Tuesday, January 5, 2016

Sinopsis Go Lala Go 2: Satu-satunya yang bisa kamu miliki hanyalah pekerjaan?

Spoiler dulu nih ya, guys:
Oke, ini (lagi-lagi) merupakan review film yang sangat subjektif karena saya memang nge-fans banget sama Ariel Lin. Setelah penampilan terakhir Ariel Lin dalam drama seri In Time with You (我可能不会爱你) tahun 2012 lalu, saya pun bertanya-tanya, apa mungkin Ariel Lin akan berduet bareng Chen Bolin, menciptakan chemistry yang sama akrabnya dengan kisah 'persahabatan' antara Cheng Youqing - Li Daren? 



Go Lala Go 2 (杜拉拉追婚记) merupakan sekuel dari Go Lala Go (杜拉拉升职记) dengan konsep yang tidak jauh berbeda: wanita independen yang berusaha menyeimbangkan kehidupan karir dan cinta. Bila di film pertama, karakter Lala sebagai staf yang mengejar karirnya dengan semangat penuh hingga akhirnya berhasil naik pangkat (serta - as always - berhasil menggaet Bos yang ganteng itu), sekuel Go Lala Go 2 lebih berfokus pada "what's next after your career seems like more settled, but you know you have to reach more?" 

Diperankan oleh orang yang berbeda dari versi film pertama, kali ini bukan hanya jenjang karir lebih tinggi yang menjadi target Lala, namun juga masalah klasik tiap wanita di usia 30an: 'jenjang status' pun harus dipastikan. Menyorot fenomena pasangan belum menikah yang tinggal satu atap, Lala dan pacarnya, David (diperankan oleh... Vic Zhou! Horeee!) menjalani hubungan yang terlihat baik-baik saja. Lala dengan semangat ngantor yang membara dan terkadang suka terbawa emosi selalu bisa diimbangi David si fotografer yang artsy dan santai, mengajaknya bermimpi dan travelling. Namun, David tidak pernah ingin membahas tentang pernikahan, yang akhirnya selalu menjadi sebab tersulutnya pertengkaran. Di sisi lain, untuk mempertahankan karirnya, Lala terpaksa berpura-pura menjadi Vice President, mengurusi pekerjaan yang bukan merupakan area of expertise-nya sebagai HR dan... as expected, Lala pun tidak bisa menolak Stanley (diperankan Chen Bolin), business partner potensial untuk perusahaan mereka yang terlihat jelas tertarik banget sama Lala.


Sekilas, daya tarik film ini memang hanya bertumpu pada jam terbang dan penampilan tiga karakter utamanya: Ariel Lin, Vic Zhou dan Chen Bolin, ditambah personil girlband korea, Nana After School yang membuat film ini semakin 'kekinian.' Soundtrack film ini nggak kalah greget, dinyanyikan oleh Hebe Tien [姐 Pretty Woman] dan Yoga Lin [如果我变成一首歌 If I Were a Song].

Lalu, apa menariknya film ini sehingga bisa menjadi bermakna?

* Manusia tidak bisa betul-betul menjadi dewasa. Ada beberapa hal yang seringkali kita pikir akan bisa kita selesaikan seiring bertambahnya usia. Contohnya, setelah tumbuh dewasa, kita pasti akan lebih mudah mengambil keputusan dan lebih bijaksana dalam menghadapi tantangan. Namun, Lala juga tidak bisa mengontrol kecemburuannya dan rasa tersaingi, ketika pacarnya memperhatikan cewek yang lebih muda; yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikan terhadap pacarnya ini. Yes, she is not really jealous, but the feeling of competition just pissed her off. Demikian pula, ketika cewek muda ini menjadi asisten di kantornya, mengerjakan pekerjaan dengan cara yang lebih santai dan nyeleneh (bahkan sampai main Candy Crush di jam kantor!), tapi tetap dikagumi oleh atasannya.

Pelajaran moral? Setiap saatnya, semua hal berubah, tidak semua hal bisa dilakukan dengan cara yang sama. Seperti perbincangan santai ini:



Lala: "Kamu ini gadis yang cerdas, jadi tak perlu bersaing dengan cara seperti itu untuk dipromosikan. Selama kamu bekerja keras, kamu pasti akan mendapatkan hasil yang layak."
Shan shan: "Di sini, saya mau bekerja, bukan mencari teman. Saya mau, dalam waktu setahun, saya bisa menduduki posisi kamu sekarang, bukan lima tahun. Tahun depan, di tanggal ini, saya akan mendapatkan semua yang kamu punya sekarang." 

* Masalah wanita selalu berkaitan dengan ketidakpastian; masalah pria selalu berkaitan dengan ketidaksiapan. Di setiap kesempatan, Lala selalu mendesak David untuk segera menikahinya, sedangkan David selalu 'nanti-dulu-deh' dan berfokus mematangkan karirnya, dengan harapan tidak lagi bergantung dengan pendapatan Lala yang lebih tinggi. Lalu, kapan rasa ketidakpastian dan kesiapan sampai di titik temu? 


Lala: "Kamu adalah David, kamu dan kesombonganmu." 
David: "Kamu juga, Lala. Lala yang dipenuhi desakan." 
Lala: "Aku kira kamu tidak mengerti." 
David: "Aku kira kamu tidak akan berubah."




Karena ketidakpastian yang dibangun Lala begitu megah, ia pun menjadi sama bingungnya ketika Stanley mengungkapkan kekagumannya pada Lala. Kalau memang pernikahan dan kepastian yang Lala mau, ia bisa langsung menjalaninya dengan Stanley. Bukankah begitu?



jarang-jarang lihat Chen Bolin ganteng-bandel begini :3

* Sama seperti film romantic comedy yang diusung pada umumnya, apalagi dengan setting pekerja kantoran dan suasana kota metropolitan, saya suka dengan konsistensi penggambaran 'wanita sebaiknya menjadi cinderella setiap hari,' yang selalu menitikberatkan bahwa penampilan adalah kartu nama bagi setiap wanita. And of course, i love Lala's red lipstick and her (particular) outfits! 

Overall, film ini cukup manis dengan ending yang hangat, sederhana walaupun kurang rapih, tapi cukup menyegarkan pikiran, seperti minum susu cokelat hangat sebelum tidur. 

Eye candy? Yes, of course!

Waktu kecil,
ada satu kisah tentang seorang gadis kecil yang diberi hadiah sepatu.
Sepatu itu sangat indah, gadis kecil itu memakainya dan menari,
mendapat banyak pujian. 
Namun, semakin ia menari, 
sepatu itu seperti dipasangi sihir, 
ia tak bisa berhenti!
Sehingga, yang bisa ia lakukan hanyalah menari... dan terus menari.
-Go Lala Go 2.

5 comments:

Anni said...

Naa, ini kamu nonton dimana yaa ?

Aku udah nungguin film nya muncul dari semenjak dia trailer nih :')

Nana Takizawa said...

Hai, Anni! Ini aku download di torrent, cari di kat(dot)cr :D

Anni said...

waaaa, thank you naa :)

shohe lika said...

Ariel Lin my favorit actress.

Wooclip said...

yuk yg blm nonton bisa visit dsni

nonton film gratis