Tuesday, January 19, 2016

Tentang Monster dari Bawah Ranjang. #FaceYourMonster #Cerpen

Bakat menjadi kalong sudah mendarah-daging dalam tubuh Olin sejak ia kecil, Bunda sering menggunakan berbagai macam cara untuk mengajaknya tidur, mulai dari membacakannya dongengyang berakhir dengan pertanyaan membanjir dan ajakan berdebat tentang mengapa Gadis Berkerudung Merah tidak pernah shalat—demikian pula dengan menimangnya sambil mengelus-elus rambutnya, karena Olin akan sangat gampang untuk tertidur dengan cara seperti itu. Cara lain? Bunda akan memarahi Olin dengan sepenuh hati, karena Bunda sudah teramat lelah dengan mata Olin yang tak kunjung terpejam kala lampu-lampu kota sudah padam.

Memarahi Olin adalah cara paling ampuh untuk membuat gadis ini meringkuk di dalam selimut tebalnya, ditambah dengan bumbu "Kalau kamu tidak tidur juga, hati-hati dengan monster dari bawah ranjang yang akan menerkammu!" Lengkap dengan deskripsi monster tersebut: taring yang mengilat, senyum yang penuh kepura-puraan, kurus ceking—kulit tipisnya yang bersisik dan berlendir hijau hanya berfungsi melapisi tulang di tubuhnya, yang bisa patah kapan saja. Tapi jangan salah, sekali monster ini berhasil menangkap salah satu bagian tubuh dari manusia manapun, seketika manusia itu akan menjadi seperti rupa si monster. Sama persis! Dengan cara itu, Bunda bisa tersenyum tenang sambil melirik jam dinding, pukul 11 dan Olin yang mendengkur halus, misi Bunda untuk hari itu akhirnya selesai juga.

Sampai Olin dewasa, ia tetap mencintai statusnya sebagai kalong. Menjadi desainer in house di sebuah agensi periklanan mengharuskan ia tetap terjaga di tengah malam buta, kadang dengan minuman isotonik dengan label kesehatan. Sambil bersandar di ujung ranjangnya, kaki yang berselonjor, laptop di pangkuan dan tirai jendela yang menari malas terkena angin malam. Ia sering tertidur ketika hampir subuh dengan jendela yang terbuka, karena ia takut ketika kakinya menyentuh lantai saat hendak menutup jendela, kakinya akan ditarik monster dari kolong ranjang. Tangan monster yang berlendir hijau dan bersisik akan menggenggam kuat pergelangan kaki Olin, sambil menggeram halus, Olin akan terseret masuk ke dalam kolong ranjang sambil meronta-ronta, mengikis lantai dengan kuku-kuku dan keberaniannya yang tersisa. Persis seperti film horor Jepang! Hiiiy! Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk berdisko! Makanya, Olin memutuskan untuk bersembunyi saja di balik selimut tebalnya, berhemat menggunakan oksigen secukupnya. Inilah rutinitasnya sejak kecil.

Kadang, khayalan Olin suka mengawang di langit-langit kamarnya sendiri. Tentang desainnya yang lebih banyak ditolak klien dan pertimbangan untuk loncat ke perusahaan lain yang lebih menghargainya, tentang Patrick yang sepertinya tertarik padanya tapi lebih tertarik dengan hobi otomotifnya, tentang orangtuanya yang mewanti-wanti Olin untuk tidak memutuskan hal yang 'abnormal' yang bisa mendadak dilakukannya: pergi ke bar bersama teman yang baru dikenalnya dari tempat ibadah, traveling ke pulau Buru di Maluku bersama teman-teman sekantor karena ia percaya di sana ada alien, menjual seluruh buku referensi desainnya untuk menyewa truk berwarna pink cerah supaya ia bisa menjual es krim keliling, dan... ide-ide absurd lainnya. 

Kadang mimpi-mimpi absurd itu bercampur dengan bagaimana jika ternyata di bar ada cicak yang berenang di gelas bir-nya, bagaimana kalau alien itu ternyata memiliki rupa yang sama dengan monster di bawah ranjang atau pembunuh berdarah dingin yang sudah lama mengincarnya itu akan menyekapnya di siang bolong ketika ia sedang berjualan es krim. Lama-lama, Olin capek hidup dalam khayalannya sendiri!
"Bunda, apa benar ada monster di bawah ranjangku?" 
Tentu saja pertanyaan ini tidak pernah sampai ke telinga Bunda, atau Olin akan mendekam di Rumah Sakit Jiwa. Tapi, setiap malam, di depan cermin, Olin selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Yang sama. Yang sama. Yang sama. Sampai semua hanya seperti gaung-gaung yang menggantung di udara. Sampai-sampai ia sampai pada jawaban, bahwa monster di bawah ranjang sudah menjelma menjadi cicak di gelas bir, wajah alien, pembunuh berdarah dingin, ketidakpastiannya terhadap Patrick, hasil-hasil desain yang ditolak dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain!

Malam itu, Olin mendengar suara berderak dari bawah ranjangnya.
"Semakin lama kau berlari, semakin besar pula ketakutanmu, sampai akhirnya kau sudah tak punya keberanian untuk menghadapinya lagi."
Your monster, your... face?

"Bunda, apa benar ada monster di bawah ranjangku?"

Bunda tak berhak menjawab pertanyaan ini lagi. Karena, Olin bertanggungjawab atas kamar Olin sendiri.

Olin mengambil sapu di samping wastafel nya, mengendap-endap menuju ranjangnya sendiri.



-----
Credits:
Cerpen ini ditulis karena begitu tersentil dengan tutur seorang Adriano Qolbi,  stand-up comedian yang awalnya saya pikir hanya bisa membahas hal-hal dangkal yang mengocok perut. Tapi, yang ini bermakna. Terutama di bagian monster, pelarian, musik, menjadi lebih 'cuek'—dan hal-hal absurd lainnya. Well, i like the way you laugh (even laughing at yourself, lol). Terima kasih, ya. 

Juga kepada The Lovely Mas Adjie Silarus yang membuka kesempatan, untuk saling menemukan kesempatan di Sane Step. Terima kasih, ya.

2 comments:

aizeindra yoga said...

Ngalir ceritanya, sukaaaa. Tiap pembaca berbeda sudut pandang, aku nangkepnya, kalau cerita ini adalah sebuah perjalanan akan ketakutan yang terbentuk dari kecil.

Nana Takizawa said...

Definitely! Untuk keluar dari ketakutan seperti itu, butuh keberanian yang lebih besar lagi :')