Friday, August 2, 2013

baha(k)gia (siapa yang menciptakan senang itu?)


beberapa saat terakhir, lagi-lagi saya tersedot masuk ke dalam aktivitas 'bercermin' yang sedikit menyesakkan. Bukan karena sesal, sedih, atau amarah yang menggebu, namun semata-mata disebabkan oleh ketidakmampuan diri untuk mengontrol apa yang ingin dipilih untuk dirasakan. Ternyata... kita tidak sepenuhnya memiliki diri kita. Diri kita masih saja diperkosa oleh masa lalu, harapan masa depan, persepsi-persepsi (yang entah kapan sudah hadir di pikiran kita), dan saya berduka untuk itu.

Kata Ajahn Brahm, "Kita ber-hak atas kebahagiaan kita sendiri, tidak ada satu-pun orang yang ber-hak untuk mengambil pergi kebahagiaan kita."
Namun, dari cermin itu terpancang jelas, terkadang kita 'berbahagia' ketika kita menderita. Buktinya? Kita tetap memilih untuk menderita; kita membalas kemarahan orang yang membangkitkan amarah kita, kita tetap menangis untuk hal-hal yang sebetulnya dipikir-pikir sangat bodoh, dan... kita tidak benar-benar memiliki diri kita sendiri.

Saya mendapati diri saya terpuruk dalam ketidakberdayaan ketika orang lain menyulut emosi saya, dimana saya akan terbiasa untuk memberi emosi buruk itu energi lebih--dan ketika saya ingin menghentikannya... aaarggh, ternyata sangat sulit! Ada bagian dari diri saya yang bersahut penuh benci: "ini sama sekali tidak adil!", "kenapa ia melakukan hal ini kepadaku?", "dia benar-benar orang gila yang tidak bisa dimengerti!", "bisa-bisanya dia menginjak harga diriku dengan berkata seperti itu!"

....
dan lalu, rasanya saya ingin menangis.

....
saya tidak mampu mengontrol saya sendiri.


gosh!


Ini sulit ternyata. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah mencari kembali penyebab dari segala kemarahan itu..dan tada! ternyata itu berasal dari diri saya juga (yes, being mature is never blame others for everything that happened in yourself)

diri saya yang masih egois, penuh kebodohan, dan butuh latihan kesabaran lagi dan lagi.

Saya jadi ingat tentang doa setiap malam yang saya panjatkan: "semoga kebijaksanaan bisa terus bertambah dan berkembang."

Dan saya diberikan ladang untuk menempa segala yang saya inginkan dan butuhkan, yaitu menjadi dewasa dan bijaksana, dan berguna.

So, i might be thankful? ;)

Seluruh dunia bisa saja tidak cocok dengan kepala saya, itu sangat wajar karena setiap manusia itu unik dan berbeda. Jadi, untuk apa menimbulkan energi buruk yang sedang mati-matian saya jinakkan?

Saya ingin menjadi orang yang bertanggungjawab penuh atas apa yang terjadi pada diri saya dan telah terjadi pada diri saya. 
Karena apapun yang telah oranglain perbuat kepada saya bukan semata-mata karena mereka jahat, tapi karena hanya itulah yang mereka ketahui. Jika mereka bisa selalu dan selamanya memberikan energi positif bagi saya, maka mereka pasti sudah tidak ada di dunia yang fana ini. 

"i won't let anybody walk through my mind with their dirty feet." - Mahatma Gandhi.

saya akan terus berlatih untuk tidak memberikan energi apa-apa pada hal yang sudah saya ketahui keburukannya, dan menambah energi kebaikan saya sendiri. Saya bukan tombol 'on-off' pada sakelar lampu yang begitu mudah dikendalikan oleh bermacam-macam orang. 

Saya tidak punya tombol apa-apa, karena saya akan bereaksi sesuai apa yang saya pilih untuk saya tunjukkan kepada siapa yang ingin saya tunjukkan.

things changed, that's the reason why we're suffering..
things changed, and that's also the reason why we're having happiness..


No comments: