Thursday, October 2, 2014

Brief Reviews for Dreamless Dreamers Novel

Kini, saya menyaksikan sendiri mimpi saya yang dulunya hanyalah mimpi, sekarang sudah mulai berjalan, mengepak... mungkin lebih tepatnya tertatih seperti langkah bayi, namun perasaan melihat langkah-langkah seperti itu... membuncahkan keriangan dan ketidakpercayaan yang merinding... bahagia. Bermula dari keluarga, teman-teman dan sekitar, rasanya ajaib mendapati buku saya sudah dibaca sekitar 60-an orang (sampai saat ini). Bagi saya, membuka diri dan ‘melahirkan’ buku seperti ini untuk dibaca oleh khalayak ramai saja sudah merupakan suatu keberanian yang cukup membuat saya ‘kisut’. Bagaimana tidak, setelah ini, saya tidak bisa mundur lagi. Pilihannya sedikit, buku saya harus terbit di toko buku, saya harus menjadi penulis beneran. Bukan penulis yang dianggap dan dikenal oleh diri saya sendiri lagi, namun kepada semua orang. Oh, baiklah. Bagus kalau tidak punya pilihan lain, then. Let’s go!

Jadi, buku pertama saya yang terbit berjudul Dreamless Dreamers; Pemimpi yang tak punya mimpi. Mungkin kalau diterjemahkan jadinya seperti itu. Banyak yang bertanya, “Buku ini tentang apa sih, ceritanya pasti ngga jauh-jauh dari romansa ya, atau jangan-jangan ini kisah hidup lo?” Well, if i going to write my life-story, then i would gladly write a bibliography. Lol. Sebenarnya itu juga-lah pertanyaan yang membuat saya selama ini segan untuk maju dan ‘unjuk gigi’, saya terlalu takut untuk di-judge menulis kisah pribadi... well, bullshit kalau isi di dalam buku ini tidak ada sangkut pautnya dengan hidup saya, tapiiii... tidak jarang juga kisah yang terjadi di sekitar saya, apa yang dialami, apa yang diserap... semuanya! Tidak hanya berkisah mengenai romansa, namun juga bagaimana cara memandang persahabatan, hubungan, keluarga secara sehat—yang artinya memandang value diri sendiri dengan lebih baik—ujung-ujungnya tidak pernah jauh kemana-mana kok, mendapati diri sendiri yang tengah bermimpi ini ternyata (sudah) jauh lebih beruntung dari apapun yang pernah dibayangkan.

Well, i still feel suck to review my own book, but here are some testimonies from friends who read it. Sengaja dirangkum dalam rangka apresiasi dan bentuk cinta kepada mereka-mereka yang sudah meluangkan waktu berharganya untuk mencicip karya pertama saya:

Ce Elizabeth : "Seru! Dua sahabat berteman dari kecil yang ngga tahu apa-apa, tapi saling iri. Rumput tetangga lebih hijau, kiasannya pas. Dua orang yang mengejar sesuatu yang sudah ada di depan mata, tapi ngga sadar dan nengok ke tempat orang. Buku lo mengajarkan 1 hal yang pasti, kayak cerita beruang sama ikan, bahagia itu relatif dan berbeda-beda pada tiap orang."
Marlen, Vita, Devi : (Sori nih chat-nya udah tenggelem, tapi kalo mau komen lagi ditunggu sangat, haha) "Ceritanya bagus, na, elu banget dari segi penuturan, dan agak bingung sama kedua tokoh utamanya, habisnya namanya sering ketuker, agak ngga biasa namanya, tapi suka sama quote-quotenya! 
Teman Wanda : "Ceritanya lumayan bagus dan bikin penasaran, tapi karena cinta-cintaan jadi bikin agak kesal." 
Debby Aprilia: "I sukaaaa, kelihatan kayak nyata banget ceritanya. Alurnya agak terlalu cepet, apalagi di bagian emak-emaknya. Suka sama bagian Leira sama Willo yang unyu-unyu. Mantaplah, ditunggu karya berikutnya!" 
Jessica Rusli : "Cece, bukunya bagus bangeeeeet, apalagi kalimat-kalimat terakhir. Sebenarnya cocok banget sama kehidupan ini, tapi bingung sih, jadi sebenarnya Tama sama Kinna itu pacaran lagi ngga? Bingung sih, kenapa Kinna bisa ngga suka sama Tama." 
Allan Yu : "Dari novel yang pernah gue baca, Dreamless Dreamers yang gue rasa termasuk salah satu novel yang ngga bikin gue ngantuk sama sekali pas ngebacanya. Ckckck... ngga nyangka seorang nana bisa jadi penulis, bangga! Banyak penggalan kalimat di Dreamless Dreamers yang bermakna dan dapat dipelajari dalam hidup (ngga perlu dijelasin, baca sendiri nih novel), makna-makna tersebut sebenarnya sangat sederhana aja kalau dipikir-pikir, tapi yang namanya manusia belum tentu bisa kepikiran kalau yang sederhana itu bisa menjadi benar-benar bermakna. Tetap berkarya dan kejar mimpimu, nana!"
Steven Cai : "Great book, nana! Very inspiring.. hehe.. Wise man once said, the grass is always greener on the other side, But probably it because that dude was using somekind of chemical to paint his grass. Thanks for the amazing book! Cheers.."
Vini Leung: "Sebuah kisah yang nampak sederhana, namun berhasil membuat pemirsa surprised. Pahit yang berujung manis... love it, deh!" :D
Melinda Salim : "Aku suka sama novelnya, bacaannya ringan tapi punya makna. Aku suka waktu Mama Leira yang dibeliin kue tapi marah-marah, dan semua perkataan Yuki yang logis. Aku suka yang quotes-nya." :) 
Athien : "Maunya lebih tebal nih, dua hari udah habis, haha.. Yang jelas bagus, dan yang pastinya tokoh rambut dicepol pakai kacamata itu elu banget, haha.. Pertama sempat bingung dengan cerita Leira dan Kinna, terlalu tiba-tiba, judul bab selanjutnya kok gini, tapi dibaca seterusnya baru ngerti."

....aaaand still counting! 
Maklumlah, penulis baru, suka nodong-nodong orang untuk minta komen, dan senaaaang banget begitu ada yang sukarela ‘manggil’ di chat buat ‘laporan’ setelah selesai baca. I do rrrrrrrrrreally appreciate all of you, guys! Thank you, Thank you, Thank you!!

dan semua yang sudah selfie bersama buku ini, thank you! <3

*komen disaring dari chat pribadi penulis, instagram, dll.

**i really want to write a lot about every experiences that happened lately, 
gonna make it after i finished all my editing and translation for a project :3

***grab a copy of my book? 
Piece of cake! Just jump to HERE.
Or, no worry, just simply contact me. I'll be gladly order it for you.

****have an amazing day!

2 comments:

annisusanti said...

Na ~ aku mau donk novelmu. Kamu bisa order-in ? hehehe.. Let me know yaa ~ kalau bisa cod-an di Binus :) Thank you

Nana Takizawa said...

Hi, Anni!
Tentu bisa, sampai jumpa di Binus ya! (sebut merek) hahaha. You are very welcome, dear :D