nya dan mengarahkan kamera ke arah panggung. Klik. Lalu ia mencari call logs dan O. Dialing Onel...
Hello!” sapa Kyra cerah, “udah nyampe Sydney belom?”
“Good—he..hello..” suara Onel terdengar pangling, “u..udah nih! Thank you, thank you, nyet! Gara-gara obrolan kita semalem nih, gue kayaknya ke Bali cuma buat ketemuan sama lo dan nyadarin diri gue buat ikut ini seminar deh. Untung aja keburu ikutan seminar nya, sekali lagi sori banget, jadi ngga bisa nemenin lomba lo itu. Menang ngga, by the way?”
Suara Onel yang lepas, tawa Onel yang ringan. Kyra hanya bisa membalasnya dengan cara yang sama.
Bahagia? Apa itu?
Entahlah.
Mungkin sejenis perasaan.
Yang bukan kata sifat... kata benda... atau kata ‘perasaan’ itu sendiri. Yang pasti, Kyra sedang berpesta dengan bahagia itu. Sendiri. Dalam diam.
Lagi-lagi, Kyra tak bisa menahan bibirnya untuk berhenti tersenyum, dan manggut-manggut mendengarkan celotehan Onel dari seberang. Pikirannya sudah menjelajah ke mana-mana... berlari-lari lepas di pantai di pagi buta, lalu menggeletakkan diri di kursi santai dan bermandi matahari pagi, mencoba The Pirates dan De Opera, makan sepuasnya... Entahlah. Kyra hanya ingin merasakan semuanya, sepenuhnya.


you are the waves, yet i am the skies, embrace each other, joyfully.

3 comments:

iam said...

Mantap....
Kunjungi jg ya my blog www.dasarhakikat.blogspot.com :)

Nana Takizawa said...

Halo, thank you so much! :)

Gita Artia said...

Followed :)
You wrote a good story btw. Keep up the good work.